KabarDermayu.com – Memilah sampah dari rumah mungkin terdengar sepele, bahkan sering dianggap merepotkan. Padahal, kebiasaan kecil ini justru menjadi kunci penting dalam mengatasi persoalan sampah yang kian kompleks di kota besar seperti Jakarta.
Di tengah gaya hidup urban yang serba cepat, banyak orang masih mencampur sampah tanpa berpikir panjang. Akibatnya, proses pengolahan menjadi lebih sulit, dan peluang untuk mendaur ulang atau memanfaatkan kembali material bernilai ikut berkurang. Di sinilah pentingnya membangun kebiasaan memilah sampah sejak dari sumbernya, yaitu rumah tangga.
Kesadaran ini coba diangkat melalui berbagai pendekatan yang lebih dekat dengan keseharian masyarakat. Salah satunya terlihat dalam kampanye publik bertema “Pilah Sampah dari Rumah” yang hadir di ruang terbuka seperti Car Free Day Jakarta. Dengan konsep santai dan interaktif, edukasi soal sampah dikemas melalui talkshow ringan, parade, hingga booth yang mengajak pengunjung belajar langsung.
Di sana, masyarakat bisa mengenal cara sederhana memilah sampah, mulai dari organik dan anorganik, hingga melihat langsung bagaimana sampah organik bisa diolah menggunakan maggot, atau bagaimana plastik didaur ulang. Ada juga pengenalan peran Bank Sampah sebagai bagian dari sistem pengelolaan berbasis komunitas.
Menariknya, pendekatan seperti ini terbukti lebih mudah diterima. Banyak pengunjung yang awalnya merasa memilah sampah itu rumit, justru berubah pikiran setelah mendapatkan penjelasan langsung.
“Awalnya saya pikir pilah sampah itu ribet dan menyita waktu, tapi setelah dijelasin langsung di booth, ternyata bisa dimulai dari hal sederhana di rumah. Saya semakin yakin kita sebagai masyarakat bisa disiplin memilah sampah dari rumah selama diniatkan dengan baik,” ujar salah satu pengunjung.
Baca juga: Dorong Penerapan Polisi Hijau di Seluruh Negeri
Dari sisi penggerak lingkungan, perubahan perilaku memang tidak bisa hanya mengandalkan sistem besar di belakang layar. Peran individu tetap menjadi fondasi utama.
“Pengelolaan sampah tidak bisa hanya bergantung pada sistem di hilir. Perubahan harus dimulai dari hulu, yaitu dari rumah tangga dan kebiasaan sehari-hari masyarakat,” ujar Amrullah Rosadi, Managing Director Divers Clean Action, dalam keterangannya, dikutip Senin 4 Mei 2026.
Hal serupa juga ditekankan oleh Johny Noya dari Wahana Visi Indonesia, yang mengingatkan bahwa aturan soal pemilahan sampah sebenarnya sudah ada, namun implementasinya kembali ke kesadaran masing-masing individu.
“Di wilayah Jakarta dan sekitarnya, pemilahan sampah dari rumah sudah tertuang dalam Peraturan Gubernur DKI Jakarta No. 77 Tahun 2020, dan kita sebagai warga semestinya berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan yang lebih baik bagi anak-anak kita sebagai pewaris masa depan,” pungkasnya.
Pada akhirnya, memilah sampah bukan soal besar atau kecilnya aksi, melainkan konsistensi. Dimulai dari memisahkan sisa makanan, plastik, dan kertas di rumah, kebiasaan ini bisa berkembang menjadi gaya hidup yang lebih peduli lingkungan.
Melalui inisiatif seperti program PHINLA—yang dijalankan oleh Divers Clean Action dan Wahana Visi Indonesia dengan dukungan pemerintah Jerman—edukasi semacam ini terus didorong agar semakin banyak masyarakat yang sadar bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah paling sederhana: dari rumah.





