Dampak Perang Iran Terhadap Ekonomi: Jutaan Terancam Kemiskinan dan Kehilangan Pekerjaan

by -4 Views
Dampak Perang Iran Terhadap Ekonomi: Jutaan Terancam Kemiskinan dan Kehilangan Pekerjaan

KabarDermayu.com – Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel telah memperburuk kondisi ekonomi Iran yang sebelumnya sudah tertekan. Serangan udara, gangguan impor, lonjakan inflasi, hingga pembatasan akses internet, telah menyebabkan jutaan warga Iran menghadapi ancaman kemiskinan dan kehilangan pekerjaan.

Sebelum eskalasi konflik ini, perekonomian Iran telah melemah akibat inflasi yang tinggi, praktik korupsi, dan sanksi internasional yang diberlakukan. Hal ini tercermin dari penurunan pendapatan nasional per kapita yang signifikan.

Pendapatan nasional per kapita Iran tercatat menurun dari sekitar US$8.000 atau setara dengan Rp136 juta pada tahun 2012 menjadi hanya US$5.000 atau sekitar Rp85 juta pada tahun 2024.

Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) memproyeksikan bahwa konflik ini dapat mendorong tambahan hingga 4,1 juta orang jatuh ke dalam jurang kemiskinan.

Kerusakan fisik akibat serangan udara juga menimbulkan kerugian besar. Media lokal, EcoIran, melaporkan bahwa lebih dari 23.000 pabrik dan perusahaan mengalami dampak dari serangan tersebut.

Wakil Menteri Tenaga Kerja dan Jaminan Sosial Iran, Gholamhossein Mohammadi, mengonfirmasi bahwa situasi ini telah menyebabkan hilangnya sekitar satu juta pekerjaan secara langsung.

Dampak negatif ini menjalar ke berbagai sektor ekonomi. Industri petrokimia, baja, tekstil, penerbangan, perdagangan digital, hingga para pekerja lepas yang sangat bergantung pada konektivitas internet, semuanya merasakan imbasnya.

Hadi Kahalzadeh, seorang peneliti di Quincy Institute, menjelaskan bahwa gangguan pada aktivitas impor dan distribusi semakin memperberat tekanan ekonomi yang ada.

Baca juga di sini: Pasangan Kandidat Pimpinan NU di Muktamar ke-35

Ia menambahkan, “Banyak perusahaan menghentikan operasional mereka di bawah tekanan gabungan dari perang, inflasi, resesi, dan runtuhnya permintaan,” seperti dikutip dari laporan CNN pada Selasa, 28 April 2026.

Data resmi pemerintah menunjukkan angka inflasi tahunan pada bulan Maret mencapai 72 persen. Kenaikan harga untuk kebutuhan pokok bahkan dilaporkan lebih tinggi dari angka rata-rata tersebut.

Serangan udara yang dilancarkan oleh Israel terhadap kompleks petrokimia besar menyebabkan ribuan pekerja terpaksa dirumahkan tanpa menerima gaji. Produsen trailer, Maral Sanat, terpaksa memberhentikan 1.500 karyawannya akibat kelangkaan pasokan baja.

Sementara itu, perusahaan tekstil Borujerd juga melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 700 pekerjanya.

Lonjakan tajam juga terlihat pada jumlah pengajuan klaim asuransi pengangguran. Dalam dua bulan terakhir, tercatat sebanyak 147.000 pengajuan, angka ini meningkat sekitar tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Seorang pekerja yang merasakan langsung dampaknya adalah Asal, seorang desainer lepas di Teheran. Ia kehilangan proyek-proyeknya setelah akses internet mengalami gangguan selama hampir dua bulan.

“Tidak ada proyek baru, tidak ada balasan. Rasanya seperti semuanya berhenti dalam semalam,” ungkap Asal mengenai pengalamannya.

Kondisi serupa juga dialami oleh Jafar, seorang analis data. Ia kehilangan pekerjaannya setelah perusahaannya terpaksa tutup total dan lebih dari 50 karyawannya dirumahkan.

“Sekarang saya berpikir untuk bekerja di layanan ride-hailing hanya untuk bertahan hidup. Saya harus membayar sewa dan utang, dan saya tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya,” keluh Jafar.

Masalah konektivitas internet juga memberikan dampak signifikan bagi para perempuan yang bekerja dari rumah. Somayeh, seorang pengajar bahasa Jerman daring asal Isfahan, mengeluhkan pekerjaannya yang terganggu karena harus menggunakan aplikasi lokal yang tidak stabil.

“Tidak ada yang berfungsi dengan baik lagi,” ujarnya.

Pemerintah Iran dilaporkan sedang mempersiapkan perluasan program bantuan voucher bulanan untuk membantu masyarakat miskin dalam memenuhi kebutuhan pokok mereka.

Namun, sejumlah pengamat menilai bahwa langkah tersebut belum memadai untuk mengatasi krisis yang ada.

Tanpa adanya dukungan yang cepat dan memadai, seperti penundaan pembayaran pajak, keringanan iuran asuransi, penyediaan pinjaman berbunga rendah, dan bantuan khusus bagi usaha kecil dan menengah (UKM), gelombang pengangguran yang lebih besar diperkirakan akan terus terjadi.

Kamar Dagang Iran pun telah menyerukan agar penyelamatan lapangan kerja dijadikan prioritas utama. Hal ini penting untuk mencegah tekanan ekonomi yang semakin memperburuk kondisi sosial di tengah konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.