Pekerja Tanpa Keahlian AI Bakal Kesulitan Cari Kerja

oleh -7 Dilihat
Pekerja Tanpa Keahlian AI Bakal Kesulitan Cari Kerja

KabarDermayu.com – Perkembangan pesat kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai memberikan dampak nyata pada lanskap dunia kerja global.

Fenomena ini tidak hanya memengaruhi siapa yang berpeluang direkrut, tetapi juga menentukan besaran gaji yang diterima serta nilai yang dapat diciptakan bagi perusahaan.

Meskipun gelombang besar-besaran penggantian tenaga kerja manusia oleh AI belum sepenuhnya terjadi, perubahan fundamental dalam karier sudah mulai terdeteksi.

Sebuah pandangan yang kerap muncul dalam berbagai diskusi adalah bahwa AI tidak akan menggantikan manusia, melainkan individu yang mahir menggunakan AI akan menggantikan mereka yang tidak.

Pernyataan ini semakin relevan seiring dengan meningkatnya adopsi teknologi AI di berbagai sektor industri secara masif.

Dalam kurun waktu tiga tahun sejak peluncuran ChatGPT, pemanfaatan AI telah berkembang pesat, melampaui sekadar prediksi.

Banyak perusahaan kini secara aktif menggunakan AI untuk mengotomatisasi tugas-tugas rutin, mempercepat alur kerja, dan membuka peluang bisnis yang sebelumnya tidak terpikirkan.

Bersamaan dengan itu, berbagai program pelatihan ulang untuk tenaga kerja serta inisiatif pemerintah guna membangun talenta di bidang AI juga terus digalakkan.

Menurut laporan Forbes yang dirilis pada Senin, 4 Mei 2026, data menunjukkan bahwa kemampuan terkait AI telah menjadi faktor pembeda yang krusial di pasar tenaga kerja.

Pada tahun 2025, sebuah laporan dari PwC mencatat bahwa pekerja yang memiliki keterampilan AI mampu memperoleh premi gaji sebesar 56 persen lebih tinggi dibandingkan rekan mereka yang tidak memiliki kemampuan tersebut.

Angka ini merupakan peningkatan signifikan dari 25 persen pada tahun sebelumnya, mengindikasikan lonjakan permintaan terhadap keahlian AI yang terus menerus.

Selain itu, kandidat yang mencantumkan keterampilan AI dalam daftar riwayat hidup mereka memiliki peluang 8 hingga 15 persen lebih besar untuk berhasil melewati tahap seleksi wawancara.

Survei lain juga mengungkapkan bahwa sekitar 72,8 persen individu dengan pendapatan rumah tangga di atas £200.000, atau setara dengan Rp3,4 miliar per tahun, telah meningkatkan penggunaan AI dalam setahun terakhir.

Baca juga: Aktor Mortal Kombat II Bangga Jalani Tur Global Pertama di Jakarta

Hal ini menunjukkan adanya korelasi kuat antara pemanfaatan AI dan tingkat pendapatan yang lebih tinggi.

Meskipun demikian, dampak AI terhadap fenomena pemutusan hubungan kerja (PHK) belum sepenuhnya mendominasi.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa AI menjadi faktor penyebab dalam 25 persen kasus PHK pada tahun 2026, sebuah peningkatan dari 5 persen pada periode yang sama di tahun 2025.

Namun, secara keseluruhan, PHK yang dikaitkan dengan AI masih menyumbang sekitar 5 persen dari total PHK yang terjadi di Amerika Serikat.

Di sisi lain, AI mulai mentransformasi peran dalam berbagai profesi secara mendalam.

Dalam bidang rekayasa perangkat lunak, misalnya, AI kini telah mengambil alih tugas-tugas dasar seperti pembuatan kode sederhana dan perbaikan bug.

Hal ini berdampak pada penurunan kebutuhan untuk posisi tingkat pemula (entry-level), sementara pekerja dengan pengalaman lebih tinggi justru mengalami peningkatan produktivitas yang signifikan.

Di sektor sumber daya manusia, AI dimanfaatkan untuk menyaring CV pelamar, menyusun deskripsi pekerjaan yang efektif, hingga mengelola kebutuhan tenaga kerja berdasarkan analisis data.

Sementara itu, di sektor pendidikan, AI turut berperan dalam pembuatan materi ajar dan proses evaluasi, sekaligus membuka peluang pembelajaran yang lebih personal dan adaptif bagi siswa.

Meskipun belum sepenuhnya menjadi kekuatan yang mengubah dunia kerja secara total, AI kini telah menjadi indikator penting dalam menentukan arah karier seseorang.

Kemampuan dalam memanfaatkan AI mulai digunakan sebagai tolok ukur krusial dalam proses rekrutmen, penentuan besaran gaji, hingga pengukuran kontribusi seorang karyawan terhadap perusahaan.

Seiring dengan tekanan ekonomi yang mendorong perusahaan untuk terus berupaya meningkatkan efisiensi dan inovasi, tren ini diperkirakan akan terus mengalami peningkatan di masa mendatang.