KabarDermayu.com – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat tajam pasca serangan yang dilancarkan oleh Iran ke Uni Emirat Arab (UEA) pada Senin, 4 Mei waktu setempat. Insiden ini memicu kebakaran hebat di kawasan pelabuhan Fujairah, sebuah pusat energi yang sangat strategis bagi UEA.
Akibat serangan tersebut, tiga warga negara India dilaporkan mengalami luka-luka. Menanggapi peristiwa ini, Iran memberikan respons melalui seorang sumber militer seniornya. Sumber tersebut menyatakan bahwa insiden tersebut merupakan dampak dari aksi militer Amerika Serikat di Selat Hormuz.
“Apa yang terjadi merupakan akibat dari aksi militer AS yang berupaya menciptakan jalur bagi kapal-kapal untuk melintas secara ilegal melalui perairan terlarang di Selat Hormuz,” ujar sumber tersebut, mengutip laporan dari laman presstv.ir pada Selasa, 5 Mei 2026.
Sumber itu lebih lanjut menegaskan bahwa militer Amerika Serikat harus memikul tanggung jawab atas kejadian ini. Ia juga melontarkan kritik terhadap Washington, yang dinilai bertindak ceroboh dan membahayakan stabilitas di kawasan Timur Tengah.
Serangan Iran ini juga menuai reaksi keras dari negara-negara Arab di kawasan Teluk. Arab Saudi, Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Yordania secara tegas mengecam tindakan serangan yang dilancarkan oleh Iran.
Melihat rentetan serangan dan kecaman keras dari negara-negara Arab, muncul pertanyaan apakah ini menjadi sinyal awal dari sebuah perang antara negara-negara Arab dengan Iran? Profesor Sultan Barakat, seorang pakar militer sekaligus akademisi di Hamad Bin Khalifa University, berpendapat bahwa UEA kemungkinan akan mendorong adanya respons bersama dari negara-negara Teluk terhadap Iran pasca insiden tersebut.
Namun, Barakat menilai bahwa respons yang akan diberikan oleh negara-negara Teluk cenderung bersifat umum. Ia juga berpandangan bahwa negara-negara di kawasan Teluk tidak memiliki keinginan untuk terlibat secara langsung dalam ketegangan yang semakin memanas ini.
“Namun, saya rasa negara-negara Teluk secara umum masih akan enggan terlibat langsung. Mereka sangat paham bahwa ini bukan konflik mereka, melainkan konflik yang dipaksakan kepada mereka. Dan mereka juga sudah membayar harga ekonomi yang sangat mahal,” kata Barakat kepada Al Jazeera.
Iran Dinilai Menolak “Aturan Baru” dari AS
Lebih lanjut, Barakat mengemukakan pandangannya bahwa laporan terbaru mengenai serangan rudal dan drone Iran yang mengarah ke UEA merupakan bentuk respons Iran terhadap tekanan yang coba diterapkan oleh Amerika Serikat di kawasan tersebut. Tekanan ini termasuk blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan milik Iran.
Baca juga: Daniel: Program JIAT Selamatkan Petani Indramayu
“Saya melihat Iran menolak tunduk pada ‘tatanan baru’ yang coba dipaksakan AS di kawasan ini. Karena itu, mereka terus melakukan manuver dan mengguncang situasi agar kondisi tersebut tidak menjadi sesuatu yang permanen,” tuturnya.
Ketegangan Iran–UEA Dinilai Lebih Sensitif
Barakat menambahkan bahwa terdapat ketegangan khusus antara Iran dan Uni Emirat Arab. Salah satu alasannya adalah sikap UEA yang dinilai tidak sepenuhnya sejalan dengan negara-negara Teluk lainnya, yang cenderung menahan diri untuk tidak membalas Iran selama konflik berlangsung.
“Iran tampaknya cukup menyadari potensi sikap lebih keras yang bisa diambil UEA. Apalagi, mereka juga memahami hubungan UEA yang sangat dekat dengan AS, termasuk koordinasi yang sedang berlangsung terkait blokade,” jelasnya.
Respon Negara-Negara Teluk Atas Serangan Iran ke UEA
Arab Saudi
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi melayangkan kecaman keras terhadap serangan Iran yang menyasar fasilitas sipil dan ekonomi di UEA, termasuk kapal yang dimiliki oleh perusahaan Emirat.
“Kerajaan Arab menegaskan solidaritasnya dengan UEA dalam langkah-langkah untuk menjaga kedaulatan, keamanan, dan keutuhan wilayahnya, serta menyerukan Iran untuk menghentikan serangan ini,” demikian pernyataan resmi dari Arab Saudi.
Qatar
Qatar menyatakan pengutukan kerasnya terhadap serangan terbaru yang dilakukan Iran. Negara ini menilai aksi tersebut sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan UEA dan ancaman serius bagi stabilitas kawasan. Qatar juga menegaskan dukungan penuhnya terhadap langkah-langkah yang diambil oleh UEA.
Kuwait
Kementerian Luar Negeri Kuwait mengecam keras agresi Iran yang dinilai tercela, terutama karena menargetkan kapal tanker minyak milik UEA dan penggunaan drone yang dianggap sebagai ancaman langsung terhadap navigasi di Selat Hormuz. Tindakan tersebut dinilai melanggar prinsip kebebasan pelayaran internasional dan membahayakan keamanan kawasan serta rantai pasokan global.
Bahrain
Bahrain mengecam apa yang mereka sebut sebagai serangan teroris oleh Iran, dan menggambarkannya sebagai eskalasi berbahaya yang mengancam stabilitas kawasan. Bahrain juga menyatakan dukungannya terhadap langkah balasan yang akan diambil oleh UEA dan mendesak Dewan Keamanan PBB untuk mengambil tindakan tegas.
Yordania
Menteri Luar Negeri Yordania, Ayman Safadi, telah berkomunikasi dengan mitranya dari UEA dan menyampaikan kecaman terhadap serangan tersebut. Ia menegaskan solidaritas penuh Yordania dan menyebut serangan itu sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional serta Piagam PBB.
Dewan Kerja Sama Teluk (GCC)
Gulf Cooperation Council (GCC) juga melayangkan kecaman keras terhadap serangan yang menargetkan kapal tanker milik Emirat. Sekretaris Jenderal Jassim Mohammed Al Badawi menyatakan dukungan penuh terhadap upaya UEA dalam menjaga keamanan dan kedaulatannya. Ia menambahkan bahwa serangan terhadap kapal yang melintas di selat tersebut merupakan bentuk pembajakan dan pemerasan serius terhadap keamanan jalur laut.
Meskipun demikian, para analis menilai bahwa negara-negara Teluk masih menunjukkan sikap “enggan” untuk membalas serangan Iran.





