KabarDermayu.com – Keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tengah menjadi sorotan, terutama mengingat kondisi fiskal negara yang menghadapi tekanan dan tuntutan efisiensi anggaran yang semakin meningkat.
Menanggapi hal tersebut, Ekonom Center for Strategic and International Studies (CSIS), Riandy Laksono, mengusulkan solusi penyesuaian yang cerdas untuk menjaga program ini tetap berjalan seiring dengan stabilitas keuangan nasional.
Alih-alih membatasi jangkauan program atau hanya menyasar kelompok masyarakat berpenghasilan rendah, Riandy menyarankan agar frekuensi pemberian makan yang diatur sebagai jalan tengah.
“Agar anggaran tetap sehat dan risiko rating kredit (Indonesia) terjaga, pemerintah bisa mengambil jalan tengah dengan mengatur frekuensi, misalnya dari 6 hari menjadi 3 atau 4 hari seminggu,” ujar Riandy dalam keterangan tertulisnya pada Jumat, 8 Mei 2026.
Baca juga: Arab Saudi: Pangkalan Militer Kami Tidak untuk Operasi AS di Selat Hormuz
Menurutnya, pendekatan ini lebih aman dibandingkan melakukan perubahan total pada struktur program yang sudah berjalan. Hal ini penting untuk tetap menjaga manfaat ekonomi yang telah dirasakan oleh para pekerja dapur dan penyedia bahan pangan.
Selain aspek efisiensi anggaran, Riandy juga menekankan krusialnya menjaga kualitas nutrisi yang diberikan. Hal ini dianggap sebagai investasi jangka panjang untuk Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia.
Ia mendorong pemerintah untuk memperkuat mekanisme pengawasan di lapangan. Tujuannya adalah untuk memastikan setiap anggaran yang dikeluarkan benar-benar terwujud dalam bentuk asupan bergizi yang layak bagi para siswa penerima manfaat.
“Pemerintah perlu memperkuat pola random check atau sidak lapangan, untuk memastikan standar kualitas tetap terjaga. Transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dapur akan menjadi kunci keberhasilan MBG ke depannya,” imbuhnya.
Riandy meyakini bahwa MBG, meskipun dampaknya terhadap produktivitas tenaga kerja baru baru akan terasa di masa depan, merupakan langkah awal yang baik untuk meningkatkan kualitas hidup generasi mendatang.
Ia berpendapat, jika dikelola dengan manajemen yang tepat, MBG dapat berkontribusi dalam ekosistem pertumbuhan ekonomi yang lebih luas.
“Tapi lagi-lagi, jangan diharapkan MBG ini bisa kemudian memutar roda perekonomian sampai 8 persen, akan sulit dibayangkan,” tegas Riandy.
Ia menambahkan, untuk menggerakkan roda perekonomian secara signifikan, diperlukan berbagai mesin ekonomi baru, tidak hanya mengandalkan sektor pertanian.
“Perlu ada sektor-sektor yang lain yang perlu digenjot. Jadi jangan mengandalkan MBG sendirian untuk strategi pertumbuhan, sehingga kita jor-joran ke pertanian,” pungkasnya.





