KabarDermayu.com – Intelijen Amerika Serikat mengungkap bahwa Mojtaba Khamenei, yang kini menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, masih aktif terlibat dalam perumusan strategi perang negara tersebut. Informasi ini dirilis oleh CNN Internasional pada Jumat, 8 Mei waktu setempat.
Meskipun jarang terlihat di publik, Mojtaba Khamenei diduga kuat turut serta dalam negosiasi dengan Washington. Hal ini terjadi setelah ia mengalami luka akibat perang yang dialami Iran.
Baca juga: Raharja Energi Cepu Bagikan Dividen Rp122,17 Miliar kepada Pemegang Saham
Sumber yang mengetahui penilaian intelijen AS tersebut menyatakan bahwa masih ada ketidakjelasan mengenai sejauh mana kewenangan Mojtaba Khamenei dalam struktur kepemimpinan Iran saat ini. Situasi ini muncul pasca serangkaian serangan dalam perang yang menyebabkan gugurnya beberapa pejabat senior Iran, termasuk ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei.
Mengutip dari Anadolu Agency pada Sabtu, 9 Mei 2026, pejabat Amerika Serikat meyakini bahwa Mojtaba Khamenei tetap menjaga komunikasi melalui orang-orang terpercaya dan pertemuan tatap muka secara tertutup. Komunikasi ini dilakukan selama masa pemulihannya dari luka bakar dan luka akibat serpihan ledakan.
Di sisi lain, pihak Iran menegaskan bahwa kondisi kesehatan Khamenei terus membaik. Kepala protokol kantor pemimpin tertinggi Iran, Mazaher Hosseini, pada Jumat menyatakan bahwa kesehatan Khamenei menunjukkan perkembangan positif dan membantah berbagai spekulasi yang beredar.
Laporan intelijen AS juga menunjukkan bahwa kemampuan militer Iran memang mengalami pelemahan akibat serangan Amerika Serikat. Namun, kekuatan militer tersebut belum sepenuhnya hancur, dan banyak peluncur rudal Iran dilaporkan masih dapat beroperasi.
Selain itu, beberapa petinggi Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bersama Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf diduga kini menangani sebagian besar operasional pemerintahan sehari-hari. Hal ini terjadi di tengah berlanjutnya upaya diplomatik dengan pemerintahan Donald Trump.





