Rela Boros Demi Ikut-ikutan Tren Jajan Kantoran, Gen Z Takut Ketinggalan

oleh -6 Dilihat
Rela Boros Demi Ikut-ikutan Tren Jajan Kantoran, Gen Z Takut Ketinggalan

KabarDermayu.com – Budaya jajan sore bersama di kantor, yang dikenal sebagai afternoon tea culture, telah berkembang menjadi fenomena yang membebani secara finansial bagi banyak pekerja muda, terutama Generasi Z. Kebiasaan yang awalnya bertujuan untuk mempererat hubungan antarkaryawan ini kini seringkali memaksa mereka untuk menghabiskan sebagian besar gaji demi tetap diterima di lingkungan kerja.

Beberapa karyawan dilaporkan rela menguras penghasilan bulanan mereka hanya untuk mengikuti tren jajan kopi dan camilan bersama rekan kerja. Fenomena ini cukup terasa di Vietnam, di mana para pekerja muda mengeluhkan gaji bulanan mereka ludes hanya untuk kebutuhan sosial di kantor.

Salah satu contohnya adalah Bao Trang, seorang mahasiswi magang berusia 22 tahun di sebuah perusahaan desain di Ho Chi Minh City. Awalnya, rekan-rekannya masih mentraktirnya, namun setelah beberapa waktu, ia harus ikut membayar sendiri. Pengeluaran harian untuk kopi dan camilan ini bisa mencapai 60.000-70.000 dong Vietnam, setara dengan Rp38 ribu-Rp45 ribu.

Akibatnya, uang magangnya yang hanya sekitar 3 juta dong Vietnam per bulan habis tak bersisa untuk kegiatan makan dan minum bersama rekan kerja. Yang lebih memprihatinkan, Trang tetap ikut serta karena takut dicap tidak ramah dan dikucilkan dari lingkungan kantor.

Fenomena ini ternyata bukan kasus yang terisolasi. Banyak pekerja baru yang mulai merasa tertekan oleh budaya jajan bersama ini. Apa yang dulunya dianggap sebagai aktivitas santai untuk membangun keakraban, kini berubah menjadi tekanan sosial yang sulit untuk ditolak.

Sebuah video di media sosial yang membahas tekanan dari budaya afternoon tea ini bahkan menjadi viral dan memicu puluhan ribu komentar. Di platform Threads, diskusi mengenai “tekanan patungan jajan kantor” juga menarik perhatian hampir 100 ribu interaksi, menunjukkan betapa luasnya keresahan ini dirasakan oleh para pekerja muda.

Laporan Social Culture Report 2025 mengungkap bahwa lebih dari sepertiga pekerja global merasa tidak nyaman dengan tekanan untuk mengikuti kegiatan sosial di kantor. Generasi Z menjadi kelompok yang paling tinggi mengalami stres terkait hal ini.

Namun, tidak semua pengalaman serupa berakhir negatif. Tu Hao, seorang pekerja berusia 35 tahun di Hanoi, pernah mencoba menghindari acara kumpul-kumpul karena sedang menjalani pola makan ketat. Setelah menjelaskan kondisinya kepada rekan-rekannya, mereka justru mulai memilih menu yang lebih sehat agar Tu Hao tetap bisa bergabung.

HR Manager di sebuah perusahaan media di Ho Chi Minh City, Tran Tuyet, berpendapat bahwa perusahaan perlu berperan aktif dalam mengurangi tekanan sosial semacam ini. Mengingat mayoritas karyawannya adalah Generasi Z yang berusia 20-25 tahun, perusahaan tempatnya bekerja menyediakan area pantry bersama untuk menyiapkan camilan ringan.

“Daripada terus memesan dari luar, karyawan didorong menyumbang makanan ringan ke lemari camilan bersama,” ujar Tuyet. Pendekatan ini diharapkan dapat mengurangi beban finansial individu sekaligus tetap menjaga kebersamaan.

Pakar komunikasi asal Hanoi, To Quynh Mai, menyarankan para pekerja untuk menolak ajakan jajan dengan cara yang sopan agar tidak menyinggung rekan kerja. Menurutnya, konsistensi dalam menetapkan batasan pribadi akan membantu rekan kerja memahami kondisi tersebut tanpa perlu penjelasan berulang kali.

Mai menyarankan penggunaan kalimat seperti, “Saya sedang mengurangi makanan manis, tapi tetap ikut ngobrol bersama,” atau “Saya sedang mengatur pengeluaran jadi tidak bisa sering ikut, mungkin untuk acara tertentu saja.” Kalimat-kalimat ini menunjukkan penolakan yang tegas namun tetap menjaga hubungan baik.

Baca juga: Grace Natalie Tegaskan Tak Ada Masalah dengan Jusuf Kalla

Fenomena afternoon tea culture ini menjadi pengingat penting bahwa kebiasaan nongkrong di kantor, yang awalnya dimaksudkan untuk kebaikan, dapat berubah menjadi sumber tekanan sosial dan finansial bagi pekerja muda. Oleh karena itu, sangat penting bagi karyawan dan perusahaan untuk bersama-sama menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat, nyaman, dan saling menghargai batas kemampuan masing-masing.