Dokter Magang Meninggal, DPR Minta Audit Investigatif

oleh -5 Dilihat
Dokter Magang Meninggal, DPR Minta Audit Investigatif

KabarDermayu.com – Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Pulung Agustanto, menyampaikan belasungkawa mendalam atas berpulangnya dr. Myta Aprilia Azmy. Dokter muda ini meninggal dunia saat menjalani program magang di RSUD KH Daud Arif, Kuala Tungkal, Jambi.

Pulung Agustanto menyatakan keprihatinannya terhadap dugaan eksploitasi beban kerja yang dialami oleh tenaga medis muda. Ia melihat kejadian ini sebagai peringatan keras terhadap manajemen perlindungan tenaga medis di Indonesia.

“Kejadian ini bukan sekadar berita duka, melainkan alarm keras bahwa ada yang salah dalam manajemen perlindungan tenaga medis kita di mana seorang pekerja kemanusiaan justru kehilangan nyawa akibat beban kerja yang tidak manusiawi,” ujar Pulung dalam keterangan tertulisnya pada Senin, 4 Mei 2026.

Menurut laporan dari Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, dr. Myta diduga dipaksa bekerja melampaui batas kemampuan fisiknya. Terdapat indikasi kuat bahwa ia bertugas selama tiga bulan berturut-turut tanpa libur di bangsal dan IGD.

Kondisi ini diperparah dengan seringnya ia bekerja tanpa supervisi langsung dari dokter definitif yang seharusnya mendampingi dokter magang. Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa dr. Myta tetap diwajibkan bertugas jaga malam meskipun kondisinya memburuk.

Gejala yang dialami dr. Myta meliputi demam tinggi, sesak napas, dan saturasi oksigen yang turun drastis hingga 80 persen. Hal ini menunjukkan kondisi kesehatan yang sudah sangat rentan.

“Menugaskan seseorang yang sedang sesak napas untuk bertugas adalah tindakan yang tidak bisa dinalar. Kita sedang membicarakan nyawa manusia, bukan mesin yang bisa dipaksa bekerja tanpa henti,” tegas Pulung.

Pulung mengingatkan bahwa tragedi di Jambi ini bukanlah insiden tunggal. Ia mencatat bahwa ini menambah daftar panjang dokter muda yang gugur saat bertugas di tahun 2026.

Berdasarkan pemantauannya, setidaknya sudah ada empat kasus dokter internship yang meninggal dunia di berbagai wilayah di Indonesia. Selain di Jambi, kejadian serupa juga dilaporkan terjadi di RSUD Pagelaran Cianjur, RS Bhayangkara Denpasar, dan RSUD Soesilo Swali, Tegal.

Meskipun latar belakang medis dari setiap kasus mungkin berbeda, Pulung berpendapat bahwa rentetan kematian dokter muda dalam waktu berdekatan ini sudah lebih dari cukup bagi Kementerian Kesehatan untuk melakukan audit investigatif secara menyeluruh.

“Kita harus mencari akar masalahnya, apakah ini masalah sistemik, kegagalan supervisi, atau budaya kerja yang toksik,” tambahnya. Ia menekankan pentingnya penelusuran mendalam untuk mencegah terulangnya kejadian serupa.

Pulung meminta Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk tidak menganggap kasus ini hanya sebagai ‘angka statistik’ atau kejadian medis biasa. Ia mendesak adanya reformasi pada Program Internship Dokter Indonesia (PIDI).

Perhatian khusus perlu diberikan pada pengaturan jam kerja yang lebih manusiawi dan peningkatan perlindungan kesehatan bagi para tenaga medis, terutama mereka yang masih dalam tahap pelatihan.

Baca juga: Michael Carrick Ungkap Fakta Soal Sir Alex Ferguson yang Mengguncang Mental Manchester United

“Jangan sampai tunas-tunas muda berguguran karena kecerobohan dan kekacauan sistem kita,” pungkas Pulung, menekankan urgensi perbaikan sistem demi masa depan tenaga medis Indonesia.