Gejala Campak pada Anak yang Perlu Diwaspadai

oleh -5 Dilihat
Gejala Campak pada Anak yang Perlu Diwaspadai

KabarDermayu.com – Campak adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus morbillivirus. Penyakit ini sangat menular dan menyebar melalui udara atau percikan saluran pernapasan saat penderitanya batuk atau bersin.

Mengingat sifatnya yang sangat menular, orang tua perlu mengenali gejala campak pada anak sejak dini. Hal ini penting agar penyakit tersebut dapat segera ditangani dan dicegah dari komplikasi serius.

Campak dapat menyebabkan komplikasi yang membahayakan, terutama pada anak yang belum mendapatkan vaksinasi dan kelompok rentan lainnya. Komplikasi serius tersebut antara lain pneumonia dan ensefalitis, yaitu infeksi yang dapat menyebabkan peradangan dan kerusakan otak.

Dalam kasus yang jarang terjadi, campak bahkan dapat menimbulkan komplikasi neurologis jangka panjang seperti SSPE (Subakut Sklerosis Panensefalitis), yang menyerang sistem saraf pusat atau otak, hingga berujung pada kematian.

Lantas, gejala apa saja yang patut diwaspadai oleh orang tua? Umumnya, gejala awal campak meliputi demam tinggi, batuk, pilek, mata merah atau berair, sakit tenggorokan, dan rasa lelah yang berlebihan.

Setelah dua hingga tiga hari terpapar virus, anak yang terinfeksi campak biasanya akan menunjukkan gejala lain. Gejala tersebut termasuk munculnya ruam kemerahan yang dimulai dari wajah dan leher, kemudian menyebar ke seluruh tubuh.

Selain ruam, gejala lain yang mungkin muncul adalah timbulnya bercak putih kecil di bagian dalam pipi, yang dikenal sebagai bintik Koplik, serta diare.

Campak Dapat Dicegah Melalui Vaksinasi

Berdasarkan laporan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia, tercatat sebanyak 10 kematian terkait campak di tingkat nasional pada tahun 2026. BPOM juga menginformasikan bahwa sekitar 8 persen kasus campak terjadi pada kelompok usia dewasa, yaitu di atas 18 tahun.

Hal ini menunjukkan betapa pentingnya perlindungan tidak hanya bagi anak-anak, tetapi juga bagi kelompok dewasa yang memiliki risiko terpapar campak. Meskipun data menunjukkan adanya penurunan kasus dibandingkan periode puncak sebelumnya, otoritas kesehatan tetap menekankan pentingnya kewaspadaan.

Untuk mencapai kekebalan kelompok (herd immunity) dan memutus rantai penularan campak, cakupan vaksinasi yang idealnya harus mencapai lebih dari 95 persen. Namun, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melaporkan bahwa cakupan imunisasi campak-rubela (MR) pada tahun 2024 baru mencapai 92 persen untuk dosis pertama (MR1) dan 82,3 persen untuk dosis kedua (MR2).

Dengan dukungan kuat dan tindakan responsif dari BPOM, masyarakat Indonesia dapat memperoleh akses yang lebih cepat terhadap obat-obatan dan vaksin baru yang inovatif.

Dalam tiga tahun terakhir, GSK mencatat rata-rata satu registrasi obat atau vaksin baru setiap enam bulan. Upaya ini bertujuan untuk mempercepat akses masyarakat Indonesia terhadap terapi inovatif dan langkah-langkah pencegahan penyakit.

“Kami meyakini bahwa pencegahan adalah tanggung jawab bersama. Setiap individu yang terlindungi merupakan langkah penting menuju masyarakat yang lebih kuat dan sehat. Dengan pengalaman panjang dalam riset dan pengembangan vaksin, GSK mendukung upaya Indonesia dalam meningkatkan imunitas dan melindungi anak-anak,” ujar dr. Calvin Kwan, Country Medical Director GSK Indonesia.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa sebagai bagian dari komitmen untuk meningkatkan kesadaran publik, GSK juga menyediakan informasi mengenai penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin melalui kanal media sosial @ayokitavaksin.

Sementara itu, Director of Market Access and CGA GSK Indonesia, Reswita Dery Gisriani, mengungkapkan apresiasinya terhadap peran BPOM. Ia menyoroti kesigapan dan ketelitian BPOM dalam memperkuat ketahanan kesehatan nasional, termasuk melalui proses persetujuan yang tepat waktu, seperti dalam pemberian izin edar vaksin MMR (measles/campak, mumps/gondongan, rubella).

“Respons yang cepat sangatlah krusial dalam menangani wabah campak yang sedang berlangsung. Hal ini mencerminkan komitmen untuk melindungi masyarakat, khususnya anak-anak. GSK berkomitmen untuk terus bekerja sama dengan asosiasi, regulator, dan tenaga kesehatan dalam menghadirkan obat dan vaksin inovatif yang aman, efektif, dan tepat waktu bagi masyarakat Indonesia,” ujar Reswita.

Persetujuan BPOM terhadap vaksin MMR merupakan langkah penting yang berbasis ilmiah. Vaksin ini membantu melindungi individu sekaligus mendukung pembentukan kekebalan komunal. Secara global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pemberian dosis pertama vaksin campak pada bayi berusia sekitar 9 bulan di wilayah dengan risiko tinggi.

WHO juga menekankan pentingnya pemberian dosis kedua untuk memastikan perlindungan yang optimal. Dosis kedua ini umumnya dijadwalkan pada usia 15 hingga 18 bulan. Imunisasi pada orang dewasa juga memiliki peran signifikan dalam terbentuknya kekebalan komunal.

Sesuai dengan publikasi yang dikeluarkan oleh BPOM, individu dewasa yang termasuk dalam kelompok berisiko tinggi, seperti tenaga kesehatan, pelaku perjalanan internasional, dan individu yang memiliki kontak erat dengan pasien imunokompromais, disarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai vaksinasi lanjutan.

Baca juga: Enam Terdakwa Dugaan Korupsi Baznas Enrekang Divonis Bebas

Upaya ini menegaskan pentingnya mempertahankan cakupan imunisasi yang tinggi di seluruh kelompok usia. Hal tersebut bertujuan untuk membantu menekan angka penularan campak dan melindungi populasi yang rentan.