Harga Minyak Dunia Melonjak Rp2 Juta per Barel Akibat Perpanjangan Blokade AS

by -4 Views
Harga Minyak Dunia Melonjak Rp2 Juta per Barel Akibat Perpanjangan Blokade AS

KabarDermayu.com – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memicu lonjakan harga minyak dunia. Pada perdagangan Rabu sore waktu AS, harga minyak mentah melonjak tajam setelah AS mengumumkan rencana perpanjangan blokade terhadap Iran.

Kenaikan harga ini mencerminkan kekhawatiran pasar global akan potensi gangguan pasokan energi. Khususnya, pasokan dari kawasan Teluk yang memegang peranan krusial dalam distribusi minyak dan gas dunia.

Mengutip laporan BBC, harga minyak mentah Brent tercatat naik signifikan hingga mencapai US$116,98 per barel pada Rabu sore, 29 April 2026. Nilai ini setara dengan sekitar Rp 2,03 juta, dengan asumsi kurs Rp 17.380 per dolar AS. Angka ini menunjukkan kenaikan substansial dibandingkan sehari sebelumnya yang masih berada di kisaran US$110 per barel.

Baca juga di sini: Strategi DCA Meredam Risiko Volatilitas Pasar Kripto, Begini Penjelasannya

Sumber dari The Wall Street Journal melaporkan bahwa Presiden AS, Donald Trump, telah memberikan instruksi kepada timnya untuk mempersiapkan perpanjangan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Langkah ini disebut sebagai strategi untuk memberikan tekanan ekonomi yang lebih besar kepada Teheran.

Menanggapi kebijakan AS tersebut, Iran memberikan pernyataan tegas. Teheran menegaskan akan terus melakukan penutupan lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Jalur laut ini dikenal sebagai salah satu rute paling strategis di dunia, yang secara rutin dilalui oleh sekitar seperlima dari total pasokan minyak dan gas alam cair global.

Sejak eskalasi konflik, pasar minyak mengalami fluktuasi harga yang sangat dinamis. Penutupan Selat Hormuz yang telah berlangsung selama beberapa pekan terakhir semakin memperparah ketidakpastian di pasar energi.

Iran dilaporkan telah memperketat pembatasan pelayaran sebagai respons atas serangan yang dilancarkan oleh AS dan Israel, yang dimulai pada 28 Februari 2026. Pada awal bulan ini, Teheran telah memberikan peringatan bahwa setiap kapal yang mendekati jalur laut strategis ini akan menjadi target.

Menghadapi situasi ini, AS merespons dengan mengerahkan pasukan militernya. Tujuannya adalah untuk mencegat atau memaksa kapal-kapal yang menuju atau keluar dari pelabuhan Iran agar berbalik arah.

Analisis yang dilakukan oleh BBC Verify menunjukkan bahwa setidaknya ada empat kapal yang terdeteksi keluar dari pelabuhan Iran berhasil melewati garis blokade yang diberlakukan oleh AS. Kondisi ini menambah kompleksitas situasi di lapangan dan meningkatkan risiko terjadinya gangguan terhadap pasokan energi global.

Meskipun sempat mengalami penurunan hingga mencapai level US$90 per barel setelah adanya pengumuman gencatan senjata antara Israel dan Lebanon pada 17 April 2026, harga minyak kembali menunjukkan tren kenaikan dalam 12 hari terakhir. Kenaikan ini sebagian besar disebabkan oleh kelanjutan kebijakan blokade yang diterapkan oleh AS terhadap Iran.

Secara keseluruhan, harga minyak saat ini masih berada jauh di atas level sebelum konflik terjadi. Mahalnya harga energi mengindikasikan tingginya tekanan geopolitik yang terus membayangi pasar energi dunia.