Hillary Brigitta Nilai Kebijakan MBG Baru Berpotensi Melibatkan Seluruh Kelompok

oleh -5 Dilihat
Hillary Brigitta Nilai Kebijakan MBG Baru Berpotensi Melibatkan Seluruh Kelompok

KabarDermayu.com – Kebijakan baru mengenai perekrutan relawan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai mampu melibatkan semua kalangan masyarakat. Hal ini disampaikan oleh Anggota DPR RI, Hillary Brigitta Lasut.

Program relawan MBG kini membuka kesempatan lebih luas bagi masyarakat. Sebelumnya, perekrutan relawan identik dengan batas usia tertentu. Kini, aturan tersebut dilonggarkan sehingga masyarakat dari berbagai kelompok umur dapat bergabung.

Kebijakan baru ini merupakan bagian dari upaya memperbesar keterlibatan publik dalam berbagai kegiatan sosial dan pelayanan masyarakat yang dijalankan oleh relawan MBG. Dengan dibukanya kesempatan tanpa batas usia, partisipasi warga diharapkan dapat semakin meningkat.

Perubahan aturan ini mendapat perhatian positif, terutama dari kalangan dewasa dan lansia yang sebelumnya merasa terbatas untuk terlibat dalam kegiatan kerelawanan. Kini, mereka memiliki peluang yang sama untuk berkontribusi sesuai kemampuan masing-masing.

Baca juga: Gejala Campak pada Anak yang Perlu Diwaspadai

Menurut Hillary Brigitta Lasut, apresiasi diberikan kepada langkah cepat Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana. Dadan telah membatalkan pembatasan usia maksimal 50 tahun bagi relawan program MBG.

Keputusan tersebut dinilai sebagai kebijakan yang lebih inklusif dan manusiawi. Hal ini karena membuka kesempatan bagi siapa saja yang masih sehat dan produktif untuk ikut terlibat dalam program nasional tersebut.

“Di luar negeri, dunia profesional dan aktivitas sosial tidak lagi melihat angka usia sebagai hambatan utama. Yang dinilai adalah kondisi kesehatan, kemampuan, dan semangat kerja seseorang,” ujar Hillary Brigitta.

Legislator muda itu menilai kebijakan baru BGN mencerminkan pandangan modern yang mulai menghapus diskriminasi usia. Diskriminasi usia dalam dunia kerja maupun kegiatan sosial kini mulai dihilangkan.

Ia optimistis langkah tersebut dapat membawa dampak besar terhadap pembangunan sumber daya manusia di Indonesia. Program MBG bukan hanya tentang pemenuhan gizi, tetapi juga memiliki efek ekonomi yang nyata.

Terutama bagi warga di daerah pedesaan yang menggantungkan tambahan penghasilan dari aktivitas sebagai relawan. Hillary mengungkapkan, jika pembatasan usia tetap diterapkan secara ketat, banyak masyarakat desa berpotensi kehilangan sumber pemasukan.

Pendapatan sebagai relawan ternyata cukup membantu meningkatkan daya beli keluarga mereka. “Hampir saja banyak relawan terdampak secara ekonomi jika aturan batas usia diterapkan secara kaku. Bagi masyarakat desa, pendapatan sebagai relawan ternyata cukup membantu meningkatkan daya beli keluarga mereka,” katanya.

Hillary juga menambahkan bahwa keberadaan relawan dalam program MBG memiliki efek domino terhadap perputaran ekonomi lokal. Meskipun nominal penghasilannya tidak besar, uang yang beredar di masyarakat dinilai mampu membantu aktivitas ekonomi di tingkat bawah tetap berjalan.

Menurutnya, membuka ruang bagi semua kalangan untuk ikut terlibat tidak hanya membantu mempercepat pemenuhan gizi anak-anak Indonesia. Hal ini juga menjaga keberlangsungan ekonomi masyarakat kecil agar tidak merasa ditinggalkan oleh program pemerintah.