KabarDermayu.com – Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, melontarkan sindiran tajam kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth.
Sindiran ini menyusul klaim AS bahwa blokade yang dilakukan Angkatan Laut AS terhadap Iran lebih efektif dibandingkan tindakan militer berupa pemboman.
Ghalibaf melalui unggahan di media sosialnya, memberikan tanggapan yang menohok. Ia mengingatkan Trump dan jajarannya bahwa Iran memiliki perbatasan yang sangat luas, sehingga upaya untuk mengurungnya akan sia-sia.
“Jika kalian menarik dua tembok, satu dari New York ke pantai barat AS, dan satu lagi dari Los Angeles ke pantai timur, total panjang kedua tembok itu adalah 7.755 kilometer. Masih seribu kilometer lebih pendek dari total panjang perbatasan Iran,” tulis Ghalibaf.
Ia menambahkan dengan nada sarkastis, “Selamat mencoba mengepung negara dengan perbatasan sepanjang itu!” Ghalibaf bahkan menyertakan emotikon tertawa dalam cuitannya tersebut untuk menekankan ketidaklogisan klaim AS.
Tidak hanya itu, Ghalibaf juga menyertakan catatan tambahan untuk Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, mengingatkan konversi satuan panjang, “Setiap kilometer sama dengan 0,62 mil.”
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump dilaporkan menolak proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Trump justru memilih untuk mempertahankan blokade Angkatan Laut AS sebagai strategi untuk menekan Iran terkait program nuklirnya. Hal ini dilaporkan oleh Axios pada Rabu, 29 April 2026.
Trump menyatakan bahwa blokade angkatan laut AS terhadap Iran dapat berlanjut selama berbulan-bulan. Dampaknya, harga minyak dunia diprediksi akan melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari empat tahun, yang diperkirakan akan bertahan hingga Kamis, 30 April 2026.
“Blokade ini sedikit lebih efektif dibandingkan pengeboman. Mereka tercekik seperti babi yang dijejali. Dan itu akan menjadi lebih buruk bagi mereka,” ujar Trump.
Ia mengklaim bahwa Iran saat ini sedang berupaya mencari kesepakatan untuk mencabut blokade AS yang diberlakukan pada jalur pelayaran strategis tersebut.
Trump secara tegas menolak tawaran Iran untuk membuka Selat Hormuz dan menunda pembahasan mengenai program nuklir. Ia menegaskan bahwa tujuan utamanya tetaplah mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.
Lebih lanjut, Trump juga menyampaikan bahwa ketidakmampuan Iran untuk mengekspor minyak telah membuat infrastruktur negara tersebut berada dalam kondisi yang “hampir meledak.”
Dalam konteks diplomasi yang terhenti antara Iran dan Amerika Serikat setelah beberapa kali upaya gagal, Trump dikabarkan melakukan panggilan telepon pada hari Rabu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Baca juga di sini: Serie A di ANTV Pekan Ini: Napoli, Juventus, dan AS Roma Tayang Langsung
Dalam percakapan tersebut, Putin memperingatkan Trump mengenai “konsekuensi yang merusak” apabila Amerika Serikat dan Israel terus melanjutkan tindakan mereka terhadap Iran.





