Krisis Helium Mengancam, Sektor Teknologi dan Medis Terimbas

oleh -5 Dilihat
Krisis Helium Mengancam, Sektor Teknologi dan Medis Terimbas

KabarDermayu.com – Krisis pasokan helium global mulai menimbulkan kekhawatiran serius bagi industri teknologi dan medis. Konflik yang terjadi di Timur Tengah telah membatasi produksi dan distribusi gas penting ini, terutama yang berasal dari kawasan Teluk.

Helium memegang peranan krusial dalam berbagai proses industri teknologi. Gas ini vital untuk sistem pendinginan, deteksi kebocoran, serta manufaktur presisi yang dibutuhkan dalam pembuatan chip semikonduktor.

Sejumlah pelaku industri telah merasakan dampak dari pengetatan pasokan ini. Cameron Johnson, mitra senior di perusahaan konsultan rantai pasok Tidal Wave Solutions, menyatakan bahwa kelangkaan helium adalah isu yang sangat mengkhawatirkan.

Ia menambahkan bahwa jika kekurangan helium semakin parah, perusahaan mungkin terpaksa memperlambat, bahkan menghentikan produksi. Hal ini termasuk produksi chip semikonduktor yang sangat bergantung pada pasokan gas tersebut.

Dampak dari krisis helium ini diprediksi akan meluas ke berbagai sektor. Mulai dari industri elektronik, otomotif, hingga produksi smartphone, semuanya berpotensi terkena imbasnya.

Ketergantungan global yang tinggi pada pasokan helium dari Timur Tengah menjadi akar masalah ini. Qatar, sebagai salah satu produsen utama, menyumbang hampir sepertiga dari total produksi helium dunia. Pada tahun 2025, produksi negara ini mencapai sekitar 63 juta meter kubik.

Namun, konflik yang melibatkan Iran telah mengganggu sekitar sepertiga dari total pasokan global. Gangguan ini terutama disebabkan oleh hambatan dalam jalur distribusi melalui Selat Hormuz.

Helium sendiri merupakan produk sampingan dari proses produksi gas alam cair (LNG). Adanya gangguan pada fasilitas energi di Qatar secara langsung menekan produksi LNG, yang kemudian berimbas pada berkurangnya pasokan helium.

Menurut laporan dari Al Jazeera, QatarEnergy memperkirakan bahwa ekspor helium cair akan mengalami penurunan sekitar 14 persen setiap tahunnya. Dampak dari krisis ini bahkan sudah mulai dirasakan oleh perusahaan-perusahaan di sektor teknologi.

Baca juga: Sinergi Pusat-Daerah Kunci Hadapi Tantangan Global dan Perkuat Daya Saing Nasional

Jerry Zhang, pimpinan penjualan China di perusahaan semikonduktor VAT, mengungkapkan bahwa konflik tersebut telah memperketat pasokan dan secara signifikan memengaruhi proses produksi. Ia juga menyebutkan bahwa keterlambatan dalam transportasi semakin memperburuk situasi, mendorong perusahaan untuk mencari sumber pasokan alternatif dari Amerika Serikat.

Selain helium, rantai pasok bahan baku lain juga mengalami gangguan. Zhou Limin dari unit MRSI milik Mycronic melaporkan adanya keterlambatan pengiriman beberapa material yang berasal dari Israel. “Pasti ada dampak jangka pendek, dan itu sudah memengaruhi kami,” ujarnya.

Perusahaan gas industri pun mulai mengambil langkah antisipasi. Seorang eksekutif dari Air Liquide memberikan peringatan mengenai potensi terjadinya kekurangan helium dalam jangka pendek.

Tidak hanya sektor teknologi, industri medis juga merasakan dampak signifikan dari krisis helium ini. Helium merupakan komponen vital dalam mesin Magnetic Resonance Imaging (MRI) untuk mendinginkan magnet superkonduktor.

Gangguan pasokan helium berpotensi menghambat operasional mesin MRI, yang sangat penting untuk diagnosis medis di berbagai fasilitas kesehatan.

Aleksandr Romanenko, CEO IndexBox, memperkirakan bahwa gangguan pasokan selama 30 hari dapat menyebabkan kenaikan harga helium sebesar 10 hingga 20 persen. Jika gangguan berlangsung selama 60 hingga 90 hari, kenaikan harga bisa mencapai 25 hingga 50 persen.

Helium adalah gas yang tidak memiliki pengganti sintetis. Oleh karena itu, setiap gangguan pada pasokannya akan langsung berdampak pada berbagai sektor industri. Meskipun Amerika Serikat merupakan produsen terbesar, banyak negara masih sangat bergantung pada pasokan dari kawasan Teluk.

Distributor besar seperti Airgas dilaporkan telah mengurangi pengiriman helium hingga setengahnya. Sementara itu, Air Liquide berencana untuk mengalihkan rantai pasokan ke sumber lain demi menjaga ketersediaan gas tersebut bagi para pelanggannya.