Negara Harus Hadir untuk Pemulihan Korban Pencabulan di Ponpes Pati

oleh -5 Dilihat
Negara Harus Hadir untuk Pemulihan Korban Pencabulan di Ponpes Pati

KabarDermayu.com – KH Abdussalam Shohib, yang akrab disapa Gus Salam, angkat bicara mengenai kasus dugaan pencabulan yang menimpa puluhan santriwati di sebuah pondok pesantren di Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Beliau menekankan pentingnya peran negara dalam memberikan perlindungan komprehensif bagi para korban dan keluarga mereka.

Gus Salam menyoroti bahwa sebagian besar dari sekitar lima puluh korban berasal dari keluarga kurang mampu, bahkan ada yang berstatus yatim piatu. Oleh karena itu, pemerintah diharapkan segera memberikan perlindungan yang menyeluruh.

Pernyataan ini disampaikan Gus Salam melalui keterangan tertulisnya pada Selasa, 5 Mei 2026. Beliau mengungkapkan keprihatinan mendalam atas peristiwa yang terjadi dan dampak psikologis yang dialami oleh para santriwati yang menjadi korban.

Lebih lanjut, Gus Salam berpendapat bahwa pemerintah perlu merancang skema program yang mampu membangkitkan kembali semangat para korban untuk melanjutkan pendidikan dan meraih cita-cita mereka. Selain itu, perhatian juga perlu diberikan pada pemulihan ekonomi keluarga korban.

“Keprihatinan mendalam tidak hanya kita rasakan untuk korban dan keluarga. Komunitas pesantren pun sangat terpukul oleh ulah oknum, seperti itu,” ujar Gus Salam. Ia kembali menegaskan, “Tapi itu tadi kita minta, negara dan pemerintah wajib hadir untuk mereka dengan perlindungan serta pemulihan kondisi korban dan keluarganya.”

Gus Salam menambahkan bahwa kasus yang merusak citra baik pesantren, seperti yang terjadi di Tlogosari, Pati, bukanlah kali pertama. Ia mengaku telah menemukan berbagai kasus tindak kekerasan dan pelecehan di lingkungan pesantren.

“Tragedi Tlogosari, Pati dan kejadian serupa harus menjadi momentum bagi pesantren dan jam’iyyah NU di semua tingkatan untuk instrospeksi supaya kejadian serupa tidak terulang,” tegas Gus Salam.

Beliau mengajak agar setiap pesantren menunjukkan sikap reflektif. Hal ini berarti menyadari kekurangan yang ada dan mencari celah kelemahan untuk diperbaiki demi memberikan khidmah ilmu dan mempersiapkan generasi masa depan. Gus Salam menekankan bahwa hal tersebut merupakan amanat penuh.

Gus Salam menyadari bahwa Nahdlatul Ulama (NU) memiliki perangkat dan sumber daya yang memadai untuk turut mendampingi pesantren. Melalui Rabithah Ma’ahid Indonesia (RMI), NU dapat berperan dalam memperbaiki kelemahan serta mengembangkan inovasi pelayanan pesantren kepada para santri.

“RMI NU bisa pro aktif membantu menyiapkan instrumen bagi pesantren NU untuk mengontrol kemajuan pesantren dalam memberikan pelayanan kepada santri dan masyarakat,” ungkap Gus Salam.

Beliau menambahkan, “Sepanjang NU juga memiliki prioritas untuk melayani pesantren, melalui RMI bisa menyiapkan sistem, prosedur sekaligus upaya pendampingan dalam menyelaraskan perubahan untuk kemajuan pesantren.”

Menurut Gus Salam, transformasi pesantren merupakan sebuah keharusan mengingat dunia terus berubah seiring dengan kemajuan pola hidup masyarakat.

Terlebih lagi di era keterbukaan informasi saat ini, pesantren dihadapkan pada dua tantangan utama dalam menjaga integritas dan kepercayaan publik. Tantangan tersebut adalah konsisten dalam memegang teguh kepribadian luhur dan tradisi para pendahulu, sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Menyikapi ulah Ashari, pelaku pencabulan terhadap 50 santriwati yang telah ditetapkan sebagai tersangka, Gus Salam mendesak aparat penegak hukum untuk bertindak tegas.

Baca juga: Evaluasi Menyeluruh Manajemen Semen Padang Pasca Degradasi: Tidak Sesuai Target

“Tindak tegas dan terukur. Tangkap dan proses hukum secara transparan. Tegakkan hukum tanpa pandang bulu, karena ini soal keadilan dan kemashlahatan bagi masyarakat, komunitas pesantren, masa depan generasi muda, terutama integritas negara dalam melindungi warganya,” pungkasnya.