KabarDermayu.com – Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel, Eyal Zamir, dilaporkan tengah meningkatkan intensitas komunikasi dengan Komandan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), Brad Cooper.
Pembicaraan tersebut, salah satunya, difokuskan pada potensi opsi serangan militer baru terhadap Iran. Hal ini terungkap dari laporan Channel 12 yang dikutip pada Minggu, 3 Mei 2026.
Berdasarkan penilaian yang ada, infrastruktur krusial milik Iran, termasuk jaringan energi dan sistem jalan raya, dapat menjadi target utama jika keputusan untuk meningkatkan eskalasi militer diambil.
Bersamaan dengan itu, militer Israel dilaporkan sedang gencar meningkatkan kesiapan pertahanannya. Kewaspadaan tinggi terus dijaga guna mengantisipasi kemungkinan terjadinya babak pertempuran berikutnya.
Baca juga di sini: Bojan Hodak Angkat Bicara Usai Marc Klok Dituduh Rasisme oleh Bhayangkara FC
Laporan tersebut juga mengindikasikan bahwa Amerika Serikat tengah mempertimbangkan opsi serangan terbatas terhadap Iran. Tujuannya adalah untuk mendorong tercapainya sebuah kesepakatan terkait program nuklir negara tersebut, meskipun hingga kini belum ada keputusan final mengenai waktu pelaksanaan atau bentuk spesifik dari serangan tersebut.
Koordinasi antara kedua negara mencakup pemantauan mendalam terhadap upaya Iran dalam memulihkan fasilitas-fasilitasnya yang mungkin terdampak. Rencana serangan, jika dilancarkan, kemungkinan besar akan menargetkan instalasi energi, pabrik baja, serta cadangan minyak dan gas milik Iran.
Sebelumnya, Amerika Serikat dan Israel telah melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Aksi ini kemudian memicu serangan balasan dari Iran yang ditujukan kepada sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk, serta berujung pada penutupan Selat Hormuz.
Menyusul eskalasi tersebut, kedua belah pihak akhirnya menyepakati gencatan senjata selama dua pekan. Kesepakatan ini diumumkan pada 8 April melalui upaya mediasi yang dilakukan oleh Pakistan. Pembicaraan lebih lanjut kemudian digelar di Islamabad pada 11 hingga 12 April, namun sayangnya tidak membuahkan hasil kesepakatan.
Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump, kemudian mengambil langkah untuk memperpanjang gencatan senjata tersebut secara sepihak. Keputusan ini diambil tanpa menetapkan batas waktu baru, sebagai respons atas permintaan dari Pakistan.





