Pasokan BBM B50 di Tapanuli Selatan Aman, Wamen ESDM Pastikan Lancar

oleh -6 Dilihat
Pasokan BBM B50 di Tapanuli Selatan Aman, Wamen ESDM Pastikan Lancar

KabarDermayu.com – Upaya pemerintah dalam mengoptimalkan transisi energi nasional terus diperkuat hingga ke pelosok daerah. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot, baru saja melakukan peninjauan langsung ke Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, untuk memastikan distribusi bahan bakar serta mengamati realisasi penggunaan biodiesel B50 di tingkat masyarakat.

Kunjungan yang berlangsung pada Sabtu, 1 Agustus 2026 ini memiliki urgensi ganda. Selain menjamin bahwa pasokan BBM tetap stabil dan aman bagi kebutuhan masyarakat, pemerintah juga melakukan evaluasi lapangan terhadap implementasi mandatori B50 yang kini menjadi fokus kebijakan nasional dalam sektor energi terbarukan.

Dalam keterangannya, Yuliot menekankan bahwa kehadiran pemerintah secara langsung di lapangan sangat krusial. “Kami mengecek pasokan BBM di seluruh daerah, dan sejauh ini distribusinya terpantau lancar. Namun, lebih dari sekadar ketersediaan, kami ingin melihat secara nyata bagaimana implementasi B50 dirasakan oleh pengguna di lapangan,” ujar Yuliot.

Dengar Pendapat dari Pengguna Langsung

Baca juga: Sudaryono Tegas Soal Kasus Keracunan MBG: Peringatan Keras untuk Kepala SPPG

Salah satu poin penting dalam agenda ini adalah dialog langsung dengan para pengemudi kendaraan diesel yang selama ini menjadi garda terdepan dalam penggunaan bahan bakar nabati tersebut. Pemerintah ingin memastikan bahwa transisi energi ini tidak mengganggu produktivitas mereka dalam mencari nafkah.

Nainggolan (47), seorang pengemudi pikap pengangkut ikan asin, memberikan testimoni positif terkait performa mesin kendaraannya. Menurutnya, peralihan ke B50 tidak memberikan dampak negatif yang berarti bagi mesin mobilnya.

“Usai memakai B50, kondisinya sama saja. Tidak ada masalah apa-apa pada mesin, semuanya lancar-lancar saja,” ungkap Nainggolan saat berdialog dengan Wamen ESDM.

Senada dengan Nainggolan, Herwin Siregar (47), pengemudi angkutan umum rute Medan-Sipahutar, juga berbagi pengalamannya. Sebagai pengguna setia kendaraan Mitsubishi L300 selama delapan tahun, ia telah terbiasa menggunakan bahan bakar berbasis biodiesel untuk operasional hariannya.

Herwin menjelaskan bahwa ia menempuh perjalanan selama enam jam setiap harinya dengan biaya bahan bakar sekitar Rp450 ribu. Meski ia mencatat adanya sedikit perbedaan performa saat melintasi medan tanjakan, secara keseluruhan kendaraan angkutannya tetap beroperasi dengan normal.

Evaluasi Kebijakan dan Konteks Energi

Program mandatori B50 sendiri merupakan langkah strategis pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil sekaligus meningkatkan penggunaan bahan bakar nabati. Evaluasi yang dilakukan di SPBU 14.227.322 Sipirok ini menjadi indikator penting bagi pemerintah untuk melihat sejauh mana kesiapan infrastruktur dan penerimaan masyarakat terhadap kebijakan tersebut.

Selain meninjau sektor hilir distribusi BBM, agenda kerja Yuliot di Sumatera Utara kali ini mencakup pemantauan terhadap infrastruktur energi nasional lainnya. Sebelum menyambangi SPBU, rombongan Kementerian ESDM telah terlebih dahulu melakukan inspeksi ke dua proyek energi vital di wilayah tersebut:

  • Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru.
  • Fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sarulla.

Kunjungan ini menegaskan komitmen pemerintah dalam mengawal setiap kebijakan energi secara komprehensif, mulai dari sisi produksi listrik hingga distribusi bahan bakar di tingkat konsumen. Dengan adanya masukan langsung dari pengguna di Tapanuli Selatan, pemerintah diharapkan dapat terus menyempurnakan implementasi program B50 agar tetap selaras dengan kebutuhan masyarakat luas dan target ketahanan energi nasional.