KabarDermayu.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 17.368 pada Senin, 4 Mei 2026. Posisi rupiah itu menguat 10 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 17.378 pada perdagangan Kamis, 30 April 2026.
Sementara itu, pada perdagangan pasar spot pada Selasa, 5 Mei 2026 hingga pukul 09.02 WIB, rupiah ditransaksikan di Rp 17.395 per dolar AS. Posisi ini melemah 2 poin atau 0,01 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.393 per dolar AS.
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2026 surplus US$3,32 miliar. Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan catatan pada Februari 2026 yang senilai US$1,27 miliar.
Kondisi surplus tersebut terjadi karena nilai ekspor mencapai US$22,53 miliar, turun 3,10 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, impor tercatat sebesar US$19,21 miliar, tumbuh 1,51 persen. Surplus ini merupakan yang ke-71 kali beruntun sejak Mei 2020.
Surplus pada Maret 2026 ditopang oleh komoditas non-migas sebesar US$5,21 miliar. Komoditas utama penyumbangnya adalah minyak dan lemak hewan nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja. Sementara itu, komoditas migas mengalami defisit US$1,89 miliar, dengan penyumbang defisit dari minyak mentah, hasil minyak, dan gas.
Neraca perdagangan kumulatif pada periode Januari-Maret 2026 mencapai surplus US$5,55 miliar. Surplus ini juga ditopang oleh komoditas non-migas yang mencapai US$10,63 miliar. Namun, komoditas migas masih mencatat defisit sebesar US$5,08 miliar.
Baca juga: Akhir Kasus Ammar Zoni: Tak Ada Celah, Kembali ke Nusakambangan
Di sisi lain, aktivitas manufaktur Indonesia semakin tergerus dampaknya akibat perang, yang mengakibatkan kontraksi. Data Purchasing Managers’ Index (PMI) yang dirilis S&P Global pada April 2026 menunjukkan PMI Indonesia berada di angka 49,1.
Angka ini merupakan yang terendah sejak Juli 2025 atau dalam sembilan bulan terakhir. Angka tersebut menandai kontraksi pertama PMI sejak Juli 2025, setelah delapan bulan sebelumnya menunjukkan ekspansi. Kontraksi PMI ini disebabkan oleh penurunan kondisi sektor manufaktur Indonesia pada awal kuartal kedua 2026 akibat berbagai faktor.
Kontraksi ini didorong oleh penurunan volume produksi yang berkelanjutan. Penurunan tersebut telah terjadi selama dua bulan berturut-turut, dengan laju penurunan yang semakin cepat dibandingkan Maret, dan menjadi yang tercepat sejak Mei tahun lalu.
“Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.390-Rp 17.440,” ujarnya.
Sebagai informasi, Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa AS akan memulai upaya untuk membebaskan kapal-kapal yang terdampar di Selat Hormuz. Ia mengatakan, “Demi kebaikan Iran, Timur Tengah, dan Amerika Serikat, kami telah memberi tahu negara-negara ini bahwa kami akan memandu kapal-kapal mereka dengan aman keluar dari jalur perairan terlarang ini, sehingga mereka dapat dengan bebas dan mampu melanjutkan bisnis mereka,” tulis Trump dalam sebuah unggahan di situs Truth Social miliknya pada hari Minggu, 3 Mei 2026.
Bursa Asia melemah dipicu lonjakan harga minyak di atas US$100 dan memanasnya konflik AS-Iran di Selat Hormuz. Investor waspada terhadap risiko geopolitik global.





