Ekspor RI ke Timur Tengah Turun 13% Akibat Konflik Geopolitik Meski Surplus US$641 Juta

oleh -4 Dilihat
Ekspor RI ke Timur Tengah Turun 13% Akibat Konflik Geopolitik Meski Surplus US$641 Juta

KabarDermayu.com – Situasi geopolitik yang memanas di kawasan Timur Tengah dilaporkan memberikan dampak signifikan terhadap kinerja ekspor Indonesia ke wilayah tersebut.

Menteri Perdagangan, Budi Santoso, mengungkapkan bahwa meskipun Indonesia masih mampu mencatatkan surplus perdagangan sebesar US$641 juta dengan negara-negara Timur Tengah, namun angka ekspor Indonesia ke kawasan itu mengalami penurunan drastis sebesar 13 persen pada periode Januari hingga Februari 2026.

Menurut Budi, total ekspor Indonesia ke Timur Tengah pada periode tersebut mencapai US$9,8 miliar. Angka ini setara dengan 3,4 persen dari total ekspor nasional Indonesia.

Budi Santoso memaparkan lebih lanjut bahwa dari total ekspor ke Timur Tengah tersebut, sekitar 40 persen dialokasikan ke Uni Emirat Arab. Sementara itu, Arab Saudi menyerap 29 persen dari total ekspor Indonesia ke kawasan tersebut.

Baca juga di sini: Ribuan Massa Akan Datangi Gedung DPR Hari Ini

Meskipun terjadi penurunan ekspor, Budi menegaskan bahwa negara-negara di Timur Tengah masih menunjukkan minat yang kuat untuk mempererat kerja sama perdagangan dengan Indonesia. Hal ini didorong oleh keberhasilan perjanjian dagang yang telah dicapai sebelumnya.

Ia menjelaskan bahwa keberhasilan Indonesia dalam menjalin perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (CEPA) dengan Uni Emirat Arab (UEA) telah membuka pintu lebar untuk memperkuat kerja sama dengan negara-negara lain di kawasan Timur Tengah.

Budi Santoso menambahkan, keberhasilan dengan UEA menjadi semacam katalis, di mana negara-negara Timur Tengah lainnya kemudian juga memiliki keinginan untuk membuat perjanjian dagang serupa dengan Indonesia.

Untuk itu, pemerintah memastikan akan terus berupaya mendorong perluasan pasar ekspor Indonesia. Upaya ini akan dilakukan melalui berbagai perjanjian dagang internasional yang strategis.

Selain fokus pada Timur Tengah, Indonesia juga tetap berupaya menjaga pasar ekspor utamanya, seperti Amerika Serikat. Pasar Amerika Serikat diketahui memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap surplus perdagangan nasional Indonesia.

Dalam struktur ekspor Indonesia, Budi Santoso merinci bahwa industri pengolahan mendominasi dengan persentase mencapai 80 persen. Sektor pertambangan menyusul di posisi kedua dengan kontribusi 10 persen, sementara sisanya berasal dari sektor migas dan pertanian.

Sementara itu, untuk struktur impor, bahan baku penolong menjadi komponen terbesar dengan porsi 70 persen. Barang modal menyerap 8 persen dari total impor, dan barang konsumsi juga memiliki porsi 8 persen.

Budi Santoso menyimpulkan bahwa mayoritas impor yang dilakukan Indonesia sebenarnya berfungsi untuk mendukung proses industri dalam negeri, yang sebagian besar juga ditujukan untuk kebutuhan ekspor. Hal ini menunjukkan bahwa ekosistem ekonomi Indonesia secara keseluruhan berjalan dengan baik.

Saat ini, pemerintah tengah mengimplementasikan beberapa strategi kunci di sektor perdagangan. Strategi tersebut meliputi pengamanan pasar domestik, perluasan pasar ekspor ke berbagai negara, serta upaya mendorong produk-produk lokal agar memiliki daya saing yang kuat di pasar global.