Terbitkan Panda Bond Juni 2026 untuk Cari Sumber Pendanaan APBN

oleh -9 Dilihat
Terbitkan Panda Bond Juni 2026 untuk Cari Sumber Pendanaan APBN

KabarDermayu.com – Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengumumkan rencana strategis pemerintah untuk menerbitkan Panda Bond pada Juni 2026. Instrumen utang global yang berdenominasi Yuan ini merupakan langkah diversifikasi pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Keputusan ini diambil untuk memperkuat ketahanan APBN agar tidak terlalu bergantung pada satu sumber pendanaan saja. Laporan dari Direktur Jenderal Pengelolaan dan Pembiayaan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, Suminto, menjadi dasar bagi Purbaya untuk segera melakukan kunjungan ke China terkait rencana ini.

Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa penerbitan Panda Bond ini kemungkinan akan dilakukan dalam waktu dekat, bahkan mungkin bulan depan. Ia mengaku telah diajak oleh Pak Suminto untuk segera bertolak ke China guna mematangkan persiapan.

Penerbitan Panda Bond merupakan bagian dari strategi diversifikasi pembiayaan. Tujuannya adalah agar APBN menjadi lebih kokoh dan tidak hanya bergantung pada satu sumber pendanaan tertentu. Hal ini juga diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada pembiayaan dari negara-negara Barat.

Berdasarkan data per 31 Maret 2026, realisasi pembiayaan anggaran tercatat sebesar Rp 257,4 triliun. Angka ini terdiri dari pembiayaan utang sebesar Rp 258,7 triliun dan pembiayaan non-utang sebesar Rp 1,3 triliun.

Purbaya menekankan pentingnya diversifikasi sumber pembiayaan. Dengan menerbitkan Panda Bond, pemerintah berupaya agar tidak terlalu bergantung pada pembiayaan dari Amerika Serikat atau negara-negara Barat lainnya.

Pemerintah memilih China sebagai tujuan penerbitan Panda Bond karena beberapa alasan kuat. China memiliki likuiditas yang memadai dan pasar keuangan dengan kapasitas yang sangat besar. Kapasitas ini diyakini mampu menyerap instrumen utang yang diterbitkan oleh pemerintah Indonesia.

Selain itu, pasar keuangan China juga menawarkan imbal hasil (yield) yang kompetitif. Rentang imbal hasil yang ditawarkan berkisar antara 2,3 persen hingga 2,5 persen. Angka ini dianggap menarik bagi investor.

Faktor potensial lainnya adalah keyakinan Purbaya terhadap persepsi pasar China terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Ia yakin bahwa pasar China menaruh kepercayaan yang cukup kuat terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Dengan demikian, penilaian terhadap instrumen utang Indonesia tidak akan mudah terpengaruh oleh peringkat kredit semata.

Purbaya juga telah melakukan pertemuan dengan perwakilan Industrial and Commercial Bank of China (ICBC). Dalam pertemuan tersebut, pihak China telah menyatakan kesiapannya untuk berpartisipasi dalam penerbitan Panda Bond Indonesia.

“Kami sudah berhubungan dengan ICBC, mereka siap untuk menjalankan ke sana,” ujar Purbaya, mengindikasikan adanya dukungan kuat dari lembaga keuangan terkemuka di China.

Sebagai bentuk timbal balik atas intensi penerbitan Panda Bond, Pemerintah Indonesia juga membuka peluang bagi China. Pemerintah China diberikan kesempatan untuk menerbitkan surat utang atau obligasi di pasar domestik Indonesia.

Opsi ini muncul dalam agenda pembahasan bilateral antara Purbaya Yudhi Sadewa dan Menteri Keuangan China, Lan Fo’an. Pertemuan tersebut dilaksanakan di sela-sela rangkaian Pertemuan Musim Semi Dana Moneter Internasional dan Grup Bank Dunia (IMF-World Bank Spring Meeting). Pertemuan itu berlangsung di Washington, DC, Amerika Serikat, pada tanggal 13-17 April.

Baca juga: Bus Terbakar Hebat Setelah Tabrak Truk Tangki BBM di Sumsel, 16 Tewas

Menurut Purbaya, langkah saling membuka pasar ini dapat memberikan ruang bagi investor Indonesia untuk mengakses instrumen surat utang yang diterbitkan oleh China. Selain itu, kerja sama pembiayaan antara kedua negara juga diharapkan dapat semakin luas dan kuat.