Kenaikan Harga Energi Global: BBM, LPG, dan LNG Meningkat

oleh -8 Dilihat
Kenaikan Harga Energi Global: BBM, LPG, dan LNG Meningkat

KabarDermayu.com – Dinamika geopolitik global dalam beberapa tahun terakhir telah mengubah isu energi dari sekadar komoditas menjadi elemen krusial bagi stabilitas ekonomi dan keamanan nasional suatu negara.

Direktur Eksekutif Rofirminer Institute, Komaidi Notonegoro, menjelaskan bahwa berbagai faktor seperti konflik geopolitik, gangguan rantai pasok dan jalur distribusi energi, serta peningkatan permintaan energi di Asia, telah memberikan tekanan besar pada pasar energi global.

Tekanan ini mendorong kenaikan harga pada berbagai produk energi, termasuk BBM, LPG, dan LNG di berbagai negara.

Komaidi menekankan bahwa energi merupakan kebutuhan primer bagi kehidupan. Dalam situasi krisis, pangan dan energi menjadi dua hal utama yang harus diprioritaskan dan diamankan.

Oleh karena itu, lonjakan harga energi global akibat ketegangan politik menjadi hal yang wajar terjadi. Menurut Komaidi, kenaikan harga energi yang dipicu oleh isu geopolitik saat ini bersifat non-fundamental.

Situasi semakin pelik ketika jalur distribusi global mengalami gangguan, seperti penutupan Selat Hormuz.

Hal ini menjadi perhatian serius bagi para pengguna dan konsumen, yang berdampak pada tingginya harga minyak melebihi nilai fundamentalnya.

Ketika harga minyak dunia melonjak, secara otomatis harga produk energi lainnya, termasuk gas seperti LPG dan LNG, turut mengalami kenaikan.

Komaidi menyatakan bahwa harga LPG dan LNG diindekskan pada harga minyak mentah, sehingga kenaikan harga minyak pasti akan diikuti oleh kenaikan harga produk gas tersebut.

Di Indonesia, penyesuaian harga LPG industri non-subsidi ukuran 50 kg telah dilakukan. Kenaikan ini mengikuti tren harga LPG global yang berbasis CP Aramco.

Harga LPG industri tercatat meningkat sekitar 25-26 persen, dari sebelumnya sekitar US$21,9 per MMBtu menjadi sekitar US$28,3 per MMBtu.

Dalam nilai rupiah, harga tabung LPG 50 kg mengalami kenaikan dari kisaran Rp 850 ribu menjadi sekitar Rp 1,06 juta per tabung pada Mei 2026.

Hal serupa juga terjadi pada BBM non-subsidi di dalam negeri. Indonesia telah mulai beradaptasi dengan mekanisme penyesuaian harga BBM non-subsidi pada Mei 2026.

Penyesuaian ini mengikuti dinamika pasar dan biaya energi global. Terutama untuk solar industri non-subsidi, yang mengalami kenaikan signifikan.

Kenaikan solar industri non-subsidi mencapai sekitar 77-84 persen, dari sekitar US$22,7 per MMBtu menjadi sekitar US$43 per MMBtu pada Mei 2026.

Dalam rupiah, harga solar industri melonjak dari kisaran Rp 14.200–Rp 14.500 per liter menjadi sekitar Rp 26.000–Rp 27.900 per liter.

Merujuk pada data dari sejumlah lembaga energi internasional, harga energi di tingkat regional diperkirakan akan mengalami peningkatan yang signifikan jika terjadi gangguan dalam distribusi atau eskalasi konflik global.

Kondisi ini mendorong banyak negara untuk memperkuat strategi ketahanan energi mereka. Upaya ini dilakukan melalui diversifikasi sumber energi, penguatan infrastruktur, serta penyesuaian kebijakan energi domestik.

Komaidi menambahkan bahwa faktor-faktor non-fundamental seperti ini sulit untuk diprediksi kapan akan berakhir dan bagaimana situasinya akan berkembang.

Oleh karena itu, penyesuaian harga menjadi sebuah keharusan. Mayoritas negara, termasuk Indonesia, telah merealisasikan penyesuaian harga ini di masing-masing wilayah mereka.

Fenomena kenaikan harga ini tidak hanya terbatas pada BBM dan LPG, tetapi juga merambah ke LNG. Terlebih lagi, pasar energi di kawasan Asia diperkirakan akan terus menghadapi volatilitas yang tinggi sepanjang tahun 2026.

Komaidi menyoroti bahwa fenomena ini tidak hanya terjadi di negara-negara maju. Negara-negara di kawasan ASEAN, seperti Vietnam, Filipina, dan Singapura, juga telah mulai melakukan penyesuaian strategi energi mereka.

Baca juga: Iran Beri Izin Kapal China Lewati Selat Hormuz

Langkah ini diambil untuk menjaga keberlanjutan pasokan energi domestik di negara masing-masing.