Biaya Solar Naik, Sopir Truk Keluhkan Beban Operasional

oleh -5 Dilihat
Biaya Solar Naik, Sopir Truk Keluhkan Beban Operasional

KabarDermayu.com – Lonjakan harga bahan bakar jenis solar mulai memberikan pukulan telak bagi para sopir truk di Amerika Serikat, khususnya di wilayah Mississippi. Kenaikan biaya operasional yang signifikan ini membuat banyak pengemudi angkutan barang mempertanyakan kelangsungan profesi mereka di tengah ketidakstabilan ekonomi saat ini.

Seperti yang dilaporkan oleh VIVA pada Sabtu, 9 Mei 2026, sejumlah sopir truk mengeluhkan peningkatan drastis pengeluaran untuk membeli solar dalam kurun waktu yang singkat. Situasi ini tidak hanya menekan pendapatan para sopir, tetapi juga berpotensi mengganggu kelancaran distribusi logistik dan pengiriman barang secara umum.

Salah satu sopir truk, Lemone Guice, mengungkapkan kekhawatiran mendalam mengenai keberlangsungan pekerjaannya akibat kenaikan harga solar yang terus-menerus. Ia merasa kondisi ekonomi yang sudah sulit diperparah dengan fluktuasi harga bahan bakar yang tidak menentu.

Akibatnya, para sopir mengalami kesulitan dalam memperkirakan biaya perjalanan serta potensi keuntungan yang bisa didapat dari setiap pengiriman barang. Ketidakpastian ini menjadi beban tersendiri bagi mereka.

Ronnie Tran, sopir truk lainnya, turut menyampaikan keluhannya. Ia menyatakan bahwa biaya untuk mengisi penuh tangki truknya kini melonjak hampir dua kali lipat dibandingkan dengan kondisi sebelumnya. Hal ini tentu saja sangat memberatkan.

Sebelumnya, Tran biasanya mengeluarkan biaya sekitar 600 hingga 700 dollar AS, atau setara dengan Rp 9,8 juta hingga Rp 11,5 juta, untuk sekali pengisian penuh. Namun, kini biaya tersebut bisa mencapai angka 1.000 hingga 1.200 dollar AS, atau sekitar Rp 16,4 juta hingga Rp 19,7 juta.

Kenaikan biaya yang fantastis ini secara langsung menggerus margin keuntungan para pengemudi. Terlebih lagi, banyak sopir truk di Amerika yang berstatus pekerja independen. Mereka terpaksa menanggung sendiri seluruh biaya operasional kendaraan, mulai dari bahan bakar, perawatan, hingga biaya tol.

King Gaulden, sopir lainnya, menggambarkan situasi saat ini sangat berat bagi para pekerja di sektor logistik. Ia menyayangkan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) justru terjadi di saat masyarakat berharap adanya penurunan harga energi.

Baca juga: ANTV Tayangkan Drama Horor Romantis Thailand, Misteri Sungai Mekong Tayang Perdana

Data dari AAA menunjukkan bahwa rata-rata harga bensin nasional di Amerika Serikat telah mencapai 4,54 dollar AS per galon. Angka ini merupakan yang tertinggi sejak musim panas tahun 2022, menunjukkan tren kenaikan yang persisten.

Sementara itu, di Mississippi, harga rata-rata solar berada di kisaran 4 dollar AS per galon. Angka ini menunjukkan kenaikan lebih dari 28 sen dibandingkan dengan pekan sebelumnya, menambah tekanan bagi para sopir.

Bagi para pengemudi truk, lonjakan harga solar tidak hanya berdampak pada pengeluaran harian, tetapi juga memengaruhi keputusan mereka dalam menerima muatan. Guice menjelaskan bahwa banyak sopir kini lebih berhati-hati dalam memilih pekerjaan. Mereka khawatir terjebak di lokasi tujuan tanpa adanya kepastian muatan balik.

Jika kondisi kenaikan harga bahan bakar ini terus berlanjut, para sopir berpotensi mengalami kerugian besar. Biaya bahan bakar yang terus terkuras selama perjalanan, bahkan saat kendaraan tidak beroperasi, dapat menggerogoti pendapatan mereka.

Fenomena kenaikan harga diesel ini sebenarnya bukan hanya terjadi di Amerika Serikat. Dalam beberapa tahun terakhir, gejolak harga energi global telah menjadikan sektor transportasi sebagai salah satu industri yang paling rentan terhadap fluktuasi harga minyak dunia.

Bagi industri logistik secara keseluruhan, kenaikan biaya solar biasanya akan menimbulkan dampak berantai. Ongkos pengiriman akan meningkat, yang kemudian berimbas pada kenaikan harga barang. Pada akhirnya, beban biaya ini akan ditanggung oleh konsumen.

Meskipun demikian, Mississippi masih termasuk dalam kategori negara bagian dengan harga bahan bakar yang relatif lebih murah di Amerika Serikat. Namun, bagi para sopir truk, harga yang lebih rendah ini belum cukup untuk meredakan tekanan biaya operasional yang terus meningkat tajam.