KabarDermayu.com – Dampak panjangnya musim kemarau yang melanda sejak Maret 2026 kini mulai dirasakan secara nyata oleh masyarakat di Kota Gorontalo. Sektor pertanian yang menjadi tulang punggung pasokan pangan mengalami tekanan hebat, memicu fenomena gagal panen massal di berbagai daerah sentra produksi beras.
Kondisi iklim ekstrem ini berujung pada lonjakan Harga Beras yang cukup signifikan di Pasar Sentral Kota Gorontalo. Para pedagang melaporkan bahwa kenaikan harga terjadi secara bertahap, seiring dengan semakin menipisnya stok beras yang tersedia di tingkat distributor.
Hasna, salah seorang pedagang beras di Pasar Sentral Kota Gorontalo, mengungkapkan bahwa kenaikan harga kali ini tergolong sangat drastis. Beras yang dulunya dibanderol seharga Rp650 ribu untuk kemasan 50 kilogram, kini harus dijual di kisaran Rp800 ribu hingga Rp900 ribu per karung, tergantung pada kualitas dan jenis berasnya.
“Sejak Maret sudah mulai kemarau panjang sehingga banyak yang gagal panen. Itu yang membuat harga beras melambung,” ujar Hasna pada Minggu, 26 Juli 2026.
Keterbatasan pasokan ini memaksa para pedagang untuk memutar otak demi menjaga kelangsungan dagangan mereka. Anton, pedagang lainnya di pasar tersebut, menjelaskan bahwa selama ini ia mengandalkan pasokan dari wilayah Tolai, Sulawesi Tengah. Namun, ketika daerah tersebut juga mengalami penurunan produksi, ia harus mencari alternatif dari wilayah lain.
Upaya mencari pasokan dari luar daerah tentu tidak gratis. Anton mengakui bahwa biaya distribusi dan pengadaan barang menjadi jauh lebih mahal, yang pada akhirnya mau tidak mau harus dibebankan pada harga jual kepada konsumen akhir.
Secara ekonomi, beras merupakan komoditas yang memiliki elastisitas permintaan rendah, atau dengan kata lain, tetap dibutuhkan meski harganya naik. Fenomena ini pun terlihat di lapangan, di mana permintaan masyarakat tetap stabil meskipun harga sedang melambung tinggi.
Bagi konsumen, situasi ini menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan anggaran. Aldi Hapili, seorang warga yang berstatus sebagai anak kos, mengaku harus melakukan penyesuaian gaya hidup dan mengatur ulang anggaran belanja bulanan agar tetap bisa memenuhi kebutuhan pangan harian.
Berikut adalah beberapa poin utama mengenai situasi kenaikan harga beras saat ini:
- Faktor Utama: Musim kemarau panjang yang dimulai sejak Maret 2026 menyebabkan kegagalan panen di sentra produksi.
- Dampak Harga: Harga beras 50 kg melonjak dari Rp650 ribu menjadi Rp800 ribu – Rp900 ribu.
- Kendala Distribusi: Pedagang terpaksa mengambil stok dari luar daerah dengan biaya operasional yang lebih tinggi.
- Respon Konsumen: Masyarakat tetap membeli beras karena merupakan kebutuhan pokok, namun terpaksa melakukan penghematan anggaran di sektor lain.
Sebagai informasi tambahan, fenomena gagal panen akibat kemarau panjang sering kali dipicu oleh fenomena iklim yang mengganggu siklus curah hujan normal. Ketika pasokan dari daerah utama terganggu, mekanisme pasar akan otomatis merespons dengan kenaikan harga akibat ketidakseimbangan antara jumlah barang yang tersedia dengan permintaan masyarakat yang tetap tinggi.
Situasi ini menuntut kesiapsiagaan dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun pelaku usaha, untuk memastikan distribusi pangan tetap terjaga agar lonjakan harga tidak terus berlanjut hingga membebani daya beli masyarakat lebih dalam lagi.





