KabarDermayu.com – Tren penurunan Harga Emas kembali menyapa para investor di tengah pekan ini. Pada perdagangan Rabu, 29 Juli 2026, harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) tercatat mengalami koreksi yang cukup signifikan, mengikuti pola pergerakan harga emas di pasar global yang juga sedang berada dalam tekanan.
Berdasarkan data terbaru dari Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian Logam Mulia Antam, harga emas per gram dipatok di angka Rp 2.601.000. Angka ini mencatatkan penurunan sebesar Rp 12.000 per gram jika dibandingkan dengan posisi harga pada perdagangan hari sebelumnya. Fluktuasi harga ini merupakan hal lumrah dalam investasi logam mulia, di mana harga dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada dinamika pasar.
Bagi investor yang berencana melakukan penjualan kembali atau buyback, pihak Antam menetapkan harga beli kembali sebesar Rp 2.346.000 per gram. Perlu diingat bahwa dalam transaksi emas batangan, terdapat regulasi perpajakan yang harus dipahami oleh para pemegang aset, sesuai dengan PMK No. 34/PMK.10/2017. Transaksi penjualan kembali dengan nominal di atas Rp 10 juta akan dikenakan PPh 22 sebesar 1,5 persen bagi pemilik NPWP, dan 3 persen bagi mereka yang tidak memiliki NPWP, yang nantinya akan dipotong langsung dari total nilai transaksi.
Variasi Harga Berdasarkan Ukuran
Antam menyediakan berbagai pilihan ukuran emas batangan untuk memenuhi kebutuhan diversifikasi portofolio investasi masyarakat. Berikut adalah rincian harga emas Antam pada 29 Juli 2026 untuk beberapa satuan berat:
- 0,5 gram: Rp 1.350.000
- 5 gram: Rp 12.780.000
- 10 gram: Rp 25.505.000
- 25 gram: Rp 63.637.000
- 50 gram: Rp 127.195.000
- 100 gram: Rp 254.312.000
- 250 gram: Rp 635.515.000
- 500 gram: Rp 1.270.820.000
- 1.000 gram: Rp 2.541.600.000
Catatan: Harga di atas merupakan harga dasar sebelum dipotong pajak sesuai dengan aturan yang berlaku.
Dinamika Pasar Global
Penurunan harga emas di dalam negeri sejalan dengan tren yang terjadi di pasar internasional. Saat ini, para pelaku pasar global sedang berada dalam fase “wait and see” atau menanti dengan waspada. Fokus utama investor tertuju pada keputusan kebijakan moneter dari Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat.
Sentimen utama yang menggerakkan pasar saat ini adalah ketidakpastian mengenai arah suku bunga acuan AS serta data inflasi terkini. Dilansir dari The Economic Times, harga emas di pasar spot internasional terpantau melemah 0,1 persen ke level US$ 4.021,87 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman bulan Agustus juga mencatatkan penurunan sebesar 0,4 persen menjadi US$ 4.021,7 per ons.
Sentimen kebijakan bank sentral sering kali menjadi penentu utama pergerakan harga emas dunia. Ketika suku bunga AS cenderung tinggi, emas yang merupakan aset tanpa imbal hasil (non-yielding asset) sering kali menjadi kurang menarik dibandingkan instrumen investasi lain, yang kemudian memicu aksi jual dan menekan harga di pasar global.
Investasi emas tetap menjadi pilihan favorit masyarakat Indonesia karena sifatnya yang tahan terhadap inflasi dalam jangka panjang. Namun, investor disarankan untuk selalu memantau perkembangan ekonomi makro agar dapat mengambil keputusan yang tepat di tengah volatilitas harga.





