IHSG Menguat 1 Persen ke 6.147, Saham Bank Besar Jadi Motor Utama

oleh -4 Dilihat
IHSG Menguat 1 Persen ke 6.147, Saham Bank Besar Jadi Motor Utama

KabarDermayu.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan performa impresif pada perdagangan sesi pertama hari Kamis, 30 Juli 2026. Indeks acuan pasar modal Indonesia ini berhasil mempertahankan momentum penguatan di zona hijau, bahkan sempat menembus level psikologis yang cukup kokoh di angka 6.100-an sepanjang sesi.

Berdasarkan data perdagangan RTI Business, IHSG ditutup menguat sebesar 0,93 persen atau setara dengan kenaikan 56,57 poin. Dengan lonjakan tersebut, indeks parkir di level 6.147,96 saat jeda siang. Tren positif ini sudah terlihat sejak pembukaan perdagangan yang dimulai di level 6.110,28.

Sepanjang paruh pertama perdagangan, IHSG menunjukkan volatilitas yang masih dalam koridor wajar namun cenderung optimistis. Indeks sempat mencapai titik tertingginya di level 6.168,57, yang mencerminkan apresiasi sekitar 1,20 persen. Sementara itu, titik terendah yang sempat disentuh berada di level 6.106,55, masih jauh lebih tinggi dibandingkan angka penutupan hari sebelumnya di level 6.091,39.

Aktivitas di lantai bursa pun terpantau cukup ramai. Tercatat total volume transaksi mencapai 14,19 miliar saham dengan nilai perputaran uang mencapai Rp6,51 triliun. Frekuensi perdagangan juga tergolong tinggi, menembus angka 1.001.073 kali transaksi, yang menunjukkan antusiasme investor yang cukup besar pada sesi pagi ini.

Dominasi Saham di Zona Hijau

Sentimen positif tidak hanya dirasakan oleh indeks utama, tetapi juga tercermin dari performa mayoritas emiten. Sebanyak 468 saham terpantau menguat, sementara hanya 167 saham yang mengalami tekanan jual atau penurunan. Sisanya, sebanyak 148 saham ditutup stagnan.

Indeks LQ45, yang berisi saham-saham dengan kapitalisasi pasar besar dan likuiditas tinggi, mencatatkan penguatan yang lebih signifikan yakni sebesar 1,35 persen. Hal ini menjadi bukti kuat bahwa investor sedang memusatkan perhatian pada saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) sebagai motor penggerak pasar.

Dinamika Saham Konglomerasi

Pergerakan saham di sektor konglomerasi menunjukkan dinamika yang variatif. Investor tampak cukup selektif dalam merespons berita dari emiten-emiten besar:

  • Grup Salim: PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) menjadi primadona setelah sahamnya melonjak 25 persen hingga menyentuh batas Auto Reject Atas (ARA) ke level Rp340 per saham.
  • Grup Bakrie: PT Intermedia Capital Tbk (MDIA) mencatatkan kenaikan impresif sebesar 16,15 persen ke level Rp151 per saham.
  • Grup Prajogo Pangestu: Emiten dalam kelompok ini bergerak beragam. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) berhasil menguat 3,64 persen ke Rp2.120. Namun, beberapa emiten lainnya seperti PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) melemah 1,52 persen, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) terkoreksi 1,21 persen, dan PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) turun 0,77 persen.

Peran Vital Sektor Perbankan

Faktor utama yang menopang ketahanan IHSG di zona hijau pada sesi I ini adalah kekompakan saham-saham perbankan raksasa atau big banks. Sektor ini memang sering menjadi barometer utama bagi pergerakan indeks di Bursa Efek Indonesia.

Perbankan besar terus menunjukkan performa solid dengan pertumbuhan harga saham yang merata, memberikan kontribusi signifikan bagi stabilitas indeks secara keseluruhan.

Berikut adalah catatan penguatan dari empat bank besar (Big Four):

  • PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI): Menguat 2,05 persen ke posisi Rp2.980 per saham.
  • PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI): Naik 2,02 persen menjadi Rp3.530 per saham.
  • PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI): Menguat 1,71 persen ke level Rp4.160 per saham.
  • PT Bank Central Asia Tbk (BBCA): Mencatatkan kenaikan 1,59 persen ke level Rp6.375 per saham.

Secara keseluruhan, sesi pertama perdagangan hari ini ditutup dengan nada optimis. Dengan terjaganya indeks di level 6.100-an, pasar kini menanti apakah momentum penguatan ini dapat dipertahankan hingga penutupan sesi kedua nanti, mengingat sentimen pasar global juga turut memengaruhi keputusan investor domestik dalam melakukan transaksi.