Imbal Hasil SBN Tembus 7,14 Persen, Purbaya Soroti Dampak Konflik Timur Tengah

oleh -4 Dilihat
Imbal Hasil SBN Tembus 7,14 Persen, Purbaya Soroti Dampak Konflik Timur Tengah

KabarDermayu.com – Gejolak geopolitik yang semakin memanas di Timur Tengah membawa dampak signifikan terhadap stabilitas pasar keuangan domestik, khususnya pada instrumen investasi obligasi pemerintah.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengungkapkan bahwa eskalasi konflik di kawasan tersebut telah memicu kenaikan imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun. Berdasarkan data per akhir kuartal II-2026, angka Imbal Hasil SBN tercatat naik sebesar 31 basis poin (bps) secara quarter-to-quarter (qtq), menyentuh level 7,14 persen.

Dampak Rantai Konflik terhadap Investasi

Kenaikan imbal hasil ini bukan tanpa sebab. Konflik yang terus berlangsung di Timur Tengah telah memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Kondisi ini secara otomatis meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar akan potensi tekanan inflasi global yang lebih persisten di masa depan.

Akibatnya, para investor cenderung mengambil langkah risk-off atau menghindari aset berisiko. Fenomena ini kemudian menekan pasar SBN, yang tercermin dari kenaikan tingkat imbal hasil yang diminta investor sebagai kompensasi atas risiko yang lebih tinggi.

Dalam konferensi pers hasil Rapat Berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Senin (3/8/2026), Purbaya menegaskan bahwa meskipun diterpa ketidakpastian global, kinerja pasar SBN Indonesia dinilai masih dalam koridor yang terjaga.

Perbandingan dengan Negara Berkembang Lainnya

Tren kenaikan yield SBN tenor 10 tahun ini sebenarnya merupakan fenomena global yang juga dialami oleh berbagai negara berkembang (emerging markets). Sejak awal tahun atau secara year-to-date (ytd) hingga 30 Juli 2026, beberapa negara mencatatkan kenaikan yang cukup tajam:

  • Turki: naik 524 bps
  • Filipina: naik 148 bps
  • Brazil: naik 106 bps
  • Korea Selatan: naik 92 bps
  • Polandia: naik 59 bps
  • Afrika Selatan: naik 55 bps

Ketahanan Minat Investor Asing

Di tengah situasi yang menantang tersebut, investor asing (non-residen) ternyata masih menunjukkan kepercayaan terhadap pasar surat utang Indonesia. Tercatat, aliran modal masuk (net buy) di pasar SBN mencapai Rp 32,09 triliun selama kuartal II-2026.

Secara kumulatif sepanjang tahun 2026 hingga akhir Juli, investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp 13,35 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa Indonesia masih dianggap sebagai destinasi investasi yang cukup menarik meskipun terdapat ketidakpastian akibat ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Pengelolaan APBN yang Prudent

Menanggapi kondisi pasar keuangan, Purbaya menekankan pentingnya pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang kredibel dan akuntabel. Hingga kuartal II-2026, realisasi pembiayaan anggaran tercatat sebesar Rp 452,0 triliun, tumbuh 59,4 persen secara tahunan (yoy).

Pemerintah berkomitmen untuk tetap menerapkan kebijakan pembiayaan utang yang terukur dan berhati-hati (prudent). Hal ini dilakukan dengan tetap memperhatikan likuiditas pemerintah, optimalisasi kas, serta dinamika pasar keuangan yang terus dipantau secara ketat.

Di sisi lain, sektor pendapatan negara juga menunjukkan performa yang cukup solid. Realisasi pendapatan negara hingga akhir kuartal II-2026 mencapai Rp 1.459,4 triliun, mencatatkan pertumbuhan kuat sebesar 21,4 persen (yoy). Sementara itu, realisasi belanja negara mencapai Rp 1.656,0 triliun hingga akhir kuartal II-2026 atau tumbuh 17,8 persen (yoy), dengan belanja pemerintah pusat (BPP) berkontribusi sebesar Rp 1.298,6 triliun.

“Kinerja pasar Surat Berharga Negara (SBN) tetap terjaga di tengah ketidakpastian global yang meningkat,” ujar Purbaya dalam pernyataannya.

Langkah pemerintah untuk menjaga defisit anggaran tetap dalam batas aman menjadi kunci utama dalam meredam dampak volatilitas pasar keuangan global bagi stabilitas ekonomi nasional ke depan.