KabarDermayu.com – Krisis ketersediaan semen yang melanda Provinsi Aceh dalam satu bulan terakhir kini menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Kelangkaan material konstruksi ini tidak hanya menyebabkan lonjakan harga yang signifikan di pasaran, tetapi juga mulai mengancam keberlangsungan proyek strategis, khususnya pada sektor rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana hidrometeorologi.
Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, secara resmi telah melayangkan permohonan bantuan kepada pemerintah pusat agar segera melakukan intervensi terkait pasokan semen. Langkah ini diambil sebagai upaya mitigasi agar agenda pemulihan wilayah pascabencana tidak terhambat akibat kendala logistik material dasar.
Dalam keterangannya di Banda Aceh, Rabu, Fadhlullah mengungkapkan bahwa ia telah berkoordinasi langsung dengan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian. Mengingat posisinya sebagai Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (PRR), Mendagri diharapkan dapat memberikan solusi konkret atas persoalan distribusi yang sedang terjadi.
Selain kepada Mendagri, komunikasi intensif juga telah dijalin dengan jajaran pimpinan Danantara, yakni CEO Rosan Roeslani dan COO Dony Oskaria. Fokus utama dari koordinasi ini adalah mencari jalan keluar agar rantai pasok semen kembali stabil dan mampu memenuhi tingginya permintaan di lapangan.
Dampak Defisit Pasokan terhadap Stabilitas Harga
Pemerintah Aceh mencatat adanya ketimpangan yang cukup lebar antara kebutuhan riil dengan ketersediaan barang. Berdasarkan hasil evaluasi, kebutuhan semen di Aceh saat ini melonjak hingga mencapai 4.200 ton atau setara dengan 105.000 sak per hari. Namun, kapasitas pasokan yang tersedia saat ini hanya mampu menyentuh angka 3.700 ton atau sekitar 92.500 sak per hari.
Defisit sebesar 500 ton atau 12.500 sak per hari inilah yang memicu gejolak harga. Masyarakat dan kontraktor kini harus menghadapi harga semen di tingkat pengecer yang melambung dari kisaran normal Rp70.000 menjadi Rp120.000 per sak. Kondisi ini dinilai sangat memberatkan, terutama bagi warga yang sedang melakukan pembangunan rumah maupun proyek infrastruktur daerah.
“Kelangkaan semen ini bisa mempengaruhi proses rehab-rekon pasca bencana hidrometeorologi di Aceh. Kami mendesak dukungan pusat untuk mempercepat penambahan pasokan agar kebutuhan masyarakat dan percepatan rehabilitasi serta rekonstruksi dapat terpenuhi, sekaligus menjaga stabilitas harga di pasaran,” tegas Fadhlullah.
Langkah Antisipasi di Lapangan
Menanggapi situasi tersebut, pihak PT Solusi Bangun Andalas (SBA) sebagai salah satu produsen semen di Aceh telah melakukan langkah penyesuaian operasional. Berdasarkan rapat evaluasi dengan berbagai pemangku kepentingan terkait, beberapa kebijakan telah ditetapkan:
- Optimalisasi operasional terminal pengisian Krueng Geukuh II dengan menambah jam kerja dari 16 jam menjadi 24 jam penuh per hari.
- Penambahan pasokan semen curah dari luar wilayah Aceh melalui pengiriman jalur laut menggunakan tiga kapal pengangkut.
- Proses distribusi yang dilakukan secara bertahap sepanjang bulan Agustus guna memastikan stok di pasar tetap terjaga.
Sebagai informasi, bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor memang kerap melanda berbagai wilayah di Aceh. Proses pemulihan yang melibatkan pembangunan fisik infrastruktur publik dan perumahan warga sangat bergantung pada ketersediaan material bangunan. Oleh karena itu, kelancaran distribusi semen menjadi faktor krusial dalam menentukan keberhasilan rehabilitasi pascabencana di Serambi Mekkah tersebut.
Pemerintah Aceh berharap langkah-langkah yang telah diambil, baik di tingkat pusat melalui Satgas PRR maupun di tingkat operasional perusahaan, dapat segera menekan harga dan mengakhiri kelangkaan material dalam waktu dekat.





