Strategi Menteri Abdul Mu’ti: Pastikan Siswa SMK Tetap Belajar Saat PKL

oleh -3 Dilihat
Strategi Menteri Abdul Mu'ti: Pastikan Siswa SMK Tetap Belajar Saat PKL

KabarDermayu.com – Masa Praktik Kerja Lapangan (PKL) bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sering kali dianggap sebagai waktu jeda dari rutinitas akademik di kelas. Namun, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa pandangan tersebut harus diubah agar siswa tetap mendapatkan pendampingan belajar yang optimal meski sedang berada di dunia usaha dan dunia industri.

Dalam pernyataannya pada Selasa, 15 September 2026, Abdul Mu’ti menekankan bahwa pengalaman nyata di lapangan kerja merupakan bagian integral dari proses pendidikan. Oleh karena itu, kegiatan PKL tidak boleh menjadi alasan bagi siswa kelas XII untuk berhenti mengasah kemampuan fundamental mereka, terutama dalam bidang literasi dan numerasi.

Strategi Pembelajaran Fleksibel

Menyadari adanya variasi kondisi di lokasi PKL—mulai dari jadwal kerja yang padat, perbedaan akses internet, hingga ketersediaan perangkat—pemerintah mendorong penerapan metode pembelajaran asinkron. Pendekatan ini memungkinkan siswa untuk tetap mengakses materi, menyelesaikan tugas, dan berinteraksi dengan guru tanpa harus berada dalam ruang kelas fisik secara bersamaan.

Guru memiliki peran krusial dalam metode ini, yakni dengan menyusun materi yang relevan seperti video pembelajaran, jurnal refleksi, hingga modul ringkas. Fleksibilitas ini tetap menuntut pengawasan dari tenaga pendidik dalam menetapkan tujuan belajar, memberikan instruksi yang jelas, serta memantau perkembangan siswa secara berkala.

Pentingnya Literasi dan Numerasi di Dunia Kerja

Penguatan literasi dan numerasi bukan sekadar untuk mengejar nilai akademik, melainkan kebutuhan mendasar dalam kehidupan profesional. Kemampuan membaca prosedur kerja, memahami instruksi teknis, hingga menyusun laporan merupakan bentuk nyata literasi di tempat kerja.

Sementara itu, keterampilan numerasi sangat diperlukan untuk mendukung efisiensi pekerjaan, seperti:

  • Menghitung kebutuhan material atau bahan baku.
  • Menganalisis data penjualan atau proyeksi keuntungan.
  • Membaca grafik, tabel, serta menentukan ukuran teknis secara akurat.
  • Memperkirakan waktu pengerjaan dan efisiensi biaya.

Menjawab Tantangan Kompetensi

Dorongan ini juga didasari oleh data hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) SMK tahun 2025 yang menunjukkan perlunya peningkatan kompetensi. Berdasarkan Surat Edaran Direktur SMK Nomor 4021/B/D2/DV.00.01/2026, rerata capaian siswa pada mata pelajaran Matematika tercatat 34,84, Bahasa Inggris 22,69, dan Bahasa Indonesia 53,68. Angka tersebut menjadi tolok ukur bagi pemerintah untuk memperkuat pemahaman konsep, penalaran, dan pemecahan masalah bagi siswa.

Untuk mendukung para guru, Direktorat SMK telah menyediakan video bedah kerangka asesmen TKA. Materi ini diharapkan dapat menjadi rujukan dalam menyusun bahan ajar yang selaras dengan kebutuhan dunia kerja sekaligus mempersiapkan siswa menghadapi asesmen akademik.

“Pembelajaran tidak berhenti ketika anak-anak kita melaksanakan PKL. Justru pengalaman di dunia kerja harus menjadi bagian dari proses pembelajaran,” ujar Abdul Mu’ti.

Dengan mengintegrasikan pengalaman praktis di dunia kerja dan penguatan kemampuan akademik, diharapkan lulusan SMK tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga memiliki daya nalar yang kuat. Sinergi antara PKL dan pembelajaran akademik ini diproyeksikan dapat mencetak lulusan yang siap kerja, adaptif, serta mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.