KabarDermayu.com – Harapan keluarga dan rekan sejawat dari delapan orang yang hilang di perairan Selat Sunda kini tertuju pada hasil pemeriksaan laboratorium forensik di Bengkulu. Pihak kepolisian saat ini tengah melakukan proses pencocokan DNA terhadap jenazah yang ditemukan di Pulau Enggano pada Senin, 14 September 2026, guna memastikan apakah jasad tersebut merupakan salah satu dari rombongan jurnalis dan warga yang hilang saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau.
Kabid Humas Polda Banten, Kombes Maruli Ahiles Hutapea, mengonfirmasi bahwa jenazah tersebut telah dievakuasi ke Polda Bengkulu untuk menjalani proses autopsi mendalam. Langkah ini diambil sebagai prosedur standar untuk mengIdentifikasi korban secara akurat, mengingat kondisi fisik jenazah yang ditemukan tidak lagi utuh.
“Kami telah melakukan autopsi dan saat ini sedang menunggu hasil pencocokan DNA dengan sampel yang diambil dari pihak keluarga korban yang hilang kontak. Kami meminta semua pihak untuk bersabar hingga hasil resmi keluar,” ujar Maruli dalam keterangannya pada Selasa, 15 September 2026.
Berdasarkan laporan awal dari tim medis di lapangan, jenazah yang ditemukan di Pulau Enggano memiliki ciri-ciri fisik berupa jenis kelamin laki-laki, dengan tinggi badan sekitar 165 sentimeter. Korban diperkirakan berusia di atas 50 tahun. Namun, karena kondisi wajah yang mengalami kerusakan, pihak kepolisian menegaskan bahwa identifikasi visual tidak dapat dilakukan dan tes DNA menjadi satu-satunya cara yang akurat untuk memastikan identitas korban.
Selain memberikan update mengenai temuan jenazah, pihak kepolisian juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terburu-buru menyebarkan spekulasi atau informasi yang belum terverifikasi kebenarannya. Pihak berwenang berkomitmen untuk segera memberikan pengumuman resmi kepada publik dan rekan-rekan media segera setelah data laboratorium tersedia.
Di sisi lain, operasi pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga warga yang menumpangi kapal cepat Arupadhatu 1 masih terus dilakukan. Sebelumnya, Tim SAR Gabungan telah memutuskan untuk memperpanjang durasi pencarian selama tiga hari ke depan, setelah evaluasi pada hari ketujuh operasi tidak membuahkan hasil yang signifikan.
Kepala Kantor SAR Banten, Al Amrad, menjelaskan bahwa keputusan perpanjangan waktu ini diambil melalui rapat koordinasi intensif antar-instansi terkait. Hingga saat ini, Tim SAR Gabungan masih menghadapi tantangan berat di lapangan. Kondisi cuaca di sekitar perairan Selat Sunda dilaporkan cukup ekstrem, dengan kabut tebal yang menyelimuti area pencarian.
Kepala Pos SAR Bakauheni Basarnas Lampung, Rezie Kuswara, menambahkan bahwa jarak pandang di lokasi pencarian saat ini hanya terbatas sekitar satu mil laut. Kendati demikian, tim SAR tetap berupaya melakukan penyisiran di titik-titik yang dianggap potensial, dengan tetap mengutamakan keselamatan para personel mengingat area tersebut masih terdampak aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Berikut adalah poin penting terkait upaya pencarian yang sedang berlangsung:
- Proses autopsi jenazah di Pulau Enggano telah dilakukan di Polda Bengkulu.
- Identifikasi akhir menunggu hasil tes DNA yang dicocokkan dengan data keluarga korban.
- Operasi pencarian SAR Gabungan diperpanjang selama tiga hari ke depan pasca-evaluasi hari ketujuh.
- Faktor cuaca berkabut dan jarak pandang terbatas menjadi kendala utama tim di lapangan.
- Pencarian tetap dilakukan dengan protokol keselamatan ketat di sekitar zona erupsi.
KabarDermayu.com akan terus memantau perkembangan proses identifikasi ini dan memberikan informasi terbaru seiring dengan adanya rilis resmi dari pihak kepolisian maupun tim SAR yang bertugas.





