Dampak Perang dan Perubahan Iklim Picu Kenaikan Harga Pangan

oleh -8 Dilihat
Dampak Perang dan Perubahan Iklim Picu Kenaikan Harga Pangan

KabarDermayu.com – Kenaikan harga pangan global kembali menjadi sorotan tajam di tengah belum meredanya krisis biaya hidup yang membebani masyarakat. Fenomena ini tidak hanya dirasakan oleh negara berkembang, tetapi juga negara maju seperti Inggris.

Situasi ini menunjukkan bahwa sistem pangan dunia tengah menghadapi tekanan besar dari berbagai arah. Perubahan iklim dan gejolak geopolitik menjadi dua faktor utama yang memberikan beban signifikan.

Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat di berbagai belahan dunia terpaksa beradaptasi dengan harga kebutuhan pokok yang terus merangkak naik. Tren kenaikan ini diprediksi belum akan berhenti dalam waktu dekat.

Bahkan, riset terbaru mengindikasikan bahwa kenaikan harga pangan bisa menjadi lebih tajam. Hal ini tentu akan memperparah beban rumah tangga dan meningkatkan risiko krisis ekonomi yang lebih luas.

Menurut analisis dari lembaga think tank Energy and Climate Intelligence Unit (ECIU), harga pangan di Inggris diproyeksikan akan melonjak hingga 50 persen pada November 2026. Angka ini dihitung berdasarkan level harga pada pertengahan 2021, saat krisis biaya hidup mulai terasa.

Lonjakan ini dianggap sebagai “tonggak suram”, sebab kenaikan harga yang biasanya memakan waktu hampir dua dekade kini diprediksi terjadi hanya dalam kurun waktu sekitar lima tahun.

Kenaikan harga pangan ini dipicu oleh kombinasi berbagai faktor yang saling terkait. Mulai dari cuaca ekstrem akibat perubahan iklim, gangguan pada rantai pasok global, hingga ketergantungan pada fluktuasi harga minyak dan gas.

Beberapa bahan pangan pokok tercatat mengalami kenaikan harga yang signifikan. Produk seperti pasta, sayuran beku, cokelat, telur, dan daging sapi mengalami lonjakan harga antara 50 persen hingga 64 persen.

Minyak zaitun bahkan menunjukkan kenaikan yang lebih dramatis, mencapai 113 persen. Hal ini mencerminkan tingginya sensitivitas harga minyak zaitun terhadap biaya energi, pupuk sintetis, serta dampak iklim seperti kekeringan dan gelombang panas.

Dampak kenaikan harga ini dirasakan langsung oleh pengeluaran rumah tangga. Rata-rata biaya belanja makanan rumah tangga pada periode 2022 hingga 2023 meningkat sebesar £605, setara dengan sekitar Rp13,9 juta (dengan asumsi kurs Rp23.000 per pound).

Dari total peningkatan tersebut, sekitar £244 atau Rp5,6 juta dipicu oleh lonjakan harga energi yang merembet ke sektor pangan.

Tekanan inflasi pangan semakin diperparah oleh sejumlah komoditas yang rentan terhadap perubahan iklim. Mentega, susu, daging sapi, cokelat, dan kopi adalah beberapa contohnya.

Harga bahan-bahan ini meningkat lebih dari empat kali lipat lebih cepat dibandingkan produk makanan lainnya. Kondisi ini menjadikannya sebagai pendorong utama inflasi pangan secara keseluruhan.

Analis pangan ECIU, Chris Jaccarini, menyoroti bahwa konflik geopolitik di Timur Tengah turut memperburuk situasi. Eskalasi konflik tersebut mendorong kenaikan harga minyak dan gas secara global.

“Perang di Timur Tengah diperkirakan akan mendorong tagihan belanja semakin tinggi seiring lonjakan harga minyak dan gas,” ujarnya, seperti dikutip dari ITV pada Senin, 4 Mei 2026.

Selain itu, para ilmuwan memperingatkan bahwa tahun 2027 berpotensi menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat. Hal ini merupakan kombinasi dari dampak perubahan iklim yang terus berlanjut dan fenomena El Nino yang mulai terjadi.

“Tahun 2027 akan menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat, dengan perubahan iklim yang berpadu dengan fenomena El Nino yang mulai terjadi tahun ini,” jelasnya.

Jaccarini menambahkan, tanpa langkah serius untuk mencapai emisi nol bersih, harga pangan akan terus mengalami peningkatan. Mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dinilai sebagai langkah krusial untuk menstabilkan sistem pangan dari lonjakan harga yang ekstrem.

Sementara itu, Direktur Eksekutif The Food Foundation, Anna Taylor, menyoroti dampak sosial dari kenaikan harga pangan yang terlalu cepat. Ia menyebut keluarga berpenghasilan rendah menjadi kelompok yang paling terdampak.

Kelompok ini tidak memiliki banyak pilihan untuk mengurangi pengeluaran selain dari sektor makanan. Akibatnya, mereka terpaksa mengurangi asupan atau beralih ke makanan yang kurang bergizi.

Kondisi ini berpotensi memicu masalah sosial yang lebih serius. Peningkatan angka kelaparan, anak-anak kekurangan gizi, hingga lonjakan penyakit terkait pola makan adalah beberapa di antaranya.

Dampaknya juga bisa meluas ke sektor kesehatan masyarakat dan produktivitas tenaga kerja secara umum.

Di sisi lain, data terbaru menunjukkan adanya perubahan perilaku konsumen di Inggris. Masyarakat mulai menunjukkan kesadaran untuk mengurangi pemborosan makanan.

Tingkat limbah pangan untuk beberapa bahan utama seperti roti, susu, ayam, dan kentang dilaporkan turun dari 21 persen menjadi 18,8 persen sejak tahun 2024.

Baca juga: Shafeea Ahmad Kini: Setelah Tangis di Siraman El Rumi

Secara keseluruhan, proyeksi kenaikan harga pangan hingga 50 persen ini menjadi sinyal kuat bahwa krisis biaya hidup belum akan berakhir dalam waktu dekat. Tanpa adanya perbaikan sistem pangan yang lebih tahan terhadap perubahan iklim dan gejolak energi, tekanan terhadap ekonomi rumah tangga diperkirakan akan terus berlanjut.