Ketegangan di Selat Hormuz Meningkat Akibat Serangan Iran ke Kapal dan Pelabuhan UEA

oleh -5 Dilihat
Ketegangan di Selat Hormuz Meningkat Akibat Serangan Iran ke Kapal dan Pelabuhan UEA

KabarDermayu.com – Ketegangan global di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia, kembali memanas. Iran dilaporkan melancarkan serangan terhadap sejumlah kapal dan fasilitas minyak di Uni Emirat Arab (UEA), memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas.

Aksi militer Iran ini terjadi hanya berselang jam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan “Project Freedom”, sebuah inisiatif yang diklaim bertujuan untuk mengamankan jalur pelayaran internasional. Namun, alih-alih meredakan situasi, pengumuman Trump justru tampaknya memicu respons agresif dari Teheran.

Serangan Balasan Iran, Kapal dan Pelabuhan Jadi Sasaran

Pada Senin waktu setempat, Iran dilaporkan menyerang beberapa kapal di Selat Hormuz. Sebuah pelabuhan minyak penting di Fujairah, UEA, dilaporkan terbakar akibat serangan drone. Serangan ini menjadi signifikan karena Fujairah merupakan jalur alternatif ekspor minyak yang tidak melewati Selat Hormuz, menandakan perluasan target strategis Iran.

Kementerian Luar Negeri Korea Selatan mengonfirmasi bahwa salah satu kapal dagangnya mengalami ledakan dan kebakaran di wilayah tersebut. Otoritas maritim Inggris juga melaporkan dua kapal lain menjadi sasaran serangan di dekat perairan UEA.

Perusahaan minyak nasional UEA, ADNOC, menyatakan bahwa salah satu kapal tanker kosong mereka diserang drone saat mencoba melintasi jalur tersebut.

Misi AS Dipertanyakan, Iran Klaim Kuasai Perairan

Militer AS mengklaim telah berhasil mengawal dua kapal dagangnya melintasi Selat Hormuz dengan aman. Namun, klaim ini dibantah keras oleh Teheran.

Garda Revolusi Iran dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada kapal komersial yang berhasil menembus selat dalam beberapa jam terakhir. Sebagai bukti, mereka merilis peta baru yang memperluas garis kendali maritim Iran, termasuk mencakup sebagian perairan yang sebelumnya berstatus internasional.

Menanggapi hal tersebut, Komandan Pasukan AS di kawasan, Laksamana Brad Cooper, melontarkan klaim balasan. Ia menyatakan bahwa pihaknya telah menghancurkan enam kapal kecil Iran dan memberikan ultimatum agar pasukan Teheran menjauhi aset-aset militer Amerika. Pernyataan ini kembali dibantah oleh Teheran.

Trump Dorong Negara Lain Ikut Campur

Melalui media sosial, Trump menuduh Iran telah menyerang kapal dari negara lain, termasuk Korea Selatan.

“Iran telah menembaki negara-negara yang tidak terkait dengan pergerakan kapal dalam Project Freedom, termasuk kapal kargo Korea Selatan. Mungkin sudah saatnya Korea Selatan ikut bergabung dalam misi ini,” tulis Trump.

Ajakan Trump untuk “bergabung” dalam misi ini merupakan upaya untuk mengumpulkan sekutu. Namun, hingga kini, Washington tampaknya masih beroperasi sendirian dalam inisiatif tersebut.

Jalur Energi Dunia Terancam

Selat Hormuz memegang peranan krusial sebagai jalur distribusi energi global, dengan sekitar seperlima pasokan minyak dunia mengalir melaluinya setiap hari. Sejak konfrontasi antara AS-Israel dan Iran dua bulan lalu, Teheran telah secara efektif mengontrol selat tersebut, menjadikannya zona terlarang bagi kapal-kapal asing.

Proyek “Project Freedom” yang digagas AS diklaim belum menunjukkan keberhasilan dalam menembus blokade Iran. Perusahaan pelayaran global yang sangat memperhitungkan risiko masih memilih untuk berhati-hati dan menunggu jaminan keamanan yang nyata sebelum melintasi selat tersebut.

Situasi ini telah memicu kepanikan di pasar energi. Harga minyak dunia dilaporkan melonjak lebih dari 5 persen dalam waktu singkat, mengindikasikan kekhawatiran investor global terhadap potensi gangguan pasokan energi.

Ancaman Terbuka Iran

Iran menunjukkan keseriusannya dalam mempertahankan kendali atas Selat Hormuz. Garda Revolusi mereka menegaskan bahwa selat tersebut sepenuhnya berada di bawah kendali Teheran. Setiap kapal yang ingin melintas dengan aman harus mendapatkan izin terlebih dahulu.

Ancaman Iran bahkan lebih tajam dari sekadar blokade. “Pasukan asing, khususnya militer AS, akan menjadi sasaran serangan jika nekat masuk wilayah tersebut,” demikian bunyi peringatan keras dari Teheran.

Baca juga: Fakta Lagu Kicau Mania Dibongkar Ndarboy Genk

Upaya diplomatik yang sempat menunjukkan harapan beberapa minggu lalu kini menghadapi jalan terjal. Proposal 14 poin yang diajukan Iran melalui Pakistan belum mendapatkan respons positif, dan Trump telah memberikan sinyal kuat bahwa Washington tidak tertarik untuk melanjutkan negosiasi dalam format tersebut.