KabarDermayu.com – Memahami rukun haji terkadang dianggap sebagai hal yang kompleks oleh sebagian besar umat Islam. Namun, Buya Yahya memberikan penjelasan yang menyederhanakan esensi ibadah haji, menekankan bahwa fokus utama tidak hanya pada tata cara pelaksanaannya, tetapi juga pada kesiapan batin serta niat yang tulus sejak awal.
Buya Yahya menguraikan bahwa manasik haji dapat dibagi menjadi dua aspek utama: zahir (lahiriah) dan batin (spiritual). Dari sisi teknis, pelaksanaan rukun-rukun haji sebenarnya cukup mudah dipahami dan dilakukan.
“Manasik zahir ilmu haji pintas 2 menit, 1 menit sudah selesai… kalau kita melaksanakan haji,” jelasnya dalam sebuah kajian yang diunggah di kanal YouTube Al Bahjah TV pada Selasa, 5 Mei 2026. Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan terbesar justru terletak pada aspek batiniah, seperti menjaga keikhlasan, kekhusyukan, dan kemurnian niat selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.
Dalam perspektif fikih, Buya Yahya menegaskan pentingnya membedakan antara rukun haji dan wajib haji. Rukun haji merupakan elemen fundamental yang tidak boleh ditinggalkan sama sekali. Jika salah satu rukun terlewat, maka ibadah haji tersebut dinyatakan tidak sah.
Sementara itu, wajib haji adalah serangkaian amalan yang juga penting untuk dilaksanakan. Namun, jika ada wajib haji yang terlewat, ibadah haji masih bisa dinyatakan sah dengan menggantinya melalui pembayaran denda (dam). Pemahaman yang jelas mengenai perbedaan ini sangat krusial agar para jamaah haji dapat memprioritaskan pelaksanaan ibadah dengan benar.
Buya Yahya kemudian menjelaskan lima rukun haji yang wajib dipenuhi oleh setiap jamaah, disajikan dalam bahasa yang mudah dipahami:
1. Niat Ihram
Niat ihram merupakan gerbang awal untuk memasuki ibadah haji. Penting untuk diketahui bahwa niat ini memiliki waktu khusus yang sah untuk diucapkan, yaitu dimulai pada bulan Syawal, berlanjut sepanjang bulan Zulkaidah, hingga awal bulan Zulhijah.
2. Wukuf di Arafah
Wukuf di Arafah merupakan puncak dan inti dari seluruh rangkaian ibadah haji. Tanpa melaksanakan wukuf di Padang Arafah, ibadah haji seseorang tidak akan dianggap sah.
“Wukuf di Arafah itu mulai dari tergelincirnya matahari sampai terbitnya fajar hari berikutnya,” terang Buya Yahya. Beliau menambahkan bahwa meskipun durasi wukuf terasa singkat, selama berada di Arafah dalam rentang waktu yang ditentukan tersebut, ibadah haji tetap sah.
3. Tawaf Ifadah
Tawaf Ifadah adalah salah satu rukun haji yang melibatkan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali putaran. Dalam pelaksanaannya, Buya Yahya memberikan panduan penting.
“Yang penting jangan ganggu orang dan jangan diganggu kita oleh orang… jangan memaksakan diri tawaf di depan makam Ibrahim,” pesannya. Hal ini menekankan pentingnya menjaga ketertiban, kenyamanan, dan menghindari potensi gesekan dengan jamaah lain saat menjalankan tawaf.
4. Sa’i antara Safa dan Marwah
Rukun haji selanjutnya adalah Sa’i, yaitu berjalan atau berlari kecil sebanyak tujuh kali lintasan antara dua bukit, Safa dan Marwah. Prosesi Sa’i ini memiliki makna simbolis yang mendalam, merepresentasikan perjuangan dan ketekunan seorang hamba dalam menjalankan perintah Tuhannya.
5. Tahalul (Cukur Rambut)
Tahalul menjadi penanda berakhirnya seluruh rangkaian rukun haji. Proses ini dilakukan dengan cara memotong sebagian rambut kepala.
“Tahalul itu keluar dari amaliah haji dengan cara motong rambut… selesai sudah jadi Pak Haji dan Bu Haji,” tegas Buya Yahya. Tahalul secara simbolis menandakan selesainya ibadah haji dan dihalalkannya kembali hal-hal yang sebelumnya dilarang selama ihram.
Baca juga: Pembukaan Gelombang ke-3 PMB Universitas Nusa Mandiri 2026: Pilihan Kelas Online dan Offline
Melalui penjelasan yang lugas dan sederhana ini, Buya Yahya mengajak umat Islam untuk tidak hanya terpaku pada aspek teknis pelaksanaan ibadah haji, tetapi lebih penting lagi adalah menjaga kualitas hati dan kekhusyukan selama beribadah. Rukun haji memang menjadi syarat sahnya ibadah, namun nilai spiritual dan makna mendalam di baliknya adalah tujuan utama yang seharusnya dijaga dan dihayati sepanjang perjalanan ibadah tersebut.





