KabarDermayu.com – Ketika seseorang kembali dari menunaikan ibadah haji, lazimnya disambut dengan berbagai tradisi, salah satunya adalah menyematkan gelar “Pak Haji” atau “Bu Haji”. Namun, apakah kebiasaan ini memiliki landasan yang kuat atau sekadar tradisi semata? Buya Yahya hadir untuk memberikan pencerahan mengenai etika menyambut jamaah haji sepulang dari Tanah Suci.
Dalam penjelasannya, Buya Yahya menekankan pentingnya memiliki prasangka baik atau husnuzan terhadap orang yang baru saja menyelesaikan ibadah haji. Menurutnya, mereka adalah tamu istimewa yang telah dipilih oleh Allah SWT untuk menjalankan rukun Islam kelima.
Perasaan yang muncul saat melihat jamaah haji kembali sejatinya dapat mencerminkan kondisi hati seseorang. Apabila timbul rasa bahagia, hal itu bisa menjadi pertanda adanya harapan untuk bisa menunaikan ibadah serupa. Sebaliknya, jika muncul rasa tidak suka atau bahkan iri, hal tersebut bisa menjadi penghalang bagi diri sendiri untuk meraih kesempatan yang sama.
Mengenai panggilan “Pak Haji” atau “Bu Haji”, Buya Yahya berpendapat bahwa hal tersebut pada dasarnya tidaklah menjadi masalah. Di Indonesia, panggilan tersebut sudah mengakar kuat sebagai kebiasaan sosial yang umum. Beliau menyarankan untuk tetap menggunakan sebutan tersebut sebagai bentuk penghormatan dan untuk menjaga perasaan orang yang baru pulang dari ibadah haji.
“Kalau ada tetangga ya panggil Haji nggak ada masalah,” ujar Buya Yahya dalam sebuah kajian yang diunggah di kanal YouTube, sebagaimana dikutip pada Selasa, 5 Mei 2026.
Namun, di balik kebiasaan tersebut, Buya Yahya mengingatkan agar panggilan tersebut tidak disalahgunakan sebagai sumber kesombongan. Ibadah haji sejatinya merupakan hubungan vertikal antara seorang hamba dengan Tuhannya, bukan sekadar gelar sosial yang bisa dibanggakan.
Menariknya, Buya Yahya juga menyoroti sikap sebagian orang yang justru terlalu mempermasalahkan panggilan tersebut. Ia mengingatkan bahwa bagi mereka yang sudah menunaikan ibadah haji, sikap rendah hati tetaplah menjadi kunci utama, terlepas dari apakah mereka dipanggil dengan gelar “Haji” atau tidak.
“Kalau Anda tiba-tiba sudah Haji nggak dipanggil pak haji yang nyantai,” pesannya.
Beliau menegaskan bahwa menjaga hati adalah aspek yang paling krusial. Baik bagi orang yang memberikan panggilan maupun yang menerima panggilan, keduanya dituntut untuk sama-sama menjaga sikap agar tidak timbul kesombongan maupun rasa tersinggung.
Sebagai penutup, Buya Yahya menekankan kembali bahwa esensi dari adab menyambut jamaah haji adalah menjaga keharmonisan hati satu sama lain. Memanggil dengan sebutan “Pak Haji” dapat dipandang sebagai bentuk penghormatan, asalkan tidak disertai dengan niat yang berlebihan atau tendensi negatif lainnya.
Baca juga: Kecelakaan KRL Vs KA Argo Bromo: 36 Saksi Diperiksa, PT Vinfast Diperiksa Hari Ini
Sebaliknya, bagi mereka yang baru saja menunaikan ibadah haji, tidak perlu merasa kecewa atau tersinggung apabila tidak mendapatkan panggilan dengan gelar tersebut. Sikap lapang dada dan penerimaan justru dapat menjadi cerminan bahwa ibadah yang telah dijalankan diterima dengan baik oleh Allah SWT.





