Bitcoin Lampaui US$80.000 Didorong ETF dan Isu Geopolitik

oleh -9 Dilihat
Bitcoin Lampaui US$80.000 Didorong ETF dan Isu Geopolitik

KabarDermayu.com – Aset kripto Bitcoin (BTC) kembali mencatatkan penguatan signifikan, menembus angka US$80.000. Pencapaian ini merupakan level tertinggi dalam tiga bulan terakhir, tepatnya sejak Januari 2026.

Menurut Antony Kusuma, Vice President Indodax, kenaikan harga Bitcoin ini didorong oleh dua faktor utama secara bersamaan. Pertama, adanya aliran dana institusional yang besar masuk melalui produk ETF Bitcoin, yang tercatat mencapai US$625 juta hanya dalam satu hari perdagangan.

Selain itu, pergerakan Bitcoin juga dipengaruhi oleh sentimen global yang positif. Minat terhadap aset berisiko meningkat seiring membaiknya likuiditas pasar kripto. Ditambah lagi, adanya ketidakpastian geopolitik global turut memberikan dorongan tambahan.

“Bitcoin saat ini berada dalam posisi yang unik karena mendapatkan dorongan dari dua arah sekaligus. Di satu sisi, ia bergerak mengikuti sentimen pasar global, namun di sisi lain juga mulai dipertimbangkan sebagai alternatif di tengah ketidakpastian geopolitik,” ujar Antony seperti dikutip pada Kamis, 7 Mei 2026.

Kondisi ini mendorong investor untuk mencari aset lindung nilai di luar sistem keuangan tradisional. Penguatan harga Bitcoin ini juga didukung oleh lonjakan aktivitas pasar, dengan volume perdagangan harian yang mencapai sekitar US$48 miliar.

“Kondisi ini mengindikasikan adanya momentum positif di pasar, namun tetap perlu dianalisis secara cermat dinamika yang terjadi di pasar,” tambah Antony.

Lebih lanjut, data dari CoinMarketCap menunjukkan bahwa total aset dalam ETF Bitcoin kini telah mencapai sekitar US$105 miliar. Angka ini mencerminkan peningkatan partisipasi dan kepercayaan dari investor institusional, yang menjadi salah satu penopang penting pergerakan pasar Bitcoin.

Antony menilai bahwa momentum penguatan ini mulai menunjukkan kecenderungan bullish di pasar. Meskipun demikian, fase ini masih perlu dicermati dengan hati-hati.

Kenaikan harga yang didukung oleh aliran dana institusional dan sentimen global ini menegaskan bahwa minat terhadap aset kripto, khususnya Bitcoin, masih sangat kuat. Namun, Antony mengingatkan bahwa keberlanjutan momentum ini akan sangat bergantung pada konsistensi likuiditas pasar serta perkembangan faktor eksternal, seperti kondisi makroekonomi dan dinamika geopolitik global.

“Oleh karena itu, volatilitas tetap menjadi karakter utama aset kripto yang perlu dipahami investor dalam mengambil keputusan,” tegasnya.

Baca juga: Sindikat Joki SNBT-UTBK Terbongkar, Anggota Profesi Dokter Terima Ratusan Juta

Antony berharap masyarakat Indonesia dapat memanfaatkan momentum pasar ini secara lebih bijak dan terukur. Penting untuk tetap mengedepankan manajemen risiko di tengah dinamika global yang terus berkembang.