KabarDermayu.com – Calon Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP Hipmi), Ade Jona Prasetyo, menyatakan bahwa Indonesia membutuhkan setidaknya empat persen pengusaha dari total jumlah penduduknya untuk menjadi negara maju.
Untuk itu, Jona bertekad untuk menjadi jembatan yang dapat mewujudkan target ambisius tersebut.
Ia meyakini bahwa menjadi pengusaha adalah jalan instan untuk mengubah nasib. Oleh karena itu, Jona ingin menjadi harapan bagi seluruh anak muda Indonesia untuk meraih kesuksesan melalui kewirausahaan.
“Namun, saya tidak bisa bekerja sendirian. Saya membutuhkan dukungan dari seluruh BPD, BPC, Hipmi Perguruan Tinggi, dan seluruh kader Hipmi untuk bersama-sama mewujudkan mimpi 70 juta anak muda Indonesia,” tegas Jona dalam keterangannya pada Minggu, 10 Mei 2026.
Tahapan Musyawarah Nasional (Munas) XVIII Hipmi telah memasuki fase debat kandidat yang diselenggarakan di BW Luxury Hotel, Jambi pada Sabtu, 9 Mei 2026. Dalam kesempatan tersebut, Jona tampil percaya diri, menunjukkan penguasaan terhadap persoalan dan solusi yang dihadapi pengusaha muda.
Sebagai individu yang tumbuh dari keterbatasan, Jona memahami betul aspirasi sekitar 70 juta anak muda Indonesia yang ingin memperbaiki nasib mereka.
“Mimpi mereka hari ini, adalah mimpi saya 15 tahun yang lalu,” ujarnya, merefleksikan perjalanan pribadinya.
Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan target pertumbuhan ekonomi sebesar delapan persen. Menurut Jona, target ini sangat mungkin tercapai jika seluruh pengusaha muda bersinergi dan berkolaborasi.
Visi yang diusung Jona adalah menjadikan Hipmi sebagai rumah kolaborasi bagi pengusaha muda yang inklusif dan berdaya saing global, demi mewujudkan Indonesia Emas 2045. Untuk mencapai tujuan ini, Jona telah merancang sejumlah strategi konkret.
Pertama, adalah swasembada pangan. Jona berencana untuk memperkuat Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sektor agrikultur, memodernisasi praktik pertanian, dan menjadikan ketahanan pangan sebagai pilar utama keamanan nasional.
Kedua, swasembada energi. Ia memiliki gagasan untuk mengoptimalkan pemanfaatan energi terbarukan, mengurangi ketergantungan pada impor, mendorong penggunaan B40 untuk biosolar, serta melakukan hilirisasi batu bara menjadi sumber listrik.
Ketiga, adalah hilirisasi industri. Strategi ini akan fokus pada peningkatan kapasitas pengusaha, mengubah peran mereka dari sekadar pedagang menjadi produsen melalui penambahan nilai pada sumber daya alam, menarik investasi asing, memfasilitasi transfer teknologi, dan mempercepat transformasi industri.
Keempat, Jona berjanji untuk menaikkan batas maksimal Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Rp 500 juta menjadi Rp 2 miliar. Ia menekankan pentingnya perjuangan ini agar UMKM memiliki akses pembiayaan yang lebih besar untuk berkembang dan naik kelas.
Kelima, Jona berkomitmen untuk mempermudah akses dan persyaratan pencairan kredit bagi UMKM. Ia mengamati bahwa banyak UMKM potensial gagal mendapatkan kredit karena penilaian bank yang terlalu ketat.
“Solusinya adalah menaikkan limit kredit, sekaligus menyederhanakan persyaratan yang ada,” kata Jona.
Keenam, Jona berencana mendorong pembiayaan daerah yang difokuskan untuk UMKM. Ia akan berupaya mengonsolidasikan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan Pemerintah Daerah (Pemda) agar dapat berperan sebagai motor penggerak kredit bagi Usaha Kecil Menengah (UKM) di daerah masing-masing, dengan Hipmi sebagai sektor utama dalam pembangunan industri daerah.
Baca juga: Gol Cepat Vlahovic Antarkan Juventus Raih Tiga Poin di Markas Lecce
Dukungan serupa datang dari BPD Hipmi Kalimantan Tengah (Kalteng), yang memberikan kepercayaan kepada Jona untuk memimpin BPP Hipmi dalam periode tiga tahun ke depan.





