Batas Garis Kemiskinan RI Terbaru Naik Jadi Rp 669.235 per Kapita

oleh -5 Dilihat
Batas Garis Kemiskinan RI Terbaru Naik Jadi Rp 669.235 per Kapita

KabarDermayu.com – Upaya pemerintah dalam menekan angka kemiskinan nasional menunjukkan perkembangan positif di awal tahun 2026. Berdasarkan laporan resmi Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada Rabu, jumlah penduduk miskin di Indonesia berhasil dikurangi sebanyak 430 ribu jiwa dalam periode enam bulan terakhir.

Data tersebut membandingkan kondisi pada Maret 2026 dengan September 2025. Secara akumulatif, jumlah penduduk miskin nasional turun dari 23,36 juta orang menjadi 22,93 juta orang. Secara persentase, angka kemiskinan nasional kini berada di level 8,07 persen, lebih rendah dibandingkan posisi sebelumnya yang mencapai 8,25 persen.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Edy Mahmud, menjelaskan bahwa tren positif ini terjadi secara merata di seluruh wilayah Indonesia. “Jika dibandingkan dengan September 2025, penurunan tingkat kemiskinan terjadi di semua wilayah di Indonesia. Penurunan paling dalam tercatat di Pulau Jawa, yakni sebesar 0,21 persen poin,” ungkap Edy dalam keterangannya.

Dinamika Garis Kemiskinan

Di balik penurunan jumlah penduduk miskin, BPS juga mencatat adanya kenaikan pada standar garis kemiskinan. Garis kemiskinan nasional pada Maret 2026 ditetapkan sebesar Rp669.235 per kapita per bulan. Angka ini mengalami kenaikan sebesar 4,33 persen dibandingkan dengan periode September 2025 yang berada di angka Rp641.443 per kapita per bulan.

Garis kemiskinan sendiri merupakan nilai rupiah minimum yang harus dikeluarkan seseorang untuk memenuhi kebutuhan pokok, baik kebutuhan makanan maupun non-makanan. Kenaikan standar ini mencerminkan adanya penyesuaian terhadap biaya hidup masyarakat di tengah dinamika ekonomi nasional.

Distribusi Wilayah dan Kesenjangan

Meskipun angka kemiskinan secara nasional menurun, tantangan disparitas antarwilayah masih menjadi perhatian. Berikut adalah rincian profil kemiskinan berdasarkan wilayah pada Maret 2026:

  • Pulau Jawa: Menjadi wilayah dengan konsentrasi penduduk miskin terbesar di Indonesia, mencakup 12,02 juta orang atau 52,42 persen dari total penduduk miskin nasional.
  • Pulau Kalimantan: Mencatat jumlah penduduk miskin terendah secara nasional dengan jumlah 870 ribu orang atau sekitar 3,79 persen dari total penduduk miskin nasional.

Selain perbedaan antar-pulau, kesenjangan antara wilayah perkotaan dan perdesaan juga masih cukup kentara. Data menunjukkan bahwa penduduk di perdesaan lebih rentan terhadap kemiskinan dengan tingkat 10,67 persen, sementara di wilayah perkotaan angkanya berada di 6,34 persen.

Analisis Kedalaman dan Keparahan

BPS tidak hanya mengukur jumlah penduduk, tetapi juga kedalaman dan keparahan kemiskinan. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) memberikan gambaran mengenai seberapa jauh rata-rata pengeluaran penduduk miskin di bawah garis kemiskinan.

Menariknya, terdapat perbedaan tren antara kota dan desa. Indeks P1 dan P2 mengalami penurunan di wilayah perkotaan, yang mengindikasikan membaiknya kesejahteraan penduduk di sana. Namun, sebaliknya, kedua indeks tersebut justru mengalami peningkatan di wilayah perdesaan. Hal ini menjadi sinyal bagi pemerintah untuk lebih fokus dalam memberikan intervensi ekonomi yang tepat sasaran bagi masyarakat di daerah pelosok guna menekan kesenjangan yang masih lebar.

Peningkatan garis kemiskinan hingga Rp669.235 per kapita per bulan menjadi indikator penting dalam mengevaluasi daya beli masyarakat kelas bawah di tengah fluktuasi harga komoditas pangan dan kebutuhan pokok lainnya.

Secara keseluruhan, data Maret 2026 ini menunjukkan sinyal pemulihan ekonomi yang cukup tangguh, namun distribusi pembangunan tetap menjadi tantangan utama agar penurunan angka kemiskinan dapat dirasakan secara merata hingga ke pelosok perdesaan.