Dampak Perang Picu Kenaikan Harga BBM, Warga Berhemat Bensin dan Kurangi Aktivitas

oleh -5 Dilihat
Dampak Perang Picu Kenaikan Harga BBM, Warga Berhemat Bensin dan Kurangi Aktivitas

KabarDermayu.com – Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) yang dipicu oleh memanasnya konflik di Iran mulai memberikan dampak signifikan terhadap gaya hidup masyarakat di Amerika Serikat. Warga terpaksa melakukan penyesuaian drastis, mulai dari mengurangi frekuensi berkendara, menunda rencana liburan, hingga memangkas berbagai pengeluaran rumah tangga demi memastikan ketersediaan dana untuk membeli bensin.

Kenaikan harga bensin di Amerika Serikat terjadi secara tajam sejak eskalasi konflik di Iran. Data terbaru dari AAA menunjukkan bahwa harga rata-rata bensin reguler kini telah menembus angka US$4,54 per galon. Jika dikonversikan dengan asumsi kurs Rp17.000 per dolar AS, angka ini setara dengan sekitar Rp77 ribu per galon. Angka ini dilaporkan oleh Fortune pada Senin, 11 Mei 2026.

Sebelum eskalasi konflik Timur Tengah terjadi, harga bensin di negara tersebut masih berada pada kisaran yang jauh lebih terjangkau, yaitu sekitar US$3 per galon atau kurang lebih Rp51 ribu per galon. Kenaikan harga yang terjadi saat ini merupakan yang tertinggi sejak awal konflik Rusia-Ukraina pada tahun 2022.

Meskipun saat ini perang di Timur Tengah menunjukkan indikasi menuju gencatan senjata sementara, para analis memprediksi bahwa harga energi yang tinggi kemungkinan akan terus bertahan dalam jangka waktu yang lama. Hal ini menjadi perhatian serius bagi masyarakat luas.

Sebuah survei yang dilakukan oleh Ipsos bekerja sama dengan Washington Post dan ABC News, melibatkan lebih dari 2.500 warga dewasa Amerika Serikat, mengindikasikan bahwa dampak kenaikan harga bensin telah terasa secara signifikan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Hasil survei menunjukkan bahwa sebanyak 44 persen responden mengaku mulai mengurangi aktivitas berkendara mereka. Selain itu, 34 persen responden menyatakan telah mengubah rencana perjalanan atau liburan mereka. Sementara itu, 42 persen responden memilih untuk mengurangi pengeluaran rumah tangga lainnya agar tetap dapat memenuhi kebutuhan pembelian bensin.

Kenaikan harga bensin di Amerika Serikat dirasakan lebih berat jika dibandingkan dengan negara maju lainnya. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa mayoritas masyarakat di AS sangat bergantung pada kendaraan pribadi untuk mobilitas sehari-hari.

Rata-rata warga Amerika menempuh jarak lebih dari 13 ribu mil atau setara dengan sekitar 20 ribu kilometer per tahun menggunakan kendaraan pribadi mereka. Ketergantungan ini tidak hanya untuk keperluan pekerjaan, tetapi juga untuk berbagai aktivitas harian lainnya, mengingat ketersediaan transportasi umum di banyak wilayah masih sangat terbatas.

Akibatnya, banyak warga mulai mencari berbagai cara untuk menekan konsumsi penggunaan bensin. Beberapa orang kini memilih untuk menggabungkan beberapa aktivitas dalam satu kali perjalanan agar dapat menghemat bahan bakar. Ada pula yang secara sadar mengurangi perjalanan yang tidak berkaitan langsung dengan urusan pekerjaan.

Survei lain yang dilakukan oleh platform otomotif AmericanMuscle mengungkap temuan menarik lainnya. Sebanyak 12 persen warga Amerika dilaporkan mulai lebih sering bekerja dari rumah demi menghemat biaya bensin. Bahkan, sebagian kecil dari mereka mulai aktif mencari pekerjaan baru yang lokasinya lebih dekat dengan tempat tinggal mereka.

Masyarakat juga mulai beralih memanfaatkan transportasi umum. Operator kereta seperti Amtrak dan Brightline melaporkan adanya peningkatan jumlah penumpang jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan pergeseran preferensi mobilitas.

Selain itu, penggunaan sepeda listrik dan skuter listrik juga mengalami lonjakan yang tajam. Perusahaan penyedia e-bike, Veo, mencatat bahwa 68 persen penggunanya memilih untuk menggunakan skuter atau sepeda listrik dibandingkan mengendarai mobil, terutama karena tingginya harga bensin.

Baca juga: Geger Isu Jaringan Pedofilia Libatkan WNA Jepang di Blok M, Polisi Bilang Begini

Kenaikan harga bensin tidak hanya memberikan beban finansial, tetapi juga menimbulkan tekanan psikologis bagi masyarakat AS. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa biaya bahan bakar merupakan salah satu pos pengeluaran rutin yang selalu terlihat dan dihitung setiap hari.

Survei yang dilakukan oleh AAA pada bulan Maret lalu menunjukkan bahwa lebih dari separuh pengemudi di Amerika akan mulai mengubah kebiasaan mereka jika harga bensin melampaui angka US$4 per galon, atau setara dengan sekitar Rp68 ribu per galon. Angka ini menjadi semacam ambang batas psikologis bagi banyak konsumen.

Beban kenaikan harga bensin dirasakan paling berat oleh kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Federal Reserve New York menyebutkan bahwa kenaikan harga bensin memukul warga dengan pendapatan kecil secara lebih keras. Hal ini terjadi karena biaya transportasi mengambil porsi yang lebih besar dari total pengeluaran mereka.

Selain itu, kelompok masyarakat berpenghasilan rendah ini memiliki lebih sedikit alternatif yang bisa mereka pilih ketika harga bahan bakar mengalami kenaikan. Berbeda dengan warga berpenghasilan tinggi yang masih memiliki kemampuan finansial untuk menyerap kenaikan biaya tersebut tanpa perlu melakukan perubahan gaya hidup yang signifikan.

Di tengah kondisi yang sedang berlangsung, beberapa negara mulai mendorong penggunaan kendaraan listrik sebagai upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap bensin. Namun, masyarakat Amerika Serikat dinilai masih belum sepenuhnya menunjukkan minat untuk beralih ke mobil listrik.

Survei yang dilakukan oleh Ipsos kembali menunjukkan bahwa hanya sekitar 15 persen pengemudi di AS yang mempertimbangkan untuk membeli kendaraan listrik, meskipun harga bensin terus meningkat. Angka ini menunjukkan adanya keraguan atau pertimbangan lain yang masih dominan.

Meskipun demikian, tren ini berpotensi untuk berubah jika harga bahan bakar terus bertahan tinggi dalam jangka panjang. Sebanyak 50 persen warga AS memperkirakan bahwa harga bensin akan terus mengalami kenaikan dalam setahun ke depan. Prediksi ini bisa memicu perubahan perilaku konsumen di masa mendatang.

Departemen Energi Amerika Serikat pun memperkirakan bahwa harga bensin kemungkinan baru akan kembali ke tingkat normal pada tahun 2027. Perkiraan ini memberikan gambaran jangka panjang mengenai situasi harga energi.

Lonjakan harga bahan bakar ini juga mulai menimbulkan tekanan politik terhadap Presiden AS saat itu, Donald Trump. Sejumlah survei menunjukkan bahwa mayoritas warga menyalahkan Trump atas kenaikan harga bensin yang terjadi. Hal ini bisa berdampak pada popularitas dan kebijakan pemerintahannya.

Bahkan, survei yang dilakukan oleh University of Michigan mencatat bahwa tingkat kepercayaan konsumen di Amerika Serikat saat ini berada pada level terendah sepanjang sejarah. Salah satu faktor utama pemicu kekhawatiran ini adalah kenaikan harga energi yang terus berlanjut.