KabarDermayu.com – Selebgram Clara Shinta tengah menghadapi cobaan berat dalam rumah tangganya. Masalah ini tidak hanya menyangkut dugaan perselingkuhan, tetapi juga dampak psikologis yang dialaminya.
Kondisi ini berawal saat Clara Shinta memergoki suaminya, Muhammad Alexander Assad, melakukan tindakan tidak pantas dengan perempuan lain bernama Tri Indah Ramadhani. Peristiwa mengejutkan ini terjadi di Bangkok pada 8 April 2026.
Sejak insiden tersebut, hubungan Clara Shinta dan suaminya semakin memburuk. Akhirnya, permasalahan ini berujung pada proses perceraian yang kini tengah bergulir di Pengadilan Agama Jakarta Selatan.
Selain menghadapi proses hukum, Clara Shinta juga berjuang keras untuk menjaga kesehatan mentalnya. Ia bahkan telah menjalani perawatan intensif dengan bantuan profesional untuk menstabilkan emosinya.
Kini, Clara Shinta terlihat lebih tenang dibandingkan sebelumnya. Ia mengakui bahwa kondisi ini sangat dipengaruhi oleh pengobatan rutin yang telah dijalaninya selama beberapa waktu terakhir.
Baca juga: Laporan Reformasi Polri 3.000 Halaman Diserahkan ke Prabowo
“Saya sedang dalam pengobatan rutin, sudah dua minggu ini saya minum obat dari psikiater. Alhamdulillah, karena rutin minum obat, saya jadi kuat dan lebih tenang saat harus bicara di depan publik,” ujar Clara Shinta di Komnas Perempuan, Jakarta Pusat, pada Senin, 4 Mei 2026.
“Kalau tidak, mungkin saya tidak sanggup,” tambahnya, menekankan betapa pentingnya pengobatan tersebut baginya.
Di tengah masa pemulihan ini, Clara Shinta juga mengambil langkah tegas dalam kehidupan pribadinya. Ia memutuskan untuk tidak lagi tinggal serumah dengan suaminya.
Seluruh bentuk komunikasi antara keduanya kini dibatasi dan hanya dilakukan melalui kuasa hukum masing-masing. Hal ini dilakukan demi menjaga stabilitas emosi Clara Shinta selama proses perceraian berlangsung.
“Sudah tidak serumah lagi. Kalau komunikasi masih melalui Pak Sunan (kuasa hukum). Biar lebih stabil sih,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa jika berkomunikasi langsung, ada kekhawatiran akan terjadi pertengkaran yang berujung pada saling menyalahkan. Hal ini justru akan memperumit masalah yang sudah ada.
“Soalnya kalau kita komunikasi langsung, takutnya malah jadi cekcok dan permasalahannya bakal muter-muter di situ terus, saling menyalahkan,” ungkapnya.
Menurut Clara Shinta, keputusan untuk membatasi komunikasi ini adalah langkah terbaik demi menjaga kestabilan emosinya. Ia ingin menghindari potensi konflik yang bisa memperburuk kondisi mentalnya saat ini.
“Kalau untuk kontak atau teleponan ‘Hai’ atau ‘Say Hello’ itu sudah tidak ada. Kami serahkan semuanya ke kuasa hukum. Ini langkah terbaik untuk menjaga stabilitas emosi saya,” tutup Clara Shinta.
Langkah tegas yang diambil Clara Shinta ini menunjukkan upayanya yang kuat untuk bangkit dari situasi sulit yang menimpanya. Sambil menjalani proses hukum, ia memilih untuk fokus pada pemulihan diri agar dapat kembali menjalani kehidupan dengan lebih kuat di masa mendatang.





