KabarDermayu.com – Perkiraan biaya perang yang dikeluarkan Amerika Serikat melawan Iran sebesar 25 miliar dolar AS, atau setara dengan Rp 400 triliun, kini menuai pertanyaan dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat.
Laporan terbaru yang dikutip oleh CNN Internasional dari tiga sumber anonim yang memahami penilaian internal Pentagon, menyebutkan bahwa angka yang disampaikan oleh pejabat senior Pentagon kepada anggota parlemen pada hari Rabu kemarin dianggap menyesatkan.
Angka tersebut dinilai jauh di bawah kondisi sebenarnya, terutama jika memperhitungkan kerugian yang dialami AS dan beban yang terus membengkak sejak perang dimulai pada 28 Februari lalu.
Sumber-sumber tersebut mengungkapkan bahwa angka 25 miliar dolar AS belum mencakup kerusakan besar pada pangkalan militer AS di berbagai wilayah.
Jika biaya rekonstruksi dan penggantian aset yang hancur ikut diperhitungkan, total biaya sebenarnya bisa melonjak hingga 40 hingga 50 miliar dolar AS, atau setara dengan Rp 640 hingga Rp 800 triliun.
Melansir dari laman presstv.ir pada Kamis, 30 April 2026, pada fase awal perang, serangan Iran di kawasan Teluk Persia dilaporkan menyebabkan kerusakan signifikan pada setidaknya sembilan instalasi militer AS hanya dalam kurun waktu 48 jam.
Instalasi yang menjadi sasaran serangan tersebut meliputi pangkalan-pangkalan yang berada di Bahrain, Kuwait, Irak, Uni Emirat Arab, dan Qatar.
Serangan tersebut dilaporkan menghancurkan sistem radar penting dan berbagai peralatan kunci lainnya. Termasuk di antaranya adalah radar baterai rudal THAAD milik AS yang berada di Yordania, serta fasilitas serupa di dua lokasi di Uni Emirat Arab.
Sebuah pesawat pengintai Angkatan Udara AS jenis E-3 Sentry juga dikabarkan hancur dalam serangan di pangkalan udara Arab Saudi, yang menunjukkan skala dan ketepatan respons militer Iran.
Baca juga di sini: Edy Kusnadi Tingkatkan Layanan Digital dan Percepat Kredit UMKM
Meskipun mengalami kerugian tersebut, pejabat keuangan Pentagon, Jules “Jay” Hurst III, menyatakan kepada Komite Angkatan Bersenjata DPR AS bahwa sebagian besar dari angka 25 miliar dolar AS tersebut dialokasikan untuk pengadaan amunisi.
Sementara itu, Menteri Pertahanan, Pete Hegseth, tidak memberikan penjelasan yang jelas apakah perhitungan tersebut sudah termasuk biaya perbaikan pangkalan yang mengalami kerusakan.
Pada pekan sebelumnya, dalam pemaparan anggaran kepada media, Hurst juga mengakui bahwa Pentagon belum memiliki angka pasti terkait kerusakan fasilitas militer di luar negeri.
Ia menyebutkan bahwa hal tersebut sangat bergantung pada keputusan apakah fasilitas tersebut akan dibangun kembali atau tidak.
Hurst juga mengakui bahwa biaya perbaikan belum dimasukkan dalam usulan anggaran departemen sebesar 1,5 triliun dolar AS, atau setara dengan Rp 24 kuadriliun, untuk tahun fiskal 2027.
Angka tersebut menunjukkan adanya kenaikan belanja militer hingga 42 persen.
Menyikapi hal ini, sejumlah anggota parlemen mulai menyuarakan keraguan terhadap angka yang disampaikan.
Anggota DPR dari Partai Demokrat, Ro Khanna, dalam sebuah sidang pada hari Rabu, menyebutkan bahwa angka tersebut benar-benar melenceng dari kenyataan.
Sebelumnya, sudah ada indikasi bahwa biaya perang mencapai sekitar 11 miliar dolar AS, atau setara dengan Rp 176 triliun, hanya dalam enam hari pertama perang.
Pentagon bahkan dilaporkan meminta tambahan dana lebih dari 200 miliar dolar AS, atau setara dengan Rp 3.200 triliun, kepada Gedung Putih untuk melanjutkan operasi militer tersebut.
Meskipun demikian, ketidakpastian masih sangat besar.
Para pejabat masih dalam proses menghitung rencana pembangunan ke depan dan berharap sebagian besar biaya dapat ditanggung oleh negara-negara sekutu.
Mengutip dua pejabat senior AS, media The Atlantic melaporkan bahwa Wakil Presiden JD Vance dalam sebuah pertemuan tertutup berulang kali mempertanyakan gambaran optimis Pentagon terkait perang ini.
Ia khawatir bahwa Departemen Pertahanan justru meremehkan penipisan serius terhadap stok rudal yang dimiliki oleh Amerika Serikat.
Selain itu, di balik pernyataan resmi yang terkesan optimistis, laporan intelijen internal justru menunjukkan gambaran yang berbeda.
Sumber yang mengetahui penilaian rahasia tersebut menyebutkan bahwa Iran masih memiliki sekitar dua pertiga dari kekuatan udaranya.
Iran juga dilaporkan masih memiliki sebagian besar infrastruktur peluncuran rudal, serta armada kapal cepat dalam jumlah besar yang mampu menjalankan operasi laut di Selat Hormuz.
Jauh dari prediksi kemenangan yang cepat dan menentukan seperti yang disampaikan oleh Hegseth, perang melawan Iran kini telah berubah menjadi konflik yang mahal dan penuh ketidakpastian.
Sementara Iran tetap menjadi kekuatan yang tangguh, Amerika Serikat justru menghadapi tekanan militer yang semakin besar serta perpecahan di tingkat pemerintahan tertinggi.





