Eceng Gondok di Sungai Jumbleng: Respons Pemdes Dipertanyakan

by -8 Views
Eceng Gondok di Sungai Jumbleng: Respons Pemdes Dipertanyakan

KabarDermayu.com – Kehidupan warga Desa Jumbleng, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, kian hari kian terganggu oleh fenomena alam yang seharusnya bisa dikelola dengan baik. Sungai Kali Betokan, urat nadi kehidupan bagi sebagian warga, kini telah berubah wajah menjadi lautan hijau tanaman eceng gondok yang menyesakkan.

Kondisi ini bukan sekadar pemandangan yang tidak sedap dipandang mata, namun lebih jauh lagi, telah menimbulkan berbagai keluhan dan keresahan di tengah masyarakat. Eceng gondok yang tumbuh subur dan menutupi permukaan sungai ini telah menghambat berbagai aktivitas warga, mulai dari irigasi pertanian hingga akses transportasi air yang dulunya menjadi salah satu pilihan.

Berdasarkan pantauan di lapangan, hamparan eceng gondok ini terlihat begitu tebal, seolah membentuk karpet alami yang tak terputus. Tanaman air yang identik dengan pertumbuhan cepat ini seolah menemukan surga di Kali Betokan, mengalahkan fungsi utama sungai sebagai jalur air yang lancar.

Keluhan warga ini bukan tanpa alasan. Sungai Kali Betokan memiliki peran strategis bagi Desa Jumbleng. Bagi para petani, sungai ini adalah sumber air utama untuk mengairi sawah mereka. Namun, dengan tertutupnya aliran air oleh eceng gondok, proses irigasi menjadi terhambat, bahkan bisa dikatakan mandek.

“Ya gimana nggak ngeluh, Mas. Air buat sawah jadi susah masuk. Kalau begini terus, tanamannya bisa pada kering,” keluh salah seorang petani yang enggan disebutkan namanya, saat ditemui di tepi sungai, Selasa (02/01/2026).

Tak hanya sektor pertanian, dampak negatif ini juga dirasakan oleh warga yang memanfaatkan sungai untuk kegiatan sehari-hari. Dulu, sungai ini kerap digunakan untuk mencuci pakaian, bahkan oleh sebagian warga sebagai jalur alternatif untuk berpindah tempat. Kini, aktivitas tersebut nyaris mustahil dilakukan.

“Dulu anak-anak masih sering main di kali, sekarang mau nyuci piring aja susah. Keruh airnya, banyak sampah nyangkut di eceng gondok itu,” timpal Ibu Siti, warga Jumbleng lainnya, dengan nada prihatin.

Fenomena eceng gondok yang meluas di Kali Betokan ini sebenarnya bukan kali pertama terjadi. Namun, menurut keterangan warga, tahun ini kondisinya terasa lebih parah. Vegetasi liar tersebut tumbuh dengan kecepatan yang mengkhawatirkan, seolah tak ada upaya serius untuk mengendalikannya.

Yang menjadi sorotan utama warga, dan bahkan menimbulkan rasa frustrasi, adalah lambannya respon dari pihak Pemerintah Desa (Pemdes) Jumbleng. Berulang kali keluhan ini disampaikan, namun seolah hanya angin lalu yang berlalu.

“Udah lapor ke Pak Lurah, ke perangkat desa juga. Tapi ya gitu, belum ada tindakan nyata. Cuma janji-janji manis aja,” ungkap seorang warga dengan nada kesal.

Warga menilai, Pemdes Jumbleng terkesan “terlelap tidur” dalam menghadapi persoalan yang begitu mendasar ini. Padahal, menjaga kebersihan dan kelancaran sungai adalah tanggung jawab bersama, namun inisiatif dan koordinasi dari pemerintah desa sangatlah krusial.

Mereka berharap, pemerintah desa segera mengambil langkah konkret. Tindakan seperti pengerukan eceng gondok secara massal, serta sosialisasi kepada warga tentang pentingnya menjaga kebersihan sungai, sangat diharapkan.

“Kalau dibiarkan terus, nanti bisa jadi sarang nyamuk, penyakit juga bisa menyebar. Kita ini kan tinggal di sini, masa mau dibiarkan sungai kita jadi begini?” ujar Bapak Ahmad, tokoh masyarakat setempat, dengan nada prihatin.

Lebih lanjut, warga juga mempertanyakan apakah tidak ada anggaran atau program khusus dari desa untuk penanganan masalah lingkungan seperti ini. Mereka menduga, ada kelalaian dalam pengelolaan sumber daya dan prioritas pembangunan desa.

“Mungkin mereka lupa kalau sungai ini aset desa. Kalau bersih, kan enak dilihat, manfaatnya juga banyak. Jangan sampai masalah kecil ini dibiarkan membesar,” tambahnya.

Kondisi Sungai Kali Betokan yang dipenuhi eceng gondok ini sejatinya menjadi cerminan dari pentingnya perhatian terhadap lingkungan. Sungai bukan hanya sekadar aliran air, melainkan bagian integral dari ekosistem yang menopang kehidupan. Jika dibiarkan rusak, dampaknya akan berimbas luas pada kesejahteraan masyarakat.

Baca juga di sini: Dana SILPA 2025 untuk Cor Beton Wanantara

Pihak KabarDermayu.com mencoba mengkonfirmasi hal ini kepada pihak Pemerintah Desa Jumbleng, namun hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi yang diberikan. Warga berharap, desakan dari masyarakat ini dapat menjadi cambuk bagi Pemdes Jumbleng untuk segera bertindak dan tidak lagi membiarkan Sungai Kali Betokan terus “menangis” tertutup eceng gondok.

No More Posts Available.

No more pages to load.