KabarDermayu.com – Keindahan dan fungsi Sungai Kali Betokan di Desa Jumbleng, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, kini terancam tergerus oleh invasi tanaman eceng gondok yang semakin meluas. Kondisi ini menimbulkan keluhan mendalam dari masyarakat setempat, yang merasa penanganan dari Pemerintah Desa Jumbleng masih minim dan belum memberikan solusi berarti.
Pantauan di lapangan pada awal tahun 2026 ini menunjukkan bahwa hamparan eceng gondok telah menutupi sebagian besar permukaan air Sungai Kali Betokan. Tanaman yang tumbuh subur ini bukan hanya merusak estetika sungai, tetapi juga menimbulkan berbagai persoalan lingkungan dan sosial bagi warga Jumbleng.
Dampak Lingkungan yang Nyata
Keberadaan eceng gondok dalam jumlah masif ini secara signifikan mengurangi aliran air sungai. Akibatnya, potensi banjir saat musim hujan meningkat, sementara di musim kemarau, kekeringan bisa menjadi lebih parah karena air sulit mengalir dan terserap oleh tumbuhan tersebut. Lebih jauh lagi, penumpukan eceng gondok ini dapat menghambat pasokan oksigen ke dalam air, mengganggu ekosistem ikan dan biota air lainnya yang hidup di sungai.
Hal ini tentu saja berdampak langsung pada mata pencaharian sebagian warga yang menggantungkan hidupnya pada hasil sungai, seperti nelayan tradisional atau petani yang mengandalkan air sungai untuk irigasi. Kualitas air yang menurun juga berpotensi menimbulkan masalah kesehatan jika sungai tersebut masih dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari oleh masyarakat.
Keluhan Warga yang Menggema
Berbagai keluhan telah dilontarkan oleh warga Desa Jumbleng. Mereka merasa prihatin melihat kondisi sungai yang dulunya menjadi sumber kehidupan dan kebanggaan desa, kini berubah menjadi pemandangan yang memprihatinkan. “Sungai kita ini dulu jernih, ikannya banyak. Sekarang lihat saja, sudah seperti kasur hijau ditutupi eceng gondok,” ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya, dengan nada prihatin.
Kekecewaan juga dirasakan karena belum adanya tindakan nyata dari pihak Pemerintah Desa Jumbleng untuk mengatasi masalah ini. Warga merasa aspirasi dan keluhan mereka belum mendapatkan respons yang memadai. “Sudah sering kita bicara, sudah sering kita lapor. Tapi sepertinya belum ada langkah serius. Kami merasa seperti ‘terlelap tidur’ saja oleh pemerintah desa,” tambah warga lainnya, menyiratkan rasa frustrasi.
Harapan akan Solusi Cepat
Masyarakat Jumbleng sangat berharap agar Pemerintah Desa segera mengambil tindakan konkret. Upaya pembersihan eceng gondok secara berkala, sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan sungai, serta pencarian solusi jangka panjang untuk mencegah penumpukan eceng gondok kembali terjadi, adalah beberapa hal yang dinantikan.
Beberapa warga bahkan mengusulkan agar Pemerintah Desa berkoordinasi dengan dinas terkait di tingkat kabupaten, seperti Dinas Lingkungan Hidup atau Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang, untuk mendapatkan bantuan teknis dan sumber daya dalam penanganan masalah eceng gondok ini. Mereka meyakini bahwa dengan kerja sama yang baik, Sungai Kali Betokan bisa kembali bersih dan berfungsi optimal.
Persoalan eceng gondok di Sungai Kali Betokan ini menjadi cerminan pentingnya kesadaran kolektif dan peran aktif pemerintah dalam menjaga kelestarian lingkungan. Warga Desa Jumbleng menanti gebrakan dari pemerintah desa mereka agar sungai kebanggaan mereka tidak terus menerus tertutup oleh “selimut hijau” yang mengancam keberlangsungan hidup mereka.

