KabarDermayu.com – Harga minyak dunia masih menunjukkan tren kenaikan yang signifikan, bertahan di atas angka US$100 per barel. Meskipun terjadi sedikit koreksi pada perdagangan Selasa, 5 Mei 2026, berbagai faktor geopolitik dan kekhawatiran pasar global terus menahan harga energi tetap tinggi.
Ketegangan yang memanas antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu pemicu utama. Selain itu, kekhawatiran mengenai penipisan pasokan minyak global juga memberikan sentimen negatif terhadap stabilitas harga energi.
Sebelumnya, pada sesi perdagangan Senin, 4 Mei 2026, minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) sempat mengalami lonjakan harga yang cukup tajam. Minyak Brent naik sekitar 6 persen, sementara WTI melonjak 4 persen.
Berdasarkan laporan dari CNBC Internasional, kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman bulan Juli tercatat mengalami penurunan sebesar 0,60 persen, mencapai US$113,77 per barel. Nilai ini setara dengan sekitar Rp 1,98 juta, dengan estimasi kurs Rp 17.430 per dolar AS.
Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) mengalami koreksi yang lebih dalam, yaitu sebesar 1,35 persen. Harganya menyentuh level US$105,06 per barel, atau sekitar Rp 1,83 juta.
Penurunan harga ini terjadi setelah pasar mencermati potensi gangguan pasokan yang mungkin terjadi dalam waktu dekat. Situasi di Timur Tengah yang kembali memanas menjadi sorotan utama.
Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan berada di ambang kegagalan. Hal ini dipicu oleh serangan drone dan rudal yang dilancarkan oleh Iran ke Uni Emirat Arab (UEA).
Menanggapi serangan tersebut, pemerintah Amerika Serikat mengklaim telah berhasil menenggelamkan sebuah kapal Iran di kawasan strategis Selat Hormuz. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, juga telah melontarkan peringatan keras terkait situasi ini.
Baca juga: Laptop Intel Core i5 Terbaik: Pilihan Teratas
Dalam sebuah wawancara dengan Fox News, Trump menyatakan, “Iran akan dihancurkan dari muka bumi jika mereka menargetkan kapal-kapal AS yang melindungi lalu lintas komersial di selat tersebut.”
Trump juga sempat mengunggah sebuah pernyataan di media sosial Truth Social mengenai serangan terhadap sebuah kapal kargo Korea Selatan di Selat Hormuz. Ia menambahkan, “Mungkin sudah waktunya Korea Selatan ikut bergabung dalam misi ini.”
Selain ketegangan geopolitik, kekhawatiran pasar juga dipicu oleh kondisi pasokan global yang mulai menunjukkan tanda-tanda pengetatan. Meskipun persediaan minyak global belum mencapai level kritis, laporan dari Goldman Sachs menyoroti adanya penurunan stok dan distribusi yang tidak merata.
Hal ini meningkatkan risiko kelangkaan pasokan di berbagai wilayah. Bank investasi global tersebut juga mencatat bahwa cadangan produk olahan yang mudah diakses terus menyusut dengan cepat.
Produk-produk seperti nafta, LPG, dan bahan bakar jet yang merupakan bahan baku petrokimia menjadi perhatian khusus dalam penyusutan cadangan ini.
Secara keseluruhan, stok minyak global, baik minyak mentah maupun produk olahan yang tersimpan di darat dan laut, diperkirakan masih cukup untuk memenuhi kebutuhan selama 101 hari. Namun, angka ini diprediksi akan menurun menjadi 98 hari pada akhir Mei 2026.
Meskipun angka tersebut masih berada di atas ambang batas yang dianggap darurat, data agregat ini dinilai belum sepenuhnya mencerminkan potensi kekurangan yang lebih tajam di wilayah dan jenis produk tertentu. Terutama ketika distribusi pasokan masih mengalami hambatan.
Kondisi ini menyebabkan harga minyak terus bertahan tinggi dan rentan terhadap lonjakan harga baru. Pasar global terus dibayangi oleh ketidakpastian geopolitik dan tekanan pada pasokan energi global.





