Lonjakan Harga Minyak Global Akibat Ketegangan Iran-AS

oleh -7 Dilihat
Lonjakan Harga Minyak Global Akibat Ketegangan Iran-AS

KabarDermayu.com – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memicu lonjakan harga minyak dunia. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan telah memberikan tekanan signifikan pada pasar energi global, dengan potensi kenaikan harga yang masih terbuka lebar sepanjang tahun 2026.

Meskipun sempat terjadi mereda pasca gencatan senjata, ketidakpastian situasi di lapangan membuat para pelaku pasar tetap waspada. Jalur distribusi energi yang sangat vital, seperti Selat Hormuz, menjadi faktor kunci yang memengaruhi pergerakan harga minyak mentah internasional saat ini.

Sebuah laporan dari CNBC mengindikasikan bahwa harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) diperkirakan belum mencapai titik tertingginya pada tahun ini. Para pedagang di platform prediksi pasar Kalshi bahkan menilai ada kemungkinan besar terjadinya lonjakan harga yang lebih tinggi dalam beberapa bulan mendatang.

Proyeksi tersebut menunjukkan adanya peluang lebih dari 50 persen harga minyak akan menyentuh angka mendekati US$127 per barel. Angka ini setara dengan sekitar Rp2.159.000 per barel, jauh melampaui harga penutupan tertinggi sebelumnya yang tercatat di kisaran US$113 per barel atau sekitar Rp1.921.000 per barel pada awal April.

Selain itu, peluang harga menembus US$120 per barel, atau sekitar Rp2.040.000, juga dinilai cukup besar, dengan estimasi mencapai 63 persen.

Saat ini, harga minyak mentah masih bertahan di atas US$100 per barel, yang berarti sekitar Rp1.700.000. Bahkan, minyak jenis Brent sempat mencatatkan level tertinggi baru pasca konflik terjadi. Namun, harga tersebut sempat mengalami koreksi setelah Iran mengajukan proposal perdamaian terbaru kepada Amerika Serikat.

Meskipun demikian, ketidakpastian pasar masih belum sepenuhnya sirna. Hingga kini, belum ada kejelasan pasti mengenai kapan Selat Hormuz akan dibuka kembali, serta potensi berakhirnya blokade laut yang diberlakukan oleh Amerika Serikat.

Situasi yang belum pasti ini menyebabkan sebagian penurunan harga minyak setelah gencatan senjata kembali berbalik arah menjadi kenaikan. Menariknya, ekspektasi pasar terhadap skenario harga yang sangat ekstrem justru mulai menunjukkan penurunan.

Pada awal April, sebelum pengumuman gencatan senjata, peluang harga minyak menembus US$150 per barel atau setara Rp2.550.000 diperkirakan mencapai lebih dari 50 persen. Namun, saat ini peluang tersebut telah menurun menjadi sekitar 26 persen.

Baca juga di sini: Sopir Diduga Mengantuk, Truk Terperosok ke Parit di Bundaran Widasari

Penurunan ekspektasi ini mengindikasikan bahwa para pelaku pasar mulai melakukan penyesuaian terhadap perkembangan situasi geopolitik yang ada. Meski begitu, selama konflik belum sepenuhnya mereda, volatilitas harga minyak diperkirakan akan tetap tinggi.