KabarDermayu.com – Stabilitas pasokan energi nasional kini bertumpu kuat pada kehadiran Terminal LPG Tanjung Sekong yang berlokasi di Cilegon, Banten. Sebagai infrastruktur vital yang menyuplai hingga 40 persen kebutuhan LPG di Indonesia, terminal ini memainkan peran sentral dalam memastikan roda ekonomi masyarakat, mulai dari sektor rumah tangga hingga industri kecil, tetap berputar tanpa kendala.
Dalam kunjungan kerja bertajuk Management Walkthrough yang berlangsung pada Rabu (29/7/2026), Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Mochamad Iriawan, menegaskan bahwa LPG merupakan komoditas strategis yang menyentuh hajat hidup orang banyak. Oleh karena itu, keandalan distribusi dari terminal ini menjadi prioritas utama bagi Pertamina guna menjamin ketersediaan energi di 63 kabupaten dan kota yang tersebar di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Sumatera Selatan.
Sejarah dan Kapasitas Infrastruktur
Terminal LPG Tanjung Sekong memiliki rekam jejak yang panjang dalam mendukung ketahanan energi nasional. Beroperasi perdana pada tahun 2012, fasilitas ini terus mengalami pembaruan teknologi, termasuk peningkatan status menjadi Terminal LPG Refrigerated pada tahun 2020. Transformasi ini dilakukan untuk menjawab tantangan kebutuhan energi yang terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi nasional.
Secara fisik, terminal ini berdiri di atas lahan seluas 12,9 hektare dengan kapasitas penyimpanan yang sangat masif, yakni mencapai 98.000 metrik ton (MT). Operasionalnya didukung oleh tiga dermaga khusus yang mampu melayani kapal dengan kapasitas mulai dari 3.500 hingga 65.000 DWT. Dengan catatan throughput lebih dari 200 ribu MT setiap bulannya, Tanjung Sekong kini diakui sebagai salah satu hub LPG terbesar yang dimiliki Indonesia.
Fokus pada Keselamatan dan Digitalisasi
Dalam kunjungannya, Mochamad Iriawan tidak hanya meninjau kapasitas operasional, tetapi juga menekankan pentingnya aspek Health, Safety, Security, and Environment (HSSE). Baginya, budaya keselamatan adalah fondasi mutlak yang tidak bisa ditawar dalam mengelola objek vital nasional. Seluruh proses, mulai dari penerimaan, penyimpanan, hingga distribusi LPG, harus dijalankan dengan standar keamanan yang ketat.
Selain aspek keselamatan, Pertamina juga melakukan langkah transformasi digital dalam rantai pasok LPG. Penerapan sistem pemantauan stok secara real-time memungkinkan manajemen untuk mengambil keputusan lebih cepat. Optimalisasi waktu sandar kapal juga menjadi salah satu fokus utama agar arus distribusi energi ke berbagai daerah menjadi lebih efisien dan tepat waktu.
Menuju Operasi Berkelanjutan
Tidak hanya berorientasi pada volume distribusi, Terminal LPG Tanjung Sekong kini mulai melirik pengembangan inisiatif dekarbonisasi. Pertamina tengah menjajaki pemanfaatan energi rendah emisi untuk mendukung operasional terminal, selaras dengan komitmen perusahaan dalam mendukung transisi energi yang lebih bersih dan berkelanjutan di masa depan.
VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menambahkan bahwa dedikasi para pekerja di lapangan menjadi kunci utama keberhasilan terminal ini. Beroperasi selama 24 jam penuh, terminal ini memastikan bahwa pasokan energi tidak pernah terputus bagi masyarakat luas.
“Operational excellence di terminal ini bukan sekadar tentang fasilitas fisik, melainkan perpaduan antara disiplin operasional, penerapan standar HSSE yang ketat, dan kesiapan seluruh personel. Dari sinilah, ketahanan energi untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat dapat terus terjaga dan terjamin distribusinya ke seluruh penjuru wilayah layanan,” pungkas Baron. (LAN)





