Pertamina Berdayakan Masyarakat Pesisir Lewat Olahan Hasil Laut

oleh -4 Dilihat
Pertamina Berdayakan Masyarakat Pesisir Lewat Olahan Hasil Laut

KabarDermayu.com – Upaya nyata dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat pesisir terus digencarkan oleh PT Pertamina Patra Niaga melalui inisiatif strategis bertajuk Kampung Bahari Si Pelaut. Program yang berlokasi di Kampung Tua Terih, Batam ini, menjadi bukti konkret bagaimana sinergi antara korporasi dan komunitas lokal dapat menciptakan ekosistem ekonomi yang mandiri dan berkelanjutan.

Komisaris Utama Pertamina Patra Niaga, Sabar Yudo Suroso, dalam kunjungannya pada 9 Agustus 2026, menekankan bahwa potensi yang dimiliki Kampung Tua Terih sangatlah besar. Menurutnya, keberhasilan program ini tidak hanya terletak pada bantuan material yang diberikan, melainkan pada transformasi pola pikir masyarakat dalam mengelola kekayaan pesisir menjadi produk bernilai tambah tinggi.

“Apa yang dikembangkan di sini menunjukkan bahwa dukungan yang diberikan dapat dimanfaatkan menjadi kegiatan produktif, sarana edukasi, sekaligus produk yang memiliki nilai tambah. Potensinya sangat baik dan perlu terus dikembangkan agar manfaatnya semakin luas,” ujar Sabar saat memberikan keterangan resmi di Jakarta.

Program Kampung Bahari Si Pelaut sendiri merupakan bagian dari skema Community Involvement & Development (CID) perusahaan. Fokus utamanya adalah memberdayakan nelayan serta kelompok perempuan melalui diversifikasi usaha. Pada kunjungan tanggal 5 Agustus 2026, pihak Pertamina Patra Niaga turut menyalurkan bantuan berupa 1.000 bibit ikan kakap dan 500 bibit ikan nila yang diserahkan langsung kepada KUB Terihindo Jaya Lestari serta Kelompok Wanita Tani Warisan Lestari.

Berikut adalah kelompok masyarakat yang terlibat aktif dalam ekosistem pemberdayaan ini:

  • KUB Terihindo Jaya Lestari
  • KUB Belian Tuah
  • Kelompok Wanita Tani Warisan Lestari
  • Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar) Sukses Bersama

Kelompok-kelompok ini menjalankan berbagai kegiatan produktif, mulai dari budi daya ikan (kakap, bawal, dan kerapu), sistem aquaponik untuk sayuran, hingga rehabilitasi ekosistem mangrove di wilayah pesisir. Dampak ekonomi yang dihasilkan pun cukup signifikan; tercatat terjadi kenaikan pendapatan rata-rata per anggota dari Rp27,56 juta menjadi Rp68,45 juta, atau peningkatan sekitar 40 persen.

VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, menjelaskan bahwa program ini dirancang dengan menyesuaikan potensi lokal yang ada. Selain aspek ekonomi, program ini juga memiliki misi lingkungan yang kuat. Tercatat, Kampung Bahari Si Pelaut berhasil mengelola 35,24 ton sampah per tahun serta menekan emisi hingga 113,5 ton CO₂-ekivalen per tahun.

Inovasi di sektor pengolahan hasil laut menjadi salah satu nilai jual utama. Ketua Poklahsar Sukses Bersama, Dian, mengungkapkan bahwa anggotanya kini mampu mengolah seluruh bagian ikan—termasuk tulang dan kepala—menjadi produk bernilai ekonomi. Produk seperti keripik kulit ikan, abon, hingga penyedap rasa alami kini bahkan telah menembus pasar mancanegara seperti Singapura dan Malaysia.

Dari sisi nelayan, efisiensi operasional juga menjadi prioritas. Melalui penerapan inovasi Budidaya Ikan Terintegrasi (BUDITA/Eco-Dita), para nelayan berhasil memangkas masa pemeliharaan ikan dari 240 hari menjadi hanya 120 hari. Ketua KUB Terihindo Jaya Lestari, Seno, menyatakan bahwa percepatan panen ini secara langsung mempercepat perputaran modal usaha.

Secara keseluruhan, inisiatif ini merupakan langkah strategis Pertamina Patra Niaga dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin ke-14, yakni menjaga ekosistem lautan. Dengan memadukan pemberdayaan masyarakat dan pelestarian lingkungan, program ini diharapkan dapat menjadi model bagi daerah pesisir lainnya di Indonesia dalam mencapai kemandirian ekonomi.