Dampak Global, Pertamina: Harga Pertamax Bisa Tembus Rp 20.000 per Liter

oleh -4 Dilihat
Dampak Global, Pertamina: Harga Pertamax Bisa Tembus Rp 20.000 per Liter

KabarDermayu.com – Stabilitas harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di Indonesia kini tengah menghadapi tantangan berat akibat dinamika geopolitik global yang kian memanas. Pertamina Patra Niaga memberikan sinyal peringatan bahwa harga produk seperti Pertamax dan Pertamina Dex berpotensi mengalami lonjakan signifikan jika ketegangan di Timur Tengah tidak segera mereda.

Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto, mengungkapkan kekhawatiran mendalam terkait situasi di Selat Hormuz. Menurutnya, konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran ini memiliki Dampak yang jauh lebih luas terhadap rantai pasok energi global dibandingkan dengan krisis energi yang dipicu oleh perang antara Rusia dan Ukraina sebelumnya.

Dalam keterangannya di Yogyakarta pada Jumat, 11 September 2026, Eko menjelaskan bahwa ketidakpastian ini membuat harga minyak mentah dunia sulit untuk diprediksi. “Kita berharap semoga situasi geopolitik di Timur Tengah dapat segera mereda. Jika tidak, kondisinya akan terus memberikan dampak negatif bagi stabilitas harga BBM di dalam negeri,” ungkapnya.

Salah satu skenario terburuk yang dipaparkan adalah potensi kenaikan harga BBM nonsubsidi ke level Rp18.000 hingga Rp20.000 per liter. Angka ini mencuat sebagai konsekuensi logis apabila harga minyak mentah dunia terus bertahan tinggi dan tidak menunjukkan tren penurunan ke level ideal, yakni di kisaran US$60 hingga US$70 per barel.

Latar Belakang Kenaikan Harga Minyak Dunia

Data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan gambaran nyata mengenai tekanan yang dialami pasar energi. Berdasarkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 352.K/MG.03/MEM.M/2026, rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) pada Agustus 2026 tercatat berada di level US$89,43 per barel.

Angka tersebut menunjukkan peningkatan yang cukup tajam, yakni naik sebesar US$7,75 per barel dibandingkan dengan ICP pada Juli 2026 yang berada di posisi US$81,68 per barel. Peningkatan harga ini dipicu oleh meningkatnya risiko geopolitik yang mengganggu jalur distribusi minyak internasional.

Pemerintah saat ini terus melakukan pemantauan ketat terhadap perkembangan pasar energi global menjelang penetapan harga untuk periode September. Fokus utama pemerintah tetap pada upaya menjaga ketahanan energi nasional serta memastikan akuntabilitas dalam pengelolaan ICP di tengah fluktuasi pasar yang sangat dinamis.

Dampak pada Konsumen

Bagi masyarakat, potensi kenaikan harga BBM nonsubsidi tentu menjadi perhatian serius. Pertamina menegaskan bahwa penentuan harga produk nonsubsidi sangat dipengaruhi oleh harga minyak dunia dan nilai tukar mata uang, mengingat sebagian besar kebutuhan minyak mentah masih dipenuhi melalui impor.

Hingga saat ini, belum ada indikasi penurunan harga minyak dunia yang signifikan. Ketegangan di wilayah produsen minyak utama dunia tersebut terus menjadi faktor dominan yang menahan harga tetap berada di level tinggi. Pertamina sendiri terus berupaya melakukan berbagai langkah efisiensi agar dampak dari kenaikan harga minyak global tidak sepenuhnya dibebankan kepada konsumen di Indonesia.

“Dengan adanya perang di Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz, dampaknya dirasakan secara global. Selain mengganggu ketersediaan energi, harga yang saat ini berlaku juga belum menunjukkan stabilitas,” tambah Eko dalam penjelasannya.

Masyarakat diharapkan untuk tetap tenang dan mengikuti perkembangan informasi resmi terkait kebijakan energi dari pemerintah maupun Pertamina. Stabilitas harga BBM ke depan akan sangat bergantung pada bagaimana situasi global berkembang dalam beberapa waktu ke depan.