Rupiah Menguat: Cadangan Devisa Mei Turun, Harga Minyak Naik

oleh -1 Dilihat
Rupiah Menguat: Cadangan Devisa Mei Turun, Harga Minyak Naik

KabarDermayu.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 18.171 pada Senin, 8 Juni 2026. Posisi rupiah itu melemah 132 poin dari kurs sebelumnya di level 18.039 pada perdagangan Jumat, 5 Juni 2026.

Sementara perdagangan di pasar spot pada Selasa, 9 Juni 2026 hingga pukul 09.03 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 18.141 per dolar AS. Posisi itu menguat 46 poin atau 0,26 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 18.187 per dolar AS.

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pasar memiliki kegelisahan pada pengeluaran besar-besaran pemerintahan Prabowo di program MBG dan Kopdes Merah Putih.

“Hal itu membuat defisit neraca transaksi berjalan melebar, seiring menyusutnya surplus perdagangan Indonesia,” ujar Ibrahim dalam riset hariannya, Selasa, 9 Juni 2026.

Selain itu, pemerintah harus menghitung ulang subsidi BBM yang begitu besar akibat lonjakan harga minyak mentah, setelah penutupan selat hormuz oleh Iran. Sehingga, kebutuhan dolar AS tinggi dan membuat utang pemerintah semakin membengkak.

Kemudian, Bank Indonesia (BI) mencatat cadangan devisa mencapai US$144,9 miliar atau setara Rp 2.590,2 triliun pada akhir Mei 2026. Angka itu turun dari bulan sebelumnya sebesar US$ 146,2 miliar.

Bahkan, jika ditarik data historis lebih jauh, maka cadangan devisa di level US$144,9 miliar itu merupakan rekor terendah baru atau dalam 23 bulan terakhir sejak Juni 2024, di mana saat itu cadangan devisa di level US$140,2 miliar.

Posisi cadangan devisa pada akhir Mei 2026 itu setara dengan pembiayaan 5,6 atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Karenanya, BI menilai cadangan devisa tersebut masih mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Bank sentral turut meyakini ketahanan sektor eksternal akan tetap terjaga dengan cadangan devisa tersebut.

“Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 18.180-Rp 18.230,” ujarnya.

Sebagai informasi, tensi geopolitik kembali memanas pascaserangan Israel di Lebanon sehari sebelumnya, tetapi juga semakin menguat setelah terdengar suara ledakan di Iran. Suara ledakan terdengar di Teheran, Tabriz, dan Isfahan, menurut laporan media lokal pada Senin pagi.

Hal itu mengikis harapan akan segera berakhirnya perang yang lebih luas dan dimulainya kembali aliran minyak mentah melalui Selat Hormuz.

Israel mengatakan pada hari Senin bahwa mereka menyerang pabrik petrokimia di barat daya Iran, bersamaan dengan serangan di tempat lain terhadap target militer. Hal itu terjadi meskipun Presiden AS, Donald Trump, dilaporkan telah meminta Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu untuk menahan diri dari serangan lebih lanjut.

Saham BBCA Tersisa Rp4.850 Saat Rupiah di Rp18.148 per Dolar AS, Bagaimana Nasib BCA Selanjutnya?
Rupiah kini masih bergerak di level Rp18.000 per dolar AS. Saham BBCA terkoreksi dalam beberapa pekan terakhir di tengah tekanan kurs dan sentimen global.

VIVA.co.id
9 Juni 2026