KabarDermayu.com – Presiden Prabowo Subianto telah menyampaikan permintaan maaf secara langsung kepada delapan duta besar negara sahabat yang baru saja menyerahkan surat kepercayaan mereka di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, pada Senin, 8 Juni 2026.
Permohonan maaf ini disampaikan lantaran proses penerimaan kredensial tidak dapat dilaksanakan lebih awal sejak para diplomat tersebut tiba dan memulai tugas mereka di Indonesia.
Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu), Anis Matta, menjelaskan bahwa Presiden Prabowo secara spesifik memberikan keterangan kepada para duta besar mengenai penundaan agenda diplomatik tersebut.
“Tadi Presiden sudah juga menyampaikan, pertama beliau meminta maaf atas keterlambatan ini kepada seluruh para dubes,” ujar Anis kepada awak media, pada Selasa, 9 Juni 2026.
Menurut Anis, tertundanya penyerahan kredensial ini bukan disebabkan oleh faktor politik atau kesengajaan pemerintah dalam menunda proses diplomatik. Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut murni dipengaruhi oleh padatnya agenda Presiden sejak awal masa pemerintahannya.
“Dan murni lebih banyak karena faktor jadwal yang sangat padat dari beliau. Tidak ada niat sama sekali untuk menunda-nunda pemberian kredensial ini. Sama sekali enggak, murni karena masalah jadwal yang sangat padat saja sejak dari pelantikan dan situasi fokus beliau kepada penanganan situasi global yang benar-benar membutuhkan konsentrasi penuh ya,” jelasnya.
Anis menambahkan bahwa sejak dilantik sebagai Presiden, Prabowo dihadapkan pada berbagai agenda domestik dan internasional yang sangat menyita perhatian pemerintah.
Kondisi geopolitik global yang terus berubah dan dinamis juga disebut menjadi salah satu faktor yang membuat Presiden harus memusatkan perhatiannya pada berbagai isu strategis di tingkat internasional.
Meskipun demikian, Anis menyatakan bahwa para duta besar memahami situasi yang dihadapi Indonesia dan menerima penjelasan yang disampaikan Presiden dengan baik.
“Bagus semuanya. Mereka bisa mengerti situasinya dan karena pada dasarnya situasi seperti ini juga pada umumnya, karena situasi global seperti sekarang ini, orang bisa mengerti situasinya ya,” jelasnya.
Ia memastikan bahwa tidak ada persoalan diplomatik yang muncul akibat keterlambatan tersebut. Hubungan Indonesia dengan negara-negara sahabat tetap berjalan normal, dan para diplomat yang hadir memahami alasan di balik penjadwalan ulang agenda kenegaraan ini.
“Jadi tidak ada, tidak ada masalah pada dasarnya gitu ya,” ungkap Anis menambahkan.





