Selat Bab el-Mandeb: Ancaman Baru Iran, Potensi Lonjakan Harga Minyak Akibat Penutupan

oleh -1 Dilihat
Selat Bab el-Mandeb: Ancaman Baru Iran, Potensi Lonjakan Harga Minyak Akibat Penutupan

KabarDermayu.com – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memicu kekhawatiran baru terhadap pasar energi global. Setelah Selat Hormuz menjadi sorotan utama akibat gangguan lalu lintas kapal, kini Selat Bab el-Mandeb disebut sebagai jalur strategis potensial yang dapat ditutup oleh Iran melalui kelompok Houthi di Yaman.

Jika skenario ini terwujud, para analis memprediksi dampaknya akan melampaui gangguan perdagangan internasional. Hal ini berpotensi memicu lonjakan tajam pada harga minyak dunia. Bahkan, harga minyak global bisa menembus angka US$200 per barel jika kedua jalur pelayaran energi vital ini lumpuh secara bersamaan.

Selat Bab el-Mandeb adalah jalur sempit yang krusial, menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Perannya sangat penting dalam perdagangan internasional karena menjadi jalur ekspor minyak dari Arab Saudi dan rute distribusi utama berbagai komoditas dunia.

Selama ini, perhatian global lebih terfokus pada Selat Hormuz yang terletak di Teluk Persia. Namun, eskalasi konflik yang terus meningkat kini menjadikan Bab el-Mandeb memiliki tingkat risiko yang sama besarnya terhadap stabilitas pasokan energi global.

Mengutip laporan Reuters pada Rabu, 15 Juli 2026, intensifikasi serangan Amerika Serikat terhadap wilayah Iran dan peningkatan serangan oleh kelompok Houthi menunjukkan upaya Teheran untuk memperluas tekanan terhadap Washington. Salah satu caranya adalah dengan mengancam jalur perdagangan dan pasokan energi dunia.

Iran sebelumnya telah mendemonstrasikan kemampuannya mengganggu lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Kini, para pengamat menilai negara tersebut berpotensi membuka tekanan baru melalui Selat Bab el-Mandeb dengan memanfaatkan kelompok Houthi yang mereka dukung.

Mohammed al-Farah, anggota biro politik Houthi, bahkan secara terbuka menyatakan kemungkinan penutupan kedua jalur strategis tersebut jika situasi terus memburuk. Ia memperingatkan, “Jika situasi saat ini makin memburuk, Selat Bab el-Mandeb dan Selat Hormuz akan ditutup dalam sebuah aliansi operasional. Harga minyak kemudian akan melonjak hingga US$200 per barel dalam guncangan yang mengerikan.”

Pernyataan ini memperkuat kekhawatiran bahwa konflik di Timur Tengah tidak lagi terbatas pada wilayah Teluk Persia, melainkan berpotensi meluas ke Laut Merah.

Sejumlah analis berpendapat bahwa jika Selat Hormuz adalah senjata strategis utama Iran, maka Selat Bab el-Mandeb menjadi opsi tekanan berikutnya yang dapat digunakan jika konflik terus meningkat.

Pakar Timur Tengah, Fawaz Gerges, menjelaskan bahwa Iran ingin menunjukkan kepada Amerika Serikat bahwa mereka memiliki kemampuan untuk mengancam dua jalur pelayaran energi terpenting di dunia secara bersamaan.

Menurutnya, langkah tersebut akan mengubah konflik yang semula bersifat bilateral menjadi ancaman langsung terhadap perdagangan energi internasional. “Iran bersedia menempuh segala cara,” kata Gerges kepada Reuters.

Ia menambahkan bahwa pesan yang ingin disampaikan Teheran tidak hanya sebatas risiko di Selat Hormuz, tetapi juga mencakup ancaman terhadap Bab el-Mandeb. Para analis memperingatkan bahwa risiko terbesar bukanlah pecahnya perang terbuka, melainkan eskalasi bertahap atau yang dikenal sebagai mission creep. Dalam kondisi ini, kedua pihak terus meningkatkan tekanan tanpa menyatakan perang secara resmi.

Apabila konflik meluas hingga memengaruhi Selat Bab el-Mandeb, perdagangan internasional diperkirakan akan mengalami gangguan yang lebih besar. Jalur distribusi minyak mentah dan berbagai komoditas penting berpotensi terganggu, yang pada akhirnya memicu kenaikan harga energi di pasar global.

Mantan negosiator perdamaian Amerika Serikat untuk Timur Tengah, Dennis Ross, menyatakan bahwa tujuan Washington adalah mengubah perhitungan strategis Iran agar bersedia kembali ke meja perundingan. Tantangan utamanya, menurutnya, adalah menciptakan pengaturan yang dapat diterima kedua belah pihak sehingga konflik tidak semakin meluas.

Ancaman terhadap Selat Bab el-Mandeb bukanlah hal baru. Kelompok Houthi sebelumnya telah menunjukkan kemampuannya mengganggu perdagangan global melalui jalur tersebut.

Sejak perang Gaza pecah pada Oktober 2023, kelompok yang didukung Iran itu melancarkan serangkaian serangan terhadap kapal-kapal komersial di Laut Merah. Mereka menyatakan kapal yang memiliki keterkaitan dengan Israel sebagai target serangan sebagai bentuk dukungan terhadap Palestina.

Serangan-serangan tersebut memaksa banyak perusahaan pelayaran internasional untuk mengubah rute kapal mereka dengan mengitari Afrika bagian selatan. Akibatnya, biaya logistik meningkat tajam dan rantai pasok global ikut terganggu.

Situasi itu juga mendorong Amerika Serikat dan Inggris melancarkan serangan udara terhadap posisi Houthi, sekaligus membentuk misi angkatan laut multinasional untuk melindungi jalur pelayaran internasional.

Dosen senior King’s College London, Andreas Krieg, menilai ancaman penutupan Selat Bab el-Mandeb sebagai “opsi nuklir lainnya” yang dimiliki Iran setelah Selat Hormuz. Namun, ia memperkirakan langkah tersebut baru akan diambil apabila Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menilai perang terbuka sudah tidak dapat dihindari lagi.

Sementara itu, Ketua Gulf Research Center, Abdulaziz Sager, mengatakan negara-negara Teluk masih mengedepankan jalur diplomasi karena menyadari konflik yang lebih luas akan membawa dampak besar bagi kawasan. Meskipun demikian, ia menilai kelompok Houthi tetap memiliki kemampuan mengganggu pelayaran di Bab el-Mandeb, namun kecil kemungkinan meningkatkan eskalasi tanpa arahan langsung dari Teheran.