KabarDermayu.com – Harga minyak mentah jenis Brent kembali menembus angka 80 dolar AS per barel pada Jumat. Kenaikan ini dipicu oleh kekhawatiran meningkatnya risiko geopolitik menyusul pembatalan perundingan antara Amerika Serikat dan Iran. Selain itu, serangan baru yang dilancarkan Israel di Lebanon juga turut mempengaruhi pasar.
Pada pukul 07.00 GMT, minyak mentah Brent diperdagangkan di kisaran 80,11 dolar AS per barel. Meskipun demikian, kondisi pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan menunjukkan adanya perbaikan.
Faktor utama yang mendorong kenaikan harga minyak adalah pengumuman dari Swiss mengenai pembatalan perundingan yang seharusnya berlangsung sesuai jadwal. Kementerian Luar Negeri Swiss menyatakan bahwa diskusi yang dijadwalkan di Burgenstock tidak dapat dilaksanakan.
Pembatalan ini terjadi setelah Gedung Putih mengumumkan bahwa Wakil Presiden AS, JD Vance, tidak akan jadi berangkat ke Swiss. Alasan yang diberikan adalah belum terselesaikannya rincian logistik untuk pembicaraan teknis yang diharapkan dengan Iran.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran mengenai kelanjutan proses diplomasi, terutama setelah adanya perjanjian damai sementara antara AS dan Iran. Perjanjian tersebut sebelumnya berhasil mengakhiri konflik berkepanjangan dan menyebabkan gangguan pasokan energi terbesar dalam sejarah.
Secara terpisah, laporan dari Kantor Berita Nasional Lebanon menginformasikan adanya serangan bom dan artileri oleh Israel di Kota Nabatieh dan wilayah sekitarnya. Insiden ini dilaporkan menyebabkan kematian sedikitnya 24 orang dan melukai beberapa lainnya pada Jumat dini hari.
Meskipun risiko geopolitik kembali meningkat, para investor juga menyoroti tanda-tanda normalisasi arus energi melalui Selat Hormuz. Komando Pusat Amerika Serikat mengumumkan telah mencabut pembatasan lalu lintas menuju dan dari pelabuhan serta perairan pesisir Iran.
Sementara itu, Pusat Informasi Maritim Gabungan memberikan saran kepada kapal-kapal yang melintasi selat tersebut. Kapal-kapal dianjurkan untuk mengambil jalur yang lebih dekat ke garis pantai Oman guna meminimalkan risiko terkait ranjau laut.
Kapal tanker yang sebelumnya tertahan karena situasi tersebut dilaporkan mulai keluar dari jalur perairan pada Kamis. Ditambah lagi, Kuwait menyatakan akan segera meningkatkan produksi minyaknya.
Prospek pengiriman yang membaik ini cenderung membatasi laju kenaikan harga minyak. Harga minyak dilaporkan telah menghapus hampir seluruh kenaikan yang tercatat sejak konflik Timur Tengah dimulai pada akhir Februari. Hal ini membuat harga minyak berada di jalur penurunan mingguan yang cukup tajam.





