Rupiah Anjlok ke Rp 18.167: Minyak & Timur Tengah Picu Pelemahan

oleh -4 Dilihat
Rupiah Anjlok ke Rp 18.167: Minyak & Timur Tengah Picu Pelemahan

KabarDermayu.com – Nilai tukar Rupiah kembali mengalami pelemahan signifikan pada perdagangan Senin, 8 Juni 2026. Hingga pukul 10.50 WIB, Rupiah tercatat diperdagangkan di level Rp 18.167 per dolar Amerika Serikat (AS). Posisi ini menunjukkan pelemahan sebesar 131 poin atau 0,73 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 18.036 per dolar AS.

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap tren pelemahan Rupiah. Ia memprediksi nilai tukar Rupiah berpotensi terus merosot hingga menyentuh angka Rp 19.000 per dolar AS pada akhir bulan Juni 2026.

“Ada kemungkinan besar untuk Rupiah, kalau saya lihat dari kondisi saat ini, bisa mencapai level Rp 19.000 per dolar AS di akhir bulan ini,” ujar Ibrahim dalam pesan suara yang diterima VIVA pada Senin, 8 Juni 2026.

Ibrahim menjelaskan bahwa anjloknya Rupiah secara signifikan ini dipicu oleh dua faktor utama. Pertama adalah isu geopolitik global, khususnya memanasnya situasi di Timur Tengah. Kedua adalah kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) yang berdampak luas.

Lebih lanjut, ia merinci bahwa ketegangan di Timur Tengah meningkat akibat serangan yang dilakukan oleh AS terhadap wilayah Iran di Selat Hormuz. Tindakan ini kemudian dibalas oleh Iran dengan melancarkan serangan balasan terhadap sekutu-sekutu AS di kawasan tersebut, seperti di Kuwait dan Uni Emirat Arab, yang secara otomatis meningkatkan eskalasi ketegangan.

“Ini yang akan membuat peperangan di Timur Tengah, terutama di Selat Hormuz akan semakin memanas,” tegas Ibrahim.

Selain itu, Israel juga terus melanjutkan ekspansi wilayahnya di Gaza Palestina dan Libanon Selatan. Tindakan ini menuai kecaman dari berbagai pihak, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), AS, dan Iran. Iran merasa bahwa sekutunya sedang mengalami kesulitan, sehingga ada kemungkinan Iran akan melakukan serangan balasan terhadap Israel.

“Nah, dari informasi itu membuat Dolar menguat, kemudian harga minyak juga naik,” imbuhnya.

Faktor kedua yang turut memengaruhi adalah kebijakan The Fed. Ibrahim menyebutkan bahwa data tenaga kerja di AS yang menunjukkan kenaikan signifikan pada minggu lalu, kemungkinan besar akan membuat The Fed mempertahankan suku bunga acuannya pada level tinggi. Bahkan, ada potensi The Fed akan kembali menaikkan suku bunga satu kali pada kuartal IV-2026.

“Artinya, kebijakan suku bunga rendah kemungkinan besar tidak akan terjadi dan Trump juga tidak akan melakukan intervensi atas kebijakan The Fed. Karena inflasi yang cukup tinggi membuat kebijakan Bank Sentral Global ini akan mempertahankan suku bunga dan menaikkan suku bunga,” jelasnya.

Kondisi ini secara umum memberikan tekanan pada mata uang emerging market, termasuk Rupiah, karena menguatnya Dolar AS dan tingginya imbal hasil aset di negara maju.

Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah gejolak pasar global. Namun, tantangan yang dihadapi semakin kompleks akibat faktor-faktor eksternal seperti ketegangan geopolitik dan kebijakan moneter bank sentral negara-negara maju.

Sebelumnya, data cadangan devisa (Cadev) Indonesia pada akhir Mei 2026 dilaporkan mengalami penurunan. Bank Indonesia mencatat jumlah cadangan devisa tercatat sebesar US$144,9 miliar, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk intervensi BI untuk menjaga stabilitas Rupiah, pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta dampak dari aliran keluar modal asing.

Kondisi ini menunjukkan perlunya kewaspadaan dari berbagai pihak, baik pemerintah, pelaku usaha, maupun masyarakat, dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global yang terus berlanjut.